Sunday, March 18, 2007

Gadget , a gap generation

Sekarang ini notebook sudah tidak mahal lagi, banyak yang bisa dibeli dengan harga dibawah 10 juta rp. Pada beberapa kelompok profesi, notebook adalah sebuah kebutuhan. Selain itu ada MP3 player, kamera digital dan HP, maka lengkaplah peralatan cyber generation. Aku yang sejak kecil tertarik dengan benda-benada elektronik dengan mudahnya terserang demam gadget ini. Mulai dengan PC yang paling canggih dahulu, hanya memerlukan waktu 3 tahun sampai aku merelakan tabunganku untuk membeli sebuah laptop yang berharga setara dengan sebuah sepeda motor. Bagiku dibandingkan dengan kendaraan bermotor atau kepemilikan rumah, aku dengan mudah membelanjakan uangku untuk gadget. Walhasil, saat ini kehidupanku dilengkapi dengan sejumlah gadget. Masih belum terlalu advance karena belum mampu membelinya, cukup yang kemampuan menengah saja, tetapi masih bisa memenuhi kebutuhanku.

Ternyata gadget ini menjadi gap antara generasi senior dan generasi dibawahnya. Kemarin aku ngobrol dengan kenalanku yang cukup berumur dan sudah punya anak remaja. Bapak P bilang, "dasar anak muda sekarang, cuma minta dibelikan satu barang saja, laptop" Trus beliau tanya, "anda juga kan? Apa saja yang punya, saya lihat ada external hard disk?" Hahaha, aku bilang sama bapak P bahwa external harddisk menghemat tempat dan bawaanku jadi ga terlalu berat. Dan aku dimasukkan sama bapak dan Ibu P sebagai generasi muda sekarang. Hahahaha...

Monday, March 05, 2007

THE GOLDEN TICKET

Dalam audisi American Idol yang diincar orang adalah Golden ticket ke Hollywood. Tetapi Golden ticket bukanlah berarti orang itu sudah mendapat jaminan akan piala kemenangan. Golden ticket hanyalah langkah pertama menuju kemenangan yang tadinya kita inginkan. Sangat menarik saat melihat reaksi orang untuk bisa mendapatkan Golden ticket itu dalam audisi. Mulai dari orang yang bermohon-mohon sampai yang memaki-maki jika tidak mendapatkan approval bahwa penampilannya layak.

Dalam kehidupan banyak sekali kita menemukan peristiwa dimana setiap orang berlomba-lomba untuk mendapatkan Golden Ticket. Misalnya pada usia tertentu biasanya perempuan menjadi panik jika masih belum mendapat jodoh dan segala cara dan upaya diusahakan untuk bisa menikah, hanya untuk menghindari dirinya dilabel sebagai tidak laku, jomblo dllsb. Kalau dipikir-pikir maka pernikahan adalah Golden Ticket menuju kebahagiaan. Pernikahan barulah langkah pertama tetapi untuk mencapai kebahagiaan masih jauh dari itu. Cacian dan makian juri, sms penonton dan latihan untuk mencapai performa yang baik harus dilewati sebelum bisa menggapai kemenangan.

Saat ini banyak sekali temanku yang sedang dalam proses bercerai setelah mengupayakan pernikahan apa adanya. Kadang aku berpikir layak atau tidak untuk memperebutkan Golden ticket itu? Tentu saja layak, karena saat orang tidak mengikuti audisi itu maka kesempatan untuk menang tentu saja nol. Tetapi jika mengikuti audisi maka tetap akan ada kemungkinan untuk menang. Sesedikit apapun juga.
Tetapi pemikiran filosofisku kadang-kadang berpikir apakah akan ada artinya menikah hanya untuk menyenangkan orang lain. Tidak bolehkah kita sedikit egois dan benar-benar menunggu waktu yang tepat sampai datang orang yang tepat. Kehidupan itu memang aneh dan semakin aku merasa mengerti semakin aku tidak mengerti arti kehidupan ini. Demikian juga dengan cinta semakin dikejar semakin lari menjauh, tetapi saat kita berusaha realistis dan tidak peduli, maka orang-orang di sekelilingmu selalu mengingatkan untuk tidak putus asa. Apakah mereka benar-benar tidak tahu perbedaan antara putus asa dan realistis?