Kukatakan pada sobatku bahwa aku akan investasi besar2an pada internet dan PLN seandainya aku menjadi salah satu pemimpin. Kalau perlu hutang LN dulu. Internetnya tidak perlu berbasis microsoft krn harus bayar, pakai yg open source aja. Tapi yang terpenting adalah anti virus corporate dan dipasang filter ke situs2 yg ga jelas.
Setelah itu semua laporan harus dikirimkan by email ke pusat. Dan orang pusat harus diam dan melakukan analisa data, bukannya jalan-jalan. Ini akan memotong anggaran besar di bidang traveling. Keduanya jika akan travel di setiap departemen hanya bisa melakukannya dengan menggunakan tiket online, dan pembayarannya melalui internet banking. Pasti susah deh untuk diakalin, and ga ada biaya transportasi juga bukan?
Bakalan mahal dalam pengadaan kompie? Pastinya tidak, karena sekarang saja sudah sukar kita mencari mesin tik manual di kantor pemerintah. Takut datanya dibobol? pakai enkripsi saja kan, dan tidak perlu semua data disharing, cukup data2 tertentu yang tidak sensitive. Untuk ini, silahkan lakukan studi banding, misalnya ke pentagon, untuk keamanan data. Kurasa orang ITB dan bagian kriminal UI lebih dari mampu dalam mengelola data internet ini.
Bagian kedua dari komputerisasi ini adalah Security number. Semua orang diatas usia 18 tahun mendapat security number. Tetapi jangan lupakan online akta kelahiran, berarti disetiap sarana kesehatan yang online, mereka langsung melaporkan bayi baru lahir. Jika ada yang terlewat, maka didatabase ulang saat pelayanan posyandu atau di level pendidikan dasar, saat masuk SD.
Alasan sulitnya membuat data base, karena jumlah penduduk yang banyak adalah alasan yang ga lucu. Pakai aja data untuk pemilu yang secara berangsur diperbaiki. Aku yakin jika sudah bisa melakukan managemen data penduduk yang baik maka akan ada perubahan dalam membuat perencanaan kegiatan. Sebenarnya Indonesia bisa melakukan hal itu. Sayang sekelompok pemimpin hanya memikirkan proyek2 yang menghabisakan uang untuk dana kerja mereka dibandingkan mengefisiensikan dana yang ada.
Thursday, July 31, 2008
Monday, July 28, 2008
Definisi Barang Second
Shopping expedition terakhir dengan dandanan aneh. Kalau cewek2 lain masuk mal dengan sendal2 dan sepatu yang fancy, tas tenteng branded edisi terbaru, dan baju2 feminin, maka aku dengan cueknya masuk sambil menggendong ransel segede bagong. Yee, mau gimana lagi, tujuan utama expedisi ini kan untuk mendandani Sebastianku. Terpaksalah kugendong dalam ransel daripada reffffffffffoooooooot.
Singkat kata kita memilih eStore di Ratu Plaza, lebih nyaman bagiku karena belinya di sini dulu. Setelah urusanku beres, giliran temanku yang konsul sama teknisi di sana. Dia minta diupgrade dan agar di laptopnya bisa pakai account dengan namannya.
Saat ditanya riwayat belinya, temenku bilang "iya, yang saya beli kan barang displaynya di xxx, jadi accountnya masih nama toko itu, dan CD installernya ga tahu dimana"
Si teknisi dengan wajah polos ngomong, " yah ibu, kenapa beli barang second, mending beli dari yang jual butuh"
Kontan muka temenku kayak balon kempes... hihihi, dan dia ngeles,
"itu bukan barang second, tapi display dan didiskon 10%"
"tapi kan sudah dipakai? Ya itu namanya barang second" si teknisi keukeuh dengan definisinya.
Weeks, muka temenku udah kayak orang mau nangis aja tuh, dibilang barang second~barang second. Aku langsung becandain aja teknisinya " Ya, kamu jahat... liat tuh temenku mau nangis, jahat~"
Si teknisi langsung sadar, "eh, bukan begitu maksudnya"
Hihihi... cair deh suasana. Dan sumpah, aku ga berani ngomong2 yang menjurus ke barang second.
Ada-ada aja. Perempuan memang suka gaptek. Aku inget satu nasehat, kalau ga ngerti kompu saat belanja kompu ajak temen yang ngerti. Kebayang kan gara2 diskon 10% kurang lebih sejuta aja, tapi dapat barang yang dikatagorikan second. Atau mestinya saat itu langsung ganti nama aja.
Singkat kata kita memilih eStore di Ratu Plaza, lebih nyaman bagiku karena belinya di sini dulu. Setelah urusanku beres, giliran temanku yang konsul sama teknisi di sana. Dia minta diupgrade dan agar di laptopnya bisa pakai account dengan namannya.
Saat ditanya riwayat belinya, temenku bilang "iya, yang saya beli kan barang displaynya di xxx, jadi accountnya masih nama toko itu, dan CD installernya ga tahu dimana"
Si teknisi dengan wajah polos ngomong, " yah ibu, kenapa beli barang second, mending beli dari yang jual butuh"
Kontan muka temenku kayak balon kempes... hihihi, dan dia ngeles,
"itu bukan barang second, tapi display dan didiskon 10%"
"tapi kan sudah dipakai? Ya itu namanya barang second" si teknisi keukeuh dengan definisinya.
Weeks, muka temenku udah kayak orang mau nangis aja tuh, dibilang barang second~barang second. Aku langsung becandain aja teknisinya " Ya, kamu jahat... liat tuh temenku mau nangis, jahat~"
Si teknisi langsung sadar, "eh, bukan begitu maksudnya"
Hihihi... cair deh suasana. Dan sumpah, aku ga berani ngomong2 yang menjurus ke barang second.
Ada-ada aja. Perempuan memang suka gaptek. Aku inget satu nasehat, kalau ga ngerti kompu saat belanja kompu ajak temen yang ngerti. Kebayang kan gara2 diskon 10% kurang lebih sejuta aja, tapi dapat barang yang dikatagorikan second. Atau mestinya saat itu langsung ganti nama aja.
Wednesday, July 23, 2008
Menularkan virus MUSASHI
Achievement teranyar: menularkan virus Musashi pada teman kerjaku minggu ini. Minggu ini memang tidak padat kegiatan, tapi temanku itu adalah anggota tim yang hadir paling pagi setiap hari. Dia memang bukan penggemar tidur dan tidak memerlukan 8 jam dalam dekapan dewa morpheus untuk stay and alive. Tapi pagi ini ada sedikit perubahan ritual, dia datang lebih lambat dariku. Kok terlambat? Tanyaku. Musashi jawabnya….huahahahahaha… meledaklah tawaku.
Setelah minggu lalu aku mendisiplinkan diri untuk menonton HANYA 3 episode permalam, perkecualian hari sabtu dan minggu, agar tidak terlambat dan mengganggu aktivitas kantor. 2 hari yang lalu kuberikan segepok CD padanya. “Tontonlah, kamu pasti akan suka. Pemeran Musashinya hebat, belum lagi ceritanya yang sangat strict dengan novel Eiji Yoshikawa” adalah promosiku padanya. Dan ternyata terbukti, semalam setelah mulai sampai pagi ini masuk kantor dia sudah menghabiskan 12 episode.
Dan pagi ini sekian puluh menit habis untuk membandingkan adegan yang sama-sama kami suka. Ah Musashi, ah Ichikawa Ebizo, walaupun 5 tahun sudah berlalu dari tayangan perdananya tetap mampu memukau bagi penontonnya. Sepertinya karya ini bisa menjadi salah satu film klasik.
Setelah minggu lalu aku mendisiplinkan diri untuk menonton HANYA 3 episode permalam, perkecualian hari sabtu dan minggu, agar tidak terlambat dan mengganggu aktivitas kantor. 2 hari yang lalu kuberikan segepok CD padanya. “Tontonlah, kamu pasti akan suka. Pemeran Musashinya hebat, belum lagi ceritanya yang sangat strict dengan novel Eiji Yoshikawa” adalah promosiku padanya. Dan ternyata terbukti, semalam setelah mulai sampai pagi ini masuk kantor dia sudah menghabiskan 12 episode.
Dan pagi ini sekian puluh menit habis untuk membandingkan adegan yang sama-sama kami suka. Ah Musashi, ah Ichikawa Ebizo, walaupun 5 tahun sudah berlalu dari tayangan perdananya tetap mampu memukau bagi penontonnya. Sepertinya karya ini bisa menjadi salah satu film klasik.
Subscribe to:
Posts (Atom)

