Sunday, August 31, 2008

Mestinya Internet masuk ke dalam 10 kebutuhan pokok

Internet seharusnya dimasukan kedalam 10 kebutuhan pokok. Jadi harus tersedia diseluruh pelosok indonesia. Manusia abad ini kan tidak bisa hidup hanya sekedar tercukupi kebutuhan sandang, pangan dan papan saja bukan?

Internet diperlukan untuk menunjang kesehatan jiwa manusia. Sebagai tempat untuk curhat, membuat jaringan pertemanan dengan orang lain, pemesanan barang, sumber bacaan. Nah kalau hilang timbul seperti sekarang ini, jelas akan membuat banyak manusia menjadi sensitif karena jengkel mesti melakukan refresh berulang-ulang. Jadi pemerintah harus menjamin keberadaan internet sebagai prioritas utama, lebih baik lagi jika bukan dial-up tetapi wi-fi.

Dengan menyediakan internet dimana-mana juga akan bisa mendongkrak angka melek huruf. Karena hanya orang melek huruf saja yang akan bisa menggunakan internet. BTW, di daerah terpencil Indonesia masih banyak lho orang yang tidak bisa membaca, atau membaca dengan kecepatan kura-kura berjalan. Artinya upaya mengkodekan huruf menjadi kata dan bahasa tidak berjalan lancar.

Hah, betapa bahagianya manusia yang hidup di negara maju, yang bisa menikmati jaringan internet dengan kecepatan tinggi. Klak-klik-klak-klik dapatlah data yang dibutuhkan.

Mungkin ide ini terlalu freak untuk pengatur negri yang seharusnya kaya ini. Memang seh gap teknologi membuat banyak orang yang phobia dengan teknologi terkini dan membuat mereka menjadi over paranoid, di lain pihak masih banyak orang-orang iseng yang memiliki pemahaman komputer sebagai ladang tempat penipuannya. Tapi bukan alasan untuk tidak mendukung internet masuk desa.
Gyahahahahaha.

Saturday, August 30, 2008

Puasa ke dua di pulau rempah-rempah

Marhabban ya Ramadhan...! Begitu salam orang-orang selama ini. Lewat sms maupun email. Dan kepribadian sinisku muncul, tuluskah yang ucapan mereka itu. Ah, kapan bisa kuhapus sisi jiwaku satu itu the sinister?

Yah puasa lagi, kembali mencoba purifikasi jiwa kotorku, membilas keangkuhanku, mencoba menikmatinya sesufistik mungkin. Halah bahasanya. Walaupun cacing diperutku sudah mulai memikirkan bagaimana caranya mendapatkan pasokan nutrisi yang enak dan bukan sekedar disumpel biskuit atau indomi. Yaiks, cacing lagi kena fitnah.

Yup dengan keterbatasan piranti keras untuk memasak, aku sepenuhnya harus menggantungkan diri dengan keberadaan warung2 dan resto2 yang ga jelas jadwal bukanya. Maklumlah, sebagian besar pengusaha makanan K5 maupun warteg adalah pendatang dari P. Jawa dan pulau lainnya, sehingga setelah cukup menabung dalam 11 bulan, ramadhan merupakan kesempatan mereka untuk mudik. Toh siang hari mereka tidak bisa berusaha, lebih baik libur saja bukan?

Jadi, selamat menikmati lagi menu yang tidak jelas, tergantung mood hati ini mau makan seperti apa. Kapan ya aku akan menikmati lagi puasa dengan makanan rumah yang fresh dan tidak sahur sendirian lagi? Hm, konsekwensi dari kerja mengikuti kata hati. Nikmati sajalah.

Marhabban ya Ramadhan... mudah2an tahun ini aku mampu mencuci jiwaku sebersih-bersihnya.

Tuesday, August 26, 2008

Fatwa haram untuk rokok?

Rokok dan pria Indonesia seolah-olah tak terpisahkan. Tak kurang banyaknya bapak-bapak dengan mulut terselip batangan rokok meminta surat keringanan untuk biaya berobat. Padahal seandainya dikoleksi uang tersebut untuk satu bulan bisa terkumpul jumlah yang tidak sedikit. Belum lagi sopan-santun para perokok yang merasa menjadi pemilik negara ini, dengan gaya diraja menghembuskan asap rokoknya dimana-mana, bahkan di ruang berAC.

Apa enaknya merokok? Yup, aku bisa bilang merokok tidak ada enaknya karena sudah kucicipi dari yang light sampai full nikotin. Hasilnya tenggorokanku serak dan pita suaraku lumpuh, mataku memerah, jariku berwarna kuning dan badanku dipenuhi bau asap.

Tetapi tentu saja anjuran untuk mengharamkan rokok akan ditentang habis-habisan. Semua dalil akan keluar dan senjata paling efektif adalah "tidak boleh mengharamkan barang yang halal" dan satu argumen yang diajukan oleh asosiasi para perokok di Indonesia "bagaimana nasib para buruh rokok jika pabriknya ditutup?"

Ya, mereka begitu peduli dengan para buruh pabrik rokok. Wow, begitu luhurnya para perokok tersebut. Sementara di lain fakta bahwa banyak balita di Indonesia yang meninggal dunia karena ISPA dan tidak sedikit yang menderita penyakit saluran nafas kronis. Juga sudah ada korelasi antara BBLR dengan ibu yang perokok pasif. Selain itu juga kematian karena emfisema yang diderita oleh para perokok kronis ini juga tidak sedikit.

Ok, fair saja bahwa dalam Islam rokok bukan barang haram. Tetapi promosi besar-besaran rokok di kalangan remaja dan pencitraan rokok sebagai sarana gaul yang gila-gilaan, bukanlah hal yang tepat untuk terus mendapatkan support. Menurutku yang paling tepat adalah mengharamkan promosi rokok di semua ajang yang dihadiri kelompok usia anak, per definisi kurang dari 18 tahun. Juga mengharamkan promosi rokok di semua sarana olahraga dan televisi di semua jam tayang. Gimana jika promosinya yang diharamkan? Apakah MUI bersedia? Secara... sebagian besar ulama di Indonesia juga perokok....