Tuesday, December 12, 2006

Kapal Pecah

“Kapal Pecah” adalah istilah yang biasa dilabelkan oleh ibu dan nenekku jika melihat isi kamarku. Tidak heran sih dengan barangku yang berantakan dimana-mana. Ketidakmampuanku mengorganisir keadaan kamarku bahkan berlanjut sampai ke meja kerjaku. Dengan tumpukan semua kertas-kertas dan referensi yang ada keadaan mejaku lebih mirip dengan meja di kantor-kantor kelurahan dan desa. Bertumpukan segala macam file, yang walaupun lengkap akan memerlukan waktu lama mencarinya. Ketidakmampuanku ini bahkan sering membuat aku frustasi, karena tidak peduli berapa besarpun ruangan yang aku miliki aku selalu sanggup membuatnya berantakan. Termasuk penyusunan file di external hardisk.

Aku hanya berpikir apakah keadaan di luar itu menggambarkan cara berpikirku juga, karena seringkali laporan-laporanku selalu tampak seperti seperti tulisan yang penuh dengan flight of ideas. Ide-ide melintas begitu cepatnya di otakku, lebih cepat dari kemampuan tanganku mengetik atau menuliskannya dalam rangkaian kata. Sehingga saat menyusun laporan atau proposal aku bermimpi punya alat yang semacam USB yang bisa ditancapkan ke otakku dan cukup hanya membayangkan saja aku akan mampu untuk memasukkan ide itu ke dalam tulisan.

Aku sering iri melihat tulisan teman-temanku yang tersusun rapi dan mudah dimengerti. Menurutku selain bakat yang tinggi mereka memang mempunyai kapasitas berpikr yang terorganisir. Entah belahan otak sebelah mana di kepalaku yang membuat cara berpikirku menjadi sangat ruwet. Untungnya aku punya hobbi untuk menulis diari dan kalau melihat tulisanku di masa lalu aku bisa terbahak-bahak geli sendiri. Dan sekarang dengan keberadaan blog aku punya sarana terapi agar bisa menulis dengan rapi, tersusun dan terorganisir.
Sekarang ini kamarku, meja tulisku masih menjadi kapal pecah, yang sepertinya tidak mungkin lagi diperbaiki kecuali dengan sering-sering merapikannya. Tetapi aku berharap tulisanku sudah mengalami perbaikan kualitas. Semoga saja.

Sunday, December 10, 2006

Topeng Monyet

Seperti biasa di perempatan dekat blok m plaza selalu memakan waktu lama menunggu lampu berganti ke warna hijau. Tidak heran kalau para pengamen sangat senang untuk mangkal di sini. Bisa sampai 2 rombongan pengamen masuk dan melakukan performance tanpa metromininya beranjak pergi. Hukum ekonomi berlaku di sini, recehan yang kuberikan semakin sedikit nominalnya karena harus memberikan beberapa kali.

Sabtu sore metromini yang kutumpangi tidak terlalu padat, demikian juga dengan jalannannya. Melalui jendela aku melihat rombongan topeng monyet yang tampaknya bermaksud beristirahat di depan bank di pojokan jalan itu. Walaupun sudah jam 4 sore tapi sinar matahari masih terasa menyengat, tidak heran kalau mereka memilih keteduhan pohon di depan bank untuk duduk sejenak. Salah satu kru topeng monyet tampak memegangi rantai panjang dan sang monyet berjalan di depannya. Aku hitung 5 orang rombongan itu ditambah satu monyet yang menggenapkan jumlahnya menjadi 6.

Jauh di lubuk hatiku terasa tikaman kecil terhadap perlakuan manusia pada hewan. Manusia-manusia yang tidak beruntung dalam masalah rejeki, tapi haruskan memperbudak hewan hanya untuk memenuhi kehidupan mereka. Dalam pikiranku berkilasan bayangan siamang-siamang dan monyet-monyet yang bergelantungan riang dari pohon ke pohon di hutan. Sedangkan monyet itu terampas kebebasannya dan menjadi budak manusia
Bapak yang memegang rantai monyet itu kemudian duduk dan…. Tak diduga-duga melepaskan rantai panjang yang selama ini mengikat monyet. Sang monyet pun ikut duduk beristirahat… si bapak membelai monyetnya seolah ingin mengobati kepegalan monyet itu. Tanpa terasa mulutku tersenyum, karena monyet itu langsung merebahkan dirinya, seperti sangat kecapekan, perutnya digelitiki majikannya dengan penuh sayang. Senyumku makin melebar tak dapat kutahan lagi, syukurlah ternyata monyet itu masih mendapat perlakuan manusiawi. Sayang aku tak membawa kameraku sehingga tidak bisa mengabadikan pemandangan itu dalam foto, tetapi dalam kenanganku akan selalu ada bayangan bahwa manusia di Indonesia ternyata ada yang masih berhati nurani, bahkan pada mahluk yang dia kuasai.


Seperti biasa hal-hal yang menyentuh nurani masih dilakukan oleh masyarakat kecil dan bukan oleh para petinggi. Sayangnya kelompok elit (petinggi atau orang-orang mampu) di republik ini bahkan sudah tidak punya hati nurani kepada sesamanya manusia yang tidak beruntung dalam posisi maupun kekayaan. Apakah ada majikan yang mau memijati pembantunya di malam hari atau pemilik pabrik yang mau memberikan waktu cuti lebih lama kepada buruh pabriknya? Atau majikan kepada orang-orang gajiannya? Atau pejabat-pejabat eselon tinggi yang akan melayani masyarakat dan bukan hanya ingin dilayani saja. Boro-boro, di republik ini manusia yang memangsa manusia lain sudah tak terhitung lagi banyaknya. Kapan mereka akan sadar bahwa dunia pasti akan berakhir dan kekayaan maupun jabatan bisa menjadi beban di hari pengadilan nantinya jika digunakan tidak semestinya.