Saturday, April 25, 2009

Jari-jari menari

Salah satu tes kalau mau jadi sekretaris adalah kemampuan mengetik berapa kata/huruf per menit. Apakah sekarang masih menjadi persyaratan ga ya? Kalau diukur mungkin kecepatan mengetik saat ini bisa lebih cepat dari jaman dahulu. Keyboard kompie kan ga seberat tust mesin tik. 

Buat mereka yang pernah merasakan mesin tik pasti mengerti apa yang disebut dengan mengetik 11 (sebelas) jari, dimana kita akan menekan sekuat-kuatnya tust mesin tik itu supaya dia mau "nakol" pita mesin tik dan menciptakan huruf disana, dengan hanya menggunakan kedua jari telunjuk kita saja. Dan yang paling menyebalkan jika sudah salah tik, makanya jaman dulu tip-ex laku keras, kalau sekarang mungkin sudah kurang laku, karena hanya dipakai untuk mengkoreksi tulisan. Mungkin tidak lama lagi tip-ex akan tinggal menjadi barang kenangan saja.

Kalau melihat film-film Holywood yg berlokasi di ruang sidang, biasanya ada notulen yang tangannya bergerak sesuai dengan kecepatan mulut bicara. Dulu saya kagum sekali dengan mereka, kok bisa ya? Makanya di jaman SMP pada pelajaran ketrampilan pernah juga sih diajarkan cara mengetik 10 jari, dimana semua jari kita berfungsi di tempat yang tepat. Jangan tanya bagaimana cara menghafalnya, karena saya hanya bisa mendapat nilai pas saja untuk tidak merah. Masalahnya jari manis dan jari kelingking saya kekuatannya sangat lemah, jadi ga mungkin mampu menekan tust mesin tik itu.

Masalah hilang setelah kompie mulai menjadi sahabat saya. Bahkan sekarang udah bisa lho ngetik tanpa harus melihat keyboardnya lagi. Asal menggunakan laptop atau kompie yg familiar. Walaupun letak huruf QWERTY sama di semua keyboard, tapi jarak antara tust nya kadang berbeda yang membuat perkiraan jarak jari meleset. Apalagi kalau menggunakan laptop EEE, ampun dah, rapat banget... hampir dipastikan akan membuat saya frustasi kalau harus mengetik di tempat gelap. Yang paling ideal adalah keyboard macbook, karena jaraknya lumayan, tapi dia tidak punya fungsi klik kanan seperti di laptop biasa. 

Dan sahabat terbaik jari jemari saya adalah Sebastian, the black cool mac book!


Thursday, April 23, 2009

French Style

Kalau habis pulang dari Jawa saya biasa bawa stock teh Dilmah, Buah-buahan atau Roti. Pengennya sih bawa kopi starbuck, tapi karena jadwal penerbangan kesini selalu tengah malam dan melalui terminal 1 pula, keinginan itu selalu terpendam di dalam hati. Terpaksalah memuaskan diri hanya dengan minum kopi instan nescafe, yg rasanya ga keruan itu.

Setelah tahu dengan French Press, mulai kepikiran untuk beli kopi bubuk dan menikmati kopi enak ala Perancis. Apalagi rumah ortu di Bandung, bego banget kalau ga punya stock kopi enak dengan harga ekonomis KOPI AROMA! Jadilah saat terakhir pulang kampung sengaja jalan ke Banceuy dan beli satu ons kopi (banyak lho) mana harganya hanya 10.500 karena beli yg jenis Robusta. Dan praktek di Ternate sini... Voila, jadilah secangkir kopi enak dan mantap....!

Kenikmatan kopi ini memang tiada duanya. Dan dibutuhkan "pengetahuan tinggi" (hehehe) untuk membawa sedikit kenyamanan ke pulau yang jauh dari kenyamanan yg ditawarkan Jakarta. Dan yang lebih penting lagi karena rasa oke dengan harga hemat. Sekarang tak lagi termimpi-mimpi atau kangen dengan kopi Starbuck, termasuk saat sedang di Jawa... Kopi racikan sendiri ternyata enak juga

Wednesday, April 22, 2009

HP yg bisa disentuh

Di kota/pulau ini, jati diri ditunjukkan dengan hp yg dipakai. Jadi yg dijual sebagian besar adalah HP canggih punya. Biarpun di sini ga ada 3G, tapi Nokia N series bukan barang yg sulit dilihat. Bahkan pernah juga ngeliat tante2 jalan dengan memakai blue tooth dan mengobrol urusan ga penting.

Sore ini aku lebih terkejut lagi, saat seorang ibu kenalanku menelpon, minta tolong disetting Black berrynya - gubraakkkk... perasaan tante satu itu ga punya email deh. 

Gini ngobrolnya:

" Hallo tante, ada apa nih?" saat aku menerima telponnya

" Ada dimana dek?" - and gw boong bilang lagi di luar kota

"....................kenapa memangnya tan?"

"Ini ... saya baru beli black berry bold, itu yg bisa DISENTUH...., nah kata si X (anaknya) suruh tanya adek aja, dan minta bantu disetting supaya bisa SMS sama X..., kLu bisa disetting ke bahasa indonesia aja!" 

Nah lho, BBB yg bisa disentuh katanya, huahahaha... baru ngeh setelah sedikit mikir ooo... screen touch toh? Dan buat dipakai SMS, omg-omg...

"Aduh, tante saya BB saya dulu disettingin sama yang jual, pake provider apa? Minta disetting aja ke providernya..."

"Pake simpati..." aku bengong, karena baru sadar, ternyata BB bisa ya pake simpati - astaga aku ga gaul banget. Selama ini kupikir cuma bisa pake Matrix atau Hallo atau XL yg langganan aja.

Bayangkan, aku beli BB justru untuk supaya bisa tracking email, klo nggak sih ngapain beli hp mahal2. Dibawah 2 juta jg udah lumayan oke buatku. Dan ini Black Berry Bold yg di jakarta aja seharga 8 juta keatas, cuma untuk dipakai telp dan sms-an... sayang banget featurenya banyak yang ga kepakai. Ga kebayang aja klo iphone udah mulai ngetop di Indonesia, mau diganti dengan iPhone? Menurutku daripada beli BBB mending si tante beli Nokia N71 misalnya. Tapi begitulah kenyataanya, yg penting klo dipake nelpon dan orang tanya bisa dijawab dong

"oh ini blekberi bold, yg bisa disentuh layarnya, mahal lho dijakarta aja udah 8 juta"

Dan aku ketawa sambil sirik hihihihihi

Monday, April 20, 2009

Legu Gam

Ada acara tradisional di Ternate yg namanya Legu Gam, artinya ...? Ga ada yg bisa menterjemahkan dengan jelas, mungkin karena yg aku tanya semuanya bukan orang asli sini, tapi pendatang yg sudah lama tinggal di Ternate. Tapi peristiwa ini adalah perayaan ulang tahun Sultan Ternate yg sekarang, Mudaffar Syah. Tahun ini dirayakan 2 minggu katanya, dengan biaya sebagian dari PEMDA, karena sudah dijadikan event lokal.

Sudah direncanakan dari awal minggu mau mantengin acara itu, tapi tahun ini juga masih belum menjadi keberuntunganku, karena mendadak dari pagi hujan turun deras banget. Nyuk, mana mau aku mengorbankan kameraku, jadi kubatalkan pergi nonton. Dan pagi ini di koran aku melihat foto acara pembukaannya. Heh...? Bagaimana bisa, bukannya hari itu hujan turun seharian? Temen sekantorku malah dengan terang-terangan menuduh pawang hujan sengaja meniup awan ke bagian kota tempat kami tinggal. Beuuu... klo tau begini....
mungkin aku bakalan paksakan aja keluar rumah hari itu.

Walaupun tidak sekeramat kesultanan Jogja, tapi mistis memang tetap melingkupi kesultanan Ternate ini. Misalnya ada mahkota raja yang harus dipotong rambutnya setahun sekali dengan upacara tertentu. Hiih... yg kayak gini mah emoh ngeliatnya. Katanya di mahkota itu ada rambutnya dan tetap tumbuh/hidup, sehingga setahun sekali mesti ada upacara potong rambut. Trus mahkota itu juga yg akan menentukan siapa Sultan berikutnya~ hehehe, sedikit mirip topi di sekolahnya Harry Potter deh~ yaitu dia yang pas memakai mahkota itu (ga melorot atau kekecilan-yg ini mirip dengan cinderella dan sepatu kacanya).

Trus Sultannya sendiri diyakini punya kemampuan magis. Bagi masyarakat asli ada kepercayaan bahwa sakit mereka sembuh kalau bisa melihat atau menjabat atau jika minum air yg sudah didoakan sultan. Ga mau comment lah, karena kepercayaan kayak gini bukan hanya menyerang warga ternate, tapi hampir di semua budaya di Indonesia. Kekuatan supra natural sultan inilah yg membuat Sultan Ternate unggul dibandingkan sultan2 lainnya di Maluku Utara. Di wilayah ini masih banyak sultannya lho, kesultanan Tidore, Jailolo dan Sula, and nantinya akan nyambung dengan masyarakat yg ada di wilayah prop Maluku. Tapi tetep yg paling ngetop adalah Sultan Ternate ini, sebelas-duabelaslah dengan Ponari, hehehe Nyuk, apa coba maksudnya?

Tapi mungkin sabtu depan cuaca bagus, dan aku akan coba2 datang ke sana, siapa tahu bisa hunting foto bagus, misalnya lagi ada acara Bambu Gila. Lumayan kan, bisa nyoba2 fungsi Zoom dari kameraku, dengan catatan tidak berada terlalu dekat dengan si Bambu, kecuali bersedia menanggung resiko kena sambit. Mudah-mudahan....