“Kapal Pecah” adalah istilah yang biasa dilabelkan oleh ibu dan nenekku jika melihat isi kamarku. Tidak heran sih dengan barangku yang berantakan dimana-mana. Ketidakmampuanku mengorganisir keadaan kamarku bahkan berlanjut sampai ke meja kerjaku. Dengan tumpukan semua kertas-kertas dan referensi yang ada keadaan mejaku lebih mirip dengan meja di kantor-kantor kelurahan dan desa. Bertumpukan segala macam file, yang walaupun lengkap akan memerlukan waktu lama mencarinya. Ketidakmampuanku ini bahkan sering membuat aku frustasi, karena tidak peduli berapa besarpun ruangan yang aku miliki aku selalu sanggup membuatnya berantakan. Termasuk penyusunan file di external hardisk.
Aku hanya berpikir apakah keadaan di luar itu menggambarkan cara berpikirku juga, karena seringkali laporan-laporanku selalu tampak seperti seperti tulisan yang penuh dengan flight of ideas. Ide-ide melintas begitu cepatnya di otakku, lebih cepat dari kemampuan tanganku mengetik atau menuliskannya dalam rangkaian kata. Sehingga saat menyusun laporan atau proposal aku bermimpi punya alat yang semacam USB yang bisa ditancapkan ke otakku dan cukup hanya membayangkan saja aku akan mampu untuk memasukkan ide itu ke dalam tulisan.
Aku sering iri melihat tulisan teman-temanku yang tersusun rapi dan mudah dimengerti. Menurutku selain bakat yang tinggi mereka memang mempunyai kapasitas berpikr yang terorganisir. Entah belahan otak sebelah mana di kepalaku yang membuat cara berpikirku menjadi sangat ruwet. Untungnya aku punya hobbi untuk menulis diari dan kalau melihat tulisanku di masa lalu aku bisa terbahak-bahak geli sendiri. Dan sekarang dengan keberadaan blog aku punya sarana terapi agar bisa menulis dengan rapi, tersusun dan terorganisir.
Sekarang ini kamarku, meja tulisku masih menjadi kapal pecah, yang sepertinya tidak mungkin lagi diperbaiki kecuali dengan sering-sering merapikannya. Tetapi aku berharap tulisanku sudah mengalami perbaikan kualitas. Semoga saja.
Tuesday, December 12, 2006
Sunday, December 10, 2006
Topeng Monyet
Seperti biasa di perempatan dekat blok m plaza selalu memakan waktu lama menunggu lampu berganti ke warna hijau. Tidak heran kalau para pengamen sangat senang untuk mangkal di sini. Bisa sampai 2 rombongan pengamen masuk dan melakukan performance tanpa metromininya beranjak pergi. Hukum ekonomi berlaku di sini, recehan yang kuberikan semakin sedikit nominalnya karena harus memberikan beberapa kali.
Sabtu sore metromini yang kutumpangi tidak terlalu padat, demikian juga dengan jalannannya. Melalui jendela aku melihat rombongan topeng monyet yang tampaknya bermaksud beristirahat di depan bank di pojokan jalan itu. Walaupun sudah jam 4 sore tapi sinar matahari masih terasa menyengat, tidak heran kalau mereka memilih keteduhan pohon di depan bank untuk duduk sejenak. Salah satu kru topeng monyet tampak memegangi rantai panjang dan sang monyet berjalan di depannya. Aku hitung 5 orang rombongan itu ditambah satu monyet yang menggenapkan jumlahnya menjadi 6.
Jauh di lubuk hatiku terasa tikaman kecil terhadap perlakuan manusia pada hewan. Manusia-manusia yang tidak beruntung dalam masalah rejeki, tapi haruskan memperbudak hewan hanya untuk memenuhi kehidupan mereka. Dalam pikiranku berkilasan bayangan siamang-siamang dan monyet-monyet yang bergelantungan riang dari pohon ke pohon di hutan. Sedangkan monyet itu terampas kebebasannya dan menjadi budak manusia
Bapak yang memegang rantai monyet itu kemudian duduk dan…. Tak diduga-duga melepaskan rantai panjang yang selama ini mengikat monyet. Sang monyet pun ikut duduk beristirahat… si bapak membelai monyetnya seolah ingin mengobati kepegalan monyet itu. Tanpa terasa mulutku tersenyum, karena monyet itu langsung merebahkan dirinya, seperti sangat kecapekan, perutnya digelitiki majikannya dengan penuh sayang. Senyumku makin melebar tak dapat kutahan lagi, syukurlah ternyata monyet itu masih mendapat perlakuan manusiawi. Sayang aku tak membawa kameraku sehingga tidak bisa mengabadikan pemandangan itu dalam foto, tetapi dalam kenanganku akan selalu ada bayangan bahwa manusia di Indonesia ternyata ada yang masih berhati nurani, bahkan pada mahluk yang dia kuasai.
Seperti biasa hal-hal yang menyentuh nurani masih dilakukan oleh masyarakat kecil dan bukan oleh para petinggi. Sayangnya kelompok elit (petinggi atau orang-orang mampu) di republik ini bahkan sudah tidak punya hati nurani kepada sesamanya manusia yang tidak beruntung dalam posisi maupun kekayaan. Apakah ada majikan yang mau memijati pembantunya di malam hari atau pemilik pabrik yang mau memberikan waktu cuti lebih lama kepada buruh pabriknya? Atau majikan kepada orang-orang gajiannya? Atau pejabat-pejabat eselon tinggi yang akan melayani masyarakat dan bukan hanya ingin dilayani saja. Boro-boro, di republik ini manusia yang memangsa manusia lain sudah tak terhitung lagi banyaknya. Kapan mereka akan sadar bahwa dunia pasti akan berakhir dan kekayaan maupun jabatan bisa menjadi beban di hari pengadilan nantinya jika digunakan tidak semestinya.
Sabtu sore metromini yang kutumpangi tidak terlalu padat, demikian juga dengan jalannannya. Melalui jendela aku melihat rombongan topeng monyet yang tampaknya bermaksud beristirahat di depan bank di pojokan jalan itu. Walaupun sudah jam 4 sore tapi sinar matahari masih terasa menyengat, tidak heran kalau mereka memilih keteduhan pohon di depan bank untuk duduk sejenak. Salah satu kru topeng monyet tampak memegangi rantai panjang dan sang monyet berjalan di depannya. Aku hitung 5 orang rombongan itu ditambah satu monyet yang menggenapkan jumlahnya menjadi 6.
Jauh di lubuk hatiku terasa tikaman kecil terhadap perlakuan manusia pada hewan. Manusia-manusia yang tidak beruntung dalam masalah rejeki, tapi haruskan memperbudak hewan hanya untuk memenuhi kehidupan mereka. Dalam pikiranku berkilasan bayangan siamang-siamang dan monyet-monyet yang bergelantungan riang dari pohon ke pohon di hutan. Sedangkan monyet itu terampas kebebasannya dan menjadi budak manusia
Bapak yang memegang rantai monyet itu kemudian duduk dan…. Tak diduga-duga melepaskan rantai panjang yang selama ini mengikat monyet. Sang monyet pun ikut duduk beristirahat… si bapak membelai monyetnya seolah ingin mengobati kepegalan monyet itu. Tanpa terasa mulutku tersenyum, karena monyet itu langsung merebahkan dirinya, seperti sangat kecapekan, perutnya digelitiki majikannya dengan penuh sayang. Senyumku makin melebar tak dapat kutahan lagi, syukurlah ternyata monyet itu masih mendapat perlakuan manusiawi. Sayang aku tak membawa kameraku sehingga tidak bisa mengabadikan pemandangan itu dalam foto, tetapi dalam kenanganku akan selalu ada bayangan bahwa manusia di Indonesia ternyata ada yang masih berhati nurani, bahkan pada mahluk yang dia kuasai.
Seperti biasa hal-hal yang menyentuh nurani masih dilakukan oleh masyarakat kecil dan bukan oleh para petinggi. Sayangnya kelompok elit (petinggi atau orang-orang mampu) di republik ini bahkan sudah tidak punya hati nurani kepada sesamanya manusia yang tidak beruntung dalam posisi maupun kekayaan. Apakah ada majikan yang mau memijati pembantunya di malam hari atau pemilik pabrik yang mau memberikan waktu cuti lebih lama kepada buruh pabriknya? Atau majikan kepada orang-orang gajiannya? Atau pejabat-pejabat eselon tinggi yang akan melayani masyarakat dan bukan hanya ingin dilayani saja. Boro-boro, di republik ini manusia yang memangsa manusia lain sudah tak terhitung lagi banyaknya. Kapan mereka akan sadar bahwa dunia pasti akan berakhir dan kekayaan maupun jabatan bisa menjadi beban di hari pengadilan nantinya jika digunakan tidak semestinya.
Sunday, November 26, 2006
JakJazz 2006
Jakjazz datang lagi, lumayan nih ada hiburan yang ok. Apalagi temenku nawarin tiket yang murah. Sebelumnya aku cuma baca aja tentang reportase JakJazz dan belum sempat nonton. Kebetulan ada kesempatan dan ada sedikit uang, mengapa tidak. Tiket untuk entrancenya sendiri sangat mahal, dan yang bagus-bagusnya dipasang malam sekali. Sampai ngantuk-ngantuk aku dengerinnya.
Ternyata klo mau nonton yang kalibernya Phil Perry mesti bayar tambahan. Payah banget sih. Kenapa ga bikin konser Phil Perry aja kayaknya ga seperti ketipu. Yah, mungkin entrance fee nya memang untuk menyaring pengunjung. Soalnya kalau ga disaring, takut ngebludak kali... tetapi sayang sekali performance sebagian band yang masih mudanya sangat standar. Sehingga ga meninggalkan kesan di hati. Dan sayangnya sebagian performance yang sempat aku liat adalah beraliran ke fussion, ga ada yg blues dll.
Sebenarnya sih aku lebih suka yang swing, blues. It's about the rythm, right? And the rythm will swayed your soul. So if your ear can't catch the rythm, what you called it?
Ternyata klo mau nonton yang kalibernya Phil Perry mesti bayar tambahan. Payah banget sih. Kenapa ga bikin konser Phil Perry aja kayaknya ga seperti ketipu. Yah, mungkin entrance fee nya memang untuk menyaring pengunjung. Soalnya kalau ga disaring, takut ngebludak kali... tetapi sayang sekali performance sebagian band yang masih mudanya sangat standar. Sehingga ga meninggalkan kesan di hati. Dan sayangnya sebagian performance yang sempat aku liat adalah beraliran ke fussion, ga ada yg blues dll.
Sebenarnya sih aku lebih suka yang swing, blues. It's about the rythm, right? And the rythm will swayed your soul. So if your ear can't catch the rythm, what you called it?
Friday, November 24, 2006
HP CDMA
Akhirnya dengan kehebatan tekhnologi aku bisa ngewarnet di mana saja. Cukup bermodal laptop dan telp CDMA... muaahhhh... I love my CDMA HP, because this gadget really help me much. hanya bermodal dikit di kamar kos ku yang sempit dan pengap ini aku sekarang bisa puas berseluncur di dunia maya. Lama juga sih memutuskan apakah aku akan membeli HP CDMA atau PDA. Tetapi rasanya lebih puas jika dengan HP CDMA ini.
Happy..happy sekali, senang rasanya!
Happy..happy sekali, senang rasanya!
Thursday, November 23, 2006
Ivanhoe

Ivanhoe, tokoh ksatria baju zirah yang pertama aku kenal. Jaman itu sepertinya adalah jaman yang romantis. Laki-laki berperang mempertahankan puri dan putri di dalamnya. Ada knight templar yang melakukan perang salib, atau the desperado macam ivanhoe. Waktu pertama kali membaca buku itu sempat bingung juga ksatria templar ini baik apa jahat sih. Tetapi dengan adanya the davinci code barulah paham tentang adanya polemik pro-kontra tentang ksatria templar. Ga ngaruhlah.
Walaupun yang kasihan sebenarnya Rebecca, hanya karena dia keturunan Jewish akhirnya keberadaan dia tidak berani diakui di public. Walaupun mungkin kenyataan inilah yang ingin ditonjolkan oleh sir Walter Scott bahwa ksatria terbaik seperti Ivanhoe sendiri tetap mempunyai sisi munafik, tidak bisa menunjukkan dimana cinta sebenarnya berada karena tuntutan masyarakat dan gengsi yang dimilikinya. Jadi masih adakah stock laki-laki yang bisa mencintai perempuannya dengan tulus dan tanpa mempedulikan pandangan sekitarnya? Tuhanku, bolehkah aku memintanya satu saja?
PACAR MERAH
Pacar Merah a.k.a The Scarlett Pimpernell adalah salah satu favoritku. Pertamanya bingung terhadap arti Pacar Merah, kukira pacar adalah boyfriend, padahal merujuk ke tanaman Pacar Merah. Kenapa mesti diterjemahkan Pacar Merah, karena Scarlett Pimpernel adalah bunga dari tumbuhan rumpun yang banyak terdapat di Inggris dan US. Jadi kalaupun ada pohon pacar tentunya bukan berarti scarlett pimpernell.
Pertama kali aku membacanya waktu SD dulu, adalah terjemahan dari versi yang sudah disingkat. Waktu itu Gramedia sengaja menterjemahkan banyak karya klasik dunia dalam versi singkat, ada di bawah brand seri Kancil (untuk anak-anak) dan seri Elang (untuk remaja). Dan waktu SMP aku menemukan versi aslinya di perpustakaan sekolah, dan dengan bersusah payah membaca versi bahasa Inggrisnya sampai tamat. Walaupun banyak kata-kata yang tidak aku mengerti. Buku ini sangat menarik karena bersetting revolusi perancis (salah satu masa dalam sejarah yang paling menarik bagiku karena merupakan dasar untuk demokrasi). Ceritanya sebenarnya ada sedikit kurang adil bagi perempuan, karena suaminya langsung menjudge marguerite bersalah tanpa mendengar cerita sebenarnya. Tapi, jaman itu kan perempuan di eropa pun masih subordinan. Apa daya.
Sampai saat ini aku masih belum berhasil mendapatkan buku aslinya, walaupun sudah hunting di berbagai toko di Indonesia. Dan tetap belum beruntung saat melakukan kunjungan singkat ke negaranya Percy Blakeney itu.
Pertama kali aku membacanya waktu SD dulu, adalah terjemahan dari versi yang sudah disingkat. Waktu itu Gramedia sengaja menterjemahkan banyak karya klasik dunia dalam versi singkat, ada di bawah brand seri Kancil (untuk anak-anak) dan seri Elang (untuk remaja). Dan waktu SMP aku menemukan versi aslinya di perpustakaan sekolah, dan dengan bersusah payah membaca versi bahasa Inggrisnya sampai tamat. Walaupun banyak kata-kata yang tidak aku mengerti. Buku ini sangat menarik karena bersetting revolusi perancis (salah satu masa dalam sejarah yang paling menarik bagiku karena merupakan dasar untuk demokrasi). Ceritanya sebenarnya ada sedikit kurang adil bagi perempuan, karena suaminya langsung menjudge marguerite bersalah tanpa mendengar cerita sebenarnya. Tapi, jaman itu kan perempuan di eropa pun masih subordinan. Apa daya.
Sampai saat ini aku masih belum berhasil mendapatkan buku aslinya, walaupun sudah hunting di berbagai toko di Indonesia. Dan tetap belum beruntung saat melakukan kunjungan singkat ke negaranya Percy Blakeney itu.
Thursday, November 16, 2006
PULANG
Harus pulang minggu ini, karena setumpuk surat dari bank yang tidak diketahui apa isinya sudah menanti di rumah. Technically aku sengaja memakai alamat ortuku menjadi alamat tetap, soalnya sampai detik ini belum kepikiran untuk mencari rumah untukku sendiri. Tetapi perkembangan akhir-akhir ini, mau tidak mau aku sudah harus memikirkan tempat untuk diriku. Tetapi keuangan belum memungkinkan. Heuu!
Lebih dari 2 minggu aku tidak menengok orangtuaku. Keegoisanku yang dulu kini hadir kembali. Aku tidak ingin merasa terikat dengan kewajiban kembali, dan sekarang adik-adikku sudah mulai merintis jalan mereka untuk mandiri menjadi manusia-manusia dewasa yang bertanggung jawab, rasanya aku seperti mendapatkan sayapku kembali yang dulu pernah patah.
Atau mungkin kakiku kini tumbuh sayap lagi. Seperti saat aku baru lulus sekolah dulu. Percaya ga percaya dengan primbon. Sejak dulu di kakiku ada tahi lalat kecil dan hitam. Nenekku bilang bahwa aku akan berjalan jauh dari rumah, harapanku nyaris musnah karena dari kecil sampai kuliah aku tetap berada di kota kelahiranku. Tetapi setelah kuliah dan WKS ternyata terbukti, karena sejak hari itu aku terbang jauh dari rumahku. Naik pesawat sudah tak terhitung kali, sebagian wilayah Indonesia sudah pernah kudatangi. Dan tidak pernah aku kerja di kota kelahiranku. Keadaan yang membuatku harus sering-sering menengok orangtuaku sungguh-sungguh menyekapku dalam kolam yang kecil, ajaibnya, tahilalat itupun mulai memudar warnanya. Sering aku menatapnya dan bertanya-tanya apakah akhirnya aku akan menetap dan tinggal di kota kelahiranku? Saat ini tahi lalat itu mulai berwarna lebih gelap lagi sejalan dengan kelegaan hatiku dengan kemandirian adikku. Langkahku menjadi ringan lagi, aku bisa kembali mengambil pekerjaan nun jauh disana. Maaf kalau ternyata kakiku selalu gatal dan tidak ingin beristirahat terlalu lama di suatu tempat, biarpun begitu aku pasti masih akan pulang walaupun tidak sering.
Lebih dari 2 minggu aku tidak menengok orangtuaku. Keegoisanku yang dulu kini hadir kembali. Aku tidak ingin merasa terikat dengan kewajiban kembali, dan sekarang adik-adikku sudah mulai merintis jalan mereka untuk mandiri menjadi manusia-manusia dewasa yang bertanggung jawab, rasanya aku seperti mendapatkan sayapku kembali yang dulu pernah patah.
Atau mungkin kakiku kini tumbuh sayap lagi. Seperti saat aku baru lulus sekolah dulu. Percaya ga percaya dengan primbon. Sejak dulu di kakiku ada tahi lalat kecil dan hitam. Nenekku bilang bahwa aku akan berjalan jauh dari rumah, harapanku nyaris musnah karena dari kecil sampai kuliah aku tetap berada di kota kelahiranku. Tetapi setelah kuliah dan WKS ternyata terbukti, karena sejak hari itu aku terbang jauh dari rumahku. Naik pesawat sudah tak terhitung kali, sebagian wilayah Indonesia sudah pernah kudatangi. Dan tidak pernah aku kerja di kota kelahiranku. Keadaan yang membuatku harus sering-sering menengok orangtuaku sungguh-sungguh menyekapku dalam kolam yang kecil, ajaibnya, tahilalat itupun mulai memudar warnanya. Sering aku menatapnya dan bertanya-tanya apakah akhirnya aku akan menetap dan tinggal di kota kelahiranku? Saat ini tahi lalat itu mulai berwarna lebih gelap lagi sejalan dengan kelegaan hatiku dengan kemandirian adikku. Langkahku menjadi ringan lagi, aku bisa kembali mengambil pekerjaan nun jauh disana. Maaf kalau ternyata kakiku selalu gatal dan tidak ingin beristirahat terlalu lama di suatu tempat, biarpun begitu aku pasti masih akan pulang walaupun tidak sering.
Monday, November 13, 2006
Sebelah kanan, please

Kita dijajah belanda selama 360 tahun tetapi untuk lalulintas malah mengadopsi sistem Inggris. Membuat aku sedikit nyaman kalau naik kendaraan di sana. Tadinya aku berpikir bahwa di London tidak akan ada kesemrawutan di jalan, tetapi sungguh lebih enak pakai underground dibandingkan ada di jalan raya. Pengalaman naik bis merah, udah lambat, diputer-puter lagi... huaduhhh! Mati gw. Naik underground memang cepet, kekurangannya hanya karena kita kudu naik tangga pada saat keluar/masuk. Ga masalah sih klo ga bawa barang, tapi dengan menggandeng koper yang beratnya ampun-ampunan lumayan juga sih. Tetapi orang di London ternyata jauh lebih bertoleransi sama orang lain, setiap kali liat kita ugal ugil dengan koper di tangga, suka ada yang nawarin bantuan. Coba di Indonesia, cuek aja tuh, toleransi gotong royong emang udah jadi lip service di Indo. Rasanya kita harus belajar banyak dari orang lain untuk sopan santun.
Satu hal lagi, di setiap escalator selalu ada tulisan, yang ga mau jalan tolong berderet di sebelah kanan dan berikan ruang lowong untuk orang yang mau cepat. otomatis kita jadi berdiri di kanan dan ga di tengah jalan jadinya... Kapan ya di kita bisa begitu?
Wednesday, October 04, 2006
Bosan..bosan bergembira!
Bosan deh rasanya segala sesuatu berjalan terlalu rutin. How about to throw out your job, and go travelling? Tercetus di dalam benakku... hmmm not bad. But I travelling a lot lately. How about travelling to hell? Whaaatttt? It's so hot there... or maybe freezing. Who said that hell will be hot?
I''m so boring, nuthing new in my life... Wow... !! what I talking about?
Nut..nut...nut...banana.. crazy!
I''m so boring, nuthing new in my life... Wow... !! what I talking about?
Nut..nut...nut...banana.. crazy!
Tuesday, September 26, 2006
Beda jalan
Aku membuka mataku, hmmm...hoaaahhhhmmm, menguap lagi, hari ini rasanya badanku masih belum pulih dari defisiensi tidur. Kulihat jam tanganku.. uuh baru jam 9 malam, tidak ada alasan untuk tidak mandi, mana badan lengket-lengket lagi. Kuseretlah kakiku ke kamar mandi.
Hmm, enyak..enyak..enyak, habis mandi memang enyak. Hmm, ada yang telp ga ya? Kutarik HP dari persembunyiannya di dalam ransel... OMG, banyak sekali yang telp! Klo seperti ini harus ditelp balik nih.
Aku: "Hai..hai, ada apa nih telp?"
Temenku: "Nggak, cuma pengen ngobrol aja."
bla..bla..bla dan terbongkarlah masalah yang dihadapinya. Temanku yang sedang kalut karena tiketnya belum di tangan. Padahal dia sudah akan berangkat sekitar 3 minggu lagi, dan belum bikin Visa lagi. setelah bla..bla..bla...
" Ya sudah, non, cek lagi besok ok? telpon aja orangnya atau kita tanya sama orang-orang yang lebih berwenang."
Hari ini masuk kantor aku kaget, karena tiketku yang notabene belum lengkap syaratnya sudah bisa dibook konfirm... hmmm, mungkin karena aku tidak mengharapkannya makanya tiketku jadi terasa cepat.
Mungkin tidak ada salahnya untuk bersabar dan memberi waktu pada staf untuk usaha, dibanding kita mengejar-ngejarnya dengan berbagai tuntutan sesegera mungkin. Tapi juga ada baiknya untuk selalu mengupdate perkembangan, dibandingkan aku yang selalu malas update... hah! manusia memang tidak sempurna. Tapi bisa jadi juga karena dia memang sedang dikerjain sama staf... mudah-mudahan tidak.
Hmm, enyak..enyak..enyak, habis mandi memang enyak. Hmm, ada yang telp ga ya? Kutarik HP dari persembunyiannya di dalam ransel... OMG, banyak sekali yang telp! Klo seperti ini harus ditelp balik nih.
Aku: "Hai..hai, ada apa nih telp?"
Temenku: "Nggak, cuma pengen ngobrol aja."
bla..bla..bla dan terbongkarlah masalah yang dihadapinya. Temanku yang sedang kalut karena tiketnya belum di tangan. Padahal dia sudah akan berangkat sekitar 3 minggu lagi, dan belum bikin Visa lagi. setelah bla..bla..bla...
" Ya sudah, non, cek lagi besok ok? telpon aja orangnya atau kita tanya sama orang-orang yang lebih berwenang."
Hari ini masuk kantor aku kaget, karena tiketku yang notabene belum lengkap syaratnya sudah bisa dibook konfirm... hmmm, mungkin karena aku tidak mengharapkannya makanya tiketku jadi terasa cepat.
Mungkin tidak ada salahnya untuk bersabar dan memberi waktu pada staf untuk usaha, dibanding kita mengejar-ngejarnya dengan berbagai tuntutan sesegera mungkin. Tapi juga ada baiknya untuk selalu mengupdate perkembangan, dibandingkan aku yang selalu malas update... hah! manusia memang tidak sempurna. Tapi bisa jadi juga karena dia memang sedang dikerjain sama staf... mudah-mudahan tidak.
Monday, September 25, 2006
Aku kan Boss
Suatu posisi, jabatan, orang terdekat dengan seseorang di dalam pekerjaan dan organisasi kadang-kadang dijadikan alasan untuk memperlihatkan kekuasaan pribadi. Hal-hal kecil dan remeh temeh seperti penggunaan line telpon dan lain-lain bisa menjadi satu hal yang diperebutkan. Menyebalkan!
Yang lebih keterlaluan lagi manakala pertimbangan kemanusiaan sudah hilang dari pemikiran tersebut karena seseorang merasa dekat dengan atasannya yang otoriter. Seperti yang baru-baru ini terjadi seorang bawahan yang menjadi kepercayaan atasan yang ekspatriat, tega menolak permintaan koleganya yang ingin meminjam mobil untuk kebutuhan kolega lain yang mendadak sakit. Yang orang sakit diminta untuk naik taksi sedangkan yang merasa menjadi atasan ingin langsung diantarkan pulang ke rumahnya. Seandainya atasan tersebut bijak atau bawahan itu welas asih kepada yang sakit aku yakin mereka akan mendapat pandangan lebih positif dari lingkungan yang banyak sudah tidak menyukai mereka. Apa salahnya sih pulang terlambat 10-15 menit tetapi bisa membantu orang sakit, daripada pulang tepat waktu tapi diiringi caci maki.
Catatan hati yang pegal melihat kelakuan pengikut ekspat yang tidak bijak.
Yang lebih keterlaluan lagi manakala pertimbangan kemanusiaan sudah hilang dari pemikiran tersebut karena seseorang merasa dekat dengan atasannya yang otoriter. Seperti yang baru-baru ini terjadi seorang bawahan yang menjadi kepercayaan atasan yang ekspatriat, tega menolak permintaan koleganya yang ingin meminjam mobil untuk kebutuhan kolega lain yang mendadak sakit. Yang orang sakit diminta untuk naik taksi sedangkan yang merasa menjadi atasan ingin langsung diantarkan pulang ke rumahnya. Seandainya atasan tersebut bijak atau bawahan itu welas asih kepada yang sakit aku yakin mereka akan mendapat pandangan lebih positif dari lingkungan yang banyak sudah tidak menyukai mereka. Apa salahnya sih pulang terlambat 10-15 menit tetapi bisa membantu orang sakit, daripada pulang tepat waktu tapi diiringi caci maki.
Catatan hati yang pegal melihat kelakuan pengikut ekspat yang tidak bijak.
Sunday, September 17, 2006
PATAH ARANG
Malam datang menjelang, angin bertiup dingin, dan bulan mati. Tiada lampu dan penerang jalan, dikelilingi oleh hutan. Saat kulihat jam tanganku waktu masih menunjukkan jam 9 malam, tetapi seakan-akan sudah ada ditengah malam. Kendaraan lain hanya muncul sekali-sekali. Pemandangan yang lumayan membuat miris saat melakukan perjalanan malam dari Kefa ke Kupang.
Kalau sudah begini siapa yang berani mengklaim bahwa keadilan dan kesejahteraan sudah merata di Indonesia. Padahal saat ini sudah hampir 8 th dari kejatuhan presiden kedua kita. Masyarakat dan aparat di Indonesia memang sudah jauh berjalan dari memikirkan sesamanya. Bolehkah aku mengatakan memyesal dilahirkan sebagai orang Indonesia, dan sudah kehilangan kebanggaan sebagai orang Indonesia.
Aku memang bukan patriot, atau chauvinistis yang mencintai negaranya membabi buta.
Kalau sudah begini siapa yang berani mengklaim bahwa keadilan dan kesejahteraan sudah merata di Indonesia. Padahal saat ini sudah hampir 8 th dari kejatuhan presiden kedua kita. Masyarakat dan aparat di Indonesia memang sudah jauh berjalan dari memikirkan sesamanya. Bolehkah aku mengatakan memyesal dilahirkan sebagai orang Indonesia, dan sudah kehilangan kebanggaan sebagai orang Indonesia.
Aku memang bukan patriot, atau chauvinistis yang mencintai negaranya membabi buta.
Wednesday, September 13, 2006
WI FI
Kalau memikirkan tentang kemajuan IT di Indonesia suka sedih sendiri. Notebook, PC dan accecories internet lain sangat mudah didapatkan di Indonesia, mulai yang type standar sampai yang advance pasti ada. Demikian juga dengan softwarenya, yang asli maupun yang bajakan berseliweran di indonesia (baca= pulau jawa). Tetapi sangat disayangkan bahwa hal itu hanya bisa dinikmati oleh sekelompok orang saja. Karena dasar dari semua teknologi itu harus terdukung dengan support sistem telekomunikasi. Padahal line telpon sangat mahal di Indonesia ini dan tidak di semua kota ada. Apalagi di luar jawa.
Tetapi di salah satu propinsi yang dikatakan miskin, tertinggal(dan istilah lain-lain yang kurang sedap didengar) yaitu NTT dengan ibukotanya Kupang, justru punya pikiran yang sangat maju. Di komplex Bapeda mereka telah memasang saluran internet wi fi. Sehingga jika kita ada di kompleks tersebut akan bisa browsing internet 24 jam, walaupun kecepatannya tidak terlalu cepat. Tetapi tetap bisa dipakai browsing dan download berbagai situs yang diperlukan untuk membuat referensi. Seandainnya bisa dimanfaatkan dengan maksimal, aku yakin propinsi ini akan mendapatkan kemajuan yang luar biasa dengan pemikirannya yang maju itu. Who know, just wait and see...
Psst... admin di Bapeda prop NTT ini membiarkan koneksi bebas, sehingga kita bisa browsing gratis... huehehehe... jarang-jarang bisa menikmati sarana pemerintah dengan gratis... Anggap amal sama masyarakat aja ya pak Kepala dan pak Gub!!!!
Tetapi di salah satu propinsi yang dikatakan miskin, tertinggal(dan istilah lain-lain yang kurang sedap didengar) yaitu NTT dengan ibukotanya Kupang, justru punya pikiran yang sangat maju. Di komplex Bapeda mereka telah memasang saluran internet wi fi. Sehingga jika kita ada di kompleks tersebut akan bisa browsing internet 24 jam, walaupun kecepatannya tidak terlalu cepat. Tetapi tetap bisa dipakai browsing dan download berbagai situs yang diperlukan untuk membuat referensi. Seandainnya bisa dimanfaatkan dengan maksimal, aku yakin propinsi ini akan mendapatkan kemajuan yang luar biasa dengan pemikirannya yang maju itu. Who know, just wait and see...
Psst... admin di Bapeda prop NTT ini membiarkan koneksi bebas, sehingga kita bisa browsing gratis... huehehehe... jarang-jarang bisa menikmati sarana pemerintah dengan gratis... Anggap amal sama masyarakat aja ya pak Kepala dan pak Gub!!!!
Sunday, September 03, 2006
Friday, September 01, 2006
CALVIN and HOBBES
Calvin is a very active boy. With his imagination the words and world seem to be a very interesting place. His imaginary friend called Hobbes is a cute tiger. The conversation between the two never failed making me laugh. Also help me to forget my worries. It seems that their comical way is created to cheers the world.
I love Calvin and Hobbes. His naughty and miscommunication with his parent is so brilliant. But then everything have price and Calvin always ended with a failed. Nobody will think a mother as a monster but Calvin did. And his father always frightened Calvin with a horrible hillarious tought.
Calvin’s idea always entertaint me and make me forget the misery. So I didn’t regret buy the book although the price is expensive enough.
I love Calvin and Hobbes. His naughty and miscommunication with his parent is so brilliant. But then everything have price and Calvin always ended with a failed. Nobody will think a mother as a monster but Calvin did. And his father always frightened Calvin with a horrible hillarious tought.
Calvin’s idea always entertaint me and make me forget the misery. So I didn’t regret buy the book although the price is expensive enough.
Thursday, August 31, 2006
Book stores, celana pendek dan gajiku
Saat ini Kinokuniya di Plaza Senayan adalah toko buku paling ok seindonesia. Design interiornya ok, buku2 nya tertata rapi dan cukup luas, bisa dikatakan paling lengkap deh. Sayang harganya juga selangit, sangat tidak memadai dengan situasi kantongku. Klo dibandingkan dengan gramedia jauh banget... untung jg ga paham bhs jepang, klo paham bisa-bisa duitku habis beli manga di Kino. Sekarang sih beli manga nya yg terjemahan aja di GM, itu juga udah mahal... rata-rata 11 rb.... hmmm... kapan gaji gw naik ya?
Celana pendek jeans lagi ngetrend... hooraaaayyyy... aku sudah punya 2 hihihi... enak banget deh. yg satu pipa sempit, yang satu pipa longgar... akhirnya mode kembali berpihak padaku... syukurlah... celana pendek adalah mode terbaik sedunia. Siapapun, umur berapapun, kecuali udah jadi nenek-nenek peot akan tetap bisa memakainya dengan santai dan nyaman. dan untunglah di Indonesia banyak jeans harga murah... sesuai dengan kantongku. Aku cukup puas dengan masalah celana pendek jeans...
Celana pendek jeans lagi ngetrend... hooraaaayyyy... aku sudah punya 2 hihihi... enak banget deh. yg satu pipa sempit, yang satu pipa longgar... akhirnya mode kembali berpihak padaku... syukurlah... celana pendek adalah mode terbaik sedunia. Siapapun, umur berapapun, kecuali udah jadi nenek-nenek peot akan tetap bisa memakainya dengan santai dan nyaman. dan untunglah di Indonesia banyak jeans harga murah... sesuai dengan kantongku. Aku cukup puas dengan masalah celana pendek jeans...
Wednesday, August 30, 2006
My Monster
Lurking around the dark corner a monster wacthing at me. It following me to every place I go. The monster called depression. Long time ago I realized that I have a manic depressive syndrome. When I get the sindrome then in a moment my feeling will in high elation but in the next moment will deep sinking in a pole of depression. But because I think that it's not in severe level yet, I always cancelled to go to a shrink.
Last year is better, i didn't have any depression episode. But deep inside me I know the monster is still there. Never vanished. I always worried when it will spring again. Yesterday, the monster started to active one more time. First, in the morning I feel helpless and empty, so I didn't go to work. I just out from my bedroom for bath, after that I hide myself in the bedroom and just read or played a computer game. It's not a lazy behavior, but a condition. I have no power to command my brain and body to do a constructive activity. This morning the condition is better but still I must push myself harder to go. Such an illness. Where will it recover or I should burden with that all my life.
Last year is better, i didn't have any depression episode. But deep inside me I know the monster is still there. Never vanished. I always worried when it will spring again. Yesterday, the monster started to active one more time. First, in the morning I feel helpless and empty, so I didn't go to work. I just out from my bedroom for bath, after that I hide myself in the bedroom and just read or played a computer game. It's not a lazy behavior, but a condition. I have no power to command my brain and body to do a constructive activity. This morning the condition is better but still I must push myself harder to go. Such an illness. Where will it recover or I should burden with that all my life.
Tuesday, August 29, 2006
SINGA MASAI
Iklan jaman sekarang lucu-lucu, misalnya iklan Wrap Gourmet dari Mac D. Disebutin bahwa singa masai selalu tidur kalau habis makan. Iklan ini patut disodorkan ke bos-bos, bahwa tidak semua orang bisa langsung aktifitas kalau siang.
Aku paling merasa parah kalau siang hari sekitar jam 1-2 an. Ngantuk banget bo! Apalagi kalau harus meeting, bisa-bisa aku mengikutinya setengah sadar. Mata sudah 5 watt, tapi begitu jam 3 mulai lagi kekuatannya keluar. Maklum waktu kecil dibiasakan untuk siesta alias tidur siang. Makanya sekarang kelimpungan banget. Rupanya aku punya gen Singa Masai.... whoaaaahhh!
Aku paling merasa parah kalau siang hari sekitar jam 1-2 an. Ngantuk banget bo! Apalagi kalau harus meeting, bisa-bisa aku mengikutinya setengah sadar. Mata sudah 5 watt, tapi begitu jam 3 mulai lagi kekuatannya keluar. Maklum waktu kecil dibiasakan untuk siesta alias tidur siang. Makanya sekarang kelimpungan banget. Rupanya aku punya gen Singa Masai.... whoaaaahhh!
Monday, August 28, 2006
Talking to myself
Friends, a lot of friends, new friends, old friends.
Kadang-kadang waktuku habis untuk semua teman itu.
Bukan aku tidak mau bersyukur, karena doa yang sering aku panjatkan adalah agar aku tak merasa kesepian.
Tapi ternyata mahluk seperti aku juga memerlukan waktu untuk dinikmati sendirian.
Kebutuhan privacy.
Ngapain kalo lagi sendirian?
Cuma menikmati saja. melakukan apapun yang muncul di benak tanpa memperhitungkan perasaan orang lain.
Apa aku egois?
Ntahlah...
Tapi kebutuhan privacy bagiku sama seperti kebutuhan udara
Sesekali perlu menghirup yang murninya
untuk mengembalikan kewarasan dan kestabilan mental
untuk merenung supaya tidak serakah dan kejam dan tidak berhati
untuk.... beristirahat dari dunia
Kadang-kadang waktuku habis untuk semua teman itu.
Bukan aku tidak mau bersyukur, karena doa yang sering aku panjatkan adalah agar aku tak merasa kesepian.
Tapi ternyata mahluk seperti aku juga memerlukan waktu untuk dinikmati sendirian.
Kebutuhan privacy.
Ngapain kalo lagi sendirian?
Cuma menikmati saja. melakukan apapun yang muncul di benak tanpa memperhitungkan perasaan orang lain.
Apa aku egois?
Ntahlah...
Tapi kebutuhan privacy bagiku sama seperti kebutuhan udara
Sesekali perlu menghirup yang murninya
untuk mengembalikan kewarasan dan kestabilan mental
untuk merenung supaya tidak serakah dan kejam dan tidak berhati
untuk.... beristirahat dari dunia
Wednesday, August 23, 2006

Di suatu masa sebuah hati pernah dihancurkan, menciptakan ketidakpercayaan yang nyaris permanen dari puing-puing reruntuhannya. Bahwa pengalaman itu bisa merupakan cerita klise yang terjadi pada banyak anak manusia, tidak mengurangi pedihnya hati saat dialami. Dunia yang dipercayai hancur luluh lantak di hadapannya, menjerit kepada Tuhan apakah ini merupakan hukuman atau hanya nasib yang telah terukir dan tidak bisa dipungkiri, atau semata-mata hanya merupakan hasil dari kebodohan belaka yang pernah mempercayai tindakan dan ucapan sebuah topeng manusia yang ramah yang menyembunyikan hati berbulu.
Waktu telah berputar dan tahun-tahun bergulir, betapa sulitnya kembali polos dan percaya pada perasaan tulus seorang laki-laki. Satu demi satu mengkhianati setiap tunas kepercayaannya yang menyeruak. Dengan mata setengah tertutup dan penuh kalkulasi menilai wajah-wajah polos yang tersenyum disekitarnya. Sungguhkah? Tuluskah? Dan hati yang hanya dibuka sedikit celah untuk sekedar memasukkan seberkas mentari atau secuil kehangatan, celah yang segera ditutup dan dikunci begitu didapati tanda-tanda udara dingin dan kegelapan dari sifat manusia yang terburuk. Perlahan-lahan hati itu mulai mengeras seperti batu, dan dia mengeluh tak pernahkah akan merasakan kehangatan cinta lagi? Haruskah semua cinta dihitung untung dan ruginya?
Tawanya kini tidak terdengar ceria jika dihadapan kawanan manusia dewasa, hanya pada bayi dan anak-anak tak berdosa dia bisa tersenyum dengan tulus. Sungguhkah di dunia ini tak pernah ada manusia untuk berbagi hidup. Kemarahan yang pernah ditujukan kepada Tuhan kini telah tergantikan dengan apatisme, mungkin hanya kematian yang akan bisa mengakhirinya. Tidak ada perlunya merancang masa depan, hiduplah untuk saat ini. Nikmatilah saat ini. Saat tidak ada lagi yang perlu dipertahankan yang kauperlukan hanya kematian.
Perkawanan masih memberikan arti. Tetapi seorang kawan tidak memerlukan dirimu seratus persen, sehingga waktu yang ada masih bisa dibagi-bagi untuk pekerjaan dan orang tua dan saudara. Hari demi hari terlewati dan tertapaki, kadang bisa merasa berarti kadang merasa hampa. Terimakasih kepada si penghancur hati karena kini beragam topeng manusia bisa terlihat lebih jelas. Tetapi kepercayaan telah hancur dan tidak ada gunanya lagi menautkan tali persahabatan. Jembatan itu sudah terbakar dimasa yang lalu dan abunya sudah tertiup angin, yang ada hanya jurang yang tajam antara masa lalu dan masa kini. Sudah tidak ada lagi semangat untuk membuat jembatan baru. Biarlah berlalu….
Sunday, August 20, 2006
Inspirational Poet
KARENA AKU PEREMPUAN
bukankah tubuhku adalah cahaya?
dan jika jalan digelapkan
haruskah aku membutakan mata?
agar biasa dalam kegelapan?
hidup yang digelapkan
karena aku perempuan
dengan tulus aku katakan : gelapkanlah!
kerna aku tak pernah takut kegelapan
kerna akulah cahaya
yang membuat kegelapan menangisi dirinya
dan kamu tak bisa berpaling dari silaunya
(by: cok. sawitri)
bukankah tubuhku adalah cahaya?
dan jika jalan digelapkan
haruskah aku membutakan mata?
agar biasa dalam kegelapan?
hidup yang digelapkan
karena aku perempuan
dengan tulus aku katakan : gelapkanlah!
kerna aku tak pernah takut kegelapan
kerna akulah cahaya
yang membuat kegelapan menangisi dirinya
dan kamu tak bisa berpaling dari silaunya
(by: cok. sawitri)
Thursday, August 03, 2006
SMS TANPA ID
Beberapa kali orang sms aku tanpa menyertakan identitas. Beberapa temanku suka gonta ganti no HP bikin sebel dan malas mensave nomornya di hp. Tau2 muncul sms tak ber-id. Walaupun beberapa kali memang merupakan kesalahanku (krn aku punya penyakit suka malas save no HP orang). Tapi aku sedikit paranoid juga karena beberapa orang doyan ngisengin orang lain dengan nomor baru.
So waktu pagi ini aku menerima sms pertama dari no tak dikenal dengan kode area NTT, aku pikir dari kolega di NTT. Tapi kok pertanyaannya seenak udel yaitu "Lagi dimana?" tapi karena aku orangnya baik (xixixixi) aku menjawab dengan jujur sedang ada di mana. Setelah itu dibalas "Aku kangen lho".... what??? siapa ini, aku jadi malas untuk menjawabnya, dan dicuekin aja. Ternyata keisengan masih dilanjutkan dengan ditelp, tapi waktu aku angkat, dan aku sapa tidak ada jawaban, sialan, main-main benar ini. Kumatikan saja HP-nya. Eh masih nekat telp lagi. tentu saja langsung matikan itu hp.... pagi-pagi gitu lho, kok udah main-main. Emangnya ga ada kerjaan apa? Sebbbbbellllll....!
Pagi hari merupakan waktu dengan mood terjelek untuk aku, so, sorry siapapun kamu yang pagi ini sms, kalau kena imbas dari mood jelekku. Lagian siapa sih yg bakal girang kalau diisengin, mau pagi atau malam ya sama aja.
So waktu pagi ini aku menerima sms pertama dari no tak dikenal dengan kode area NTT, aku pikir dari kolega di NTT. Tapi kok pertanyaannya seenak udel yaitu "Lagi dimana?" tapi karena aku orangnya baik (xixixixi) aku menjawab dengan jujur sedang ada di mana. Setelah itu dibalas "Aku kangen lho".... what??? siapa ini, aku jadi malas untuk menjawabnya, dan dicuekin aja. Ternyata keisengan masih dilanjutkan dengan ditelp, tapi waktu aku angkat, dan aku sapa tidak ada jawaban, sialan, main-main benar ini. Kumatikan saja HP-nya. Eh masih nekat telp lagi. tentu saja langsung matikan itu hp.... pagi-pagi gitu lho, kok udah main-main. Emangnya ga ada kerjaan apa? Sebbbbbellllll....!
Pagi hari merupakan waktu dengan mood terjelek untuk aku, so, sorry siapapun kamu yang pagi ini sms, kalau kena imbas dari mood jelekku. Lagian siapa sih yg bakal girang kalau diisengin, mau pagi atau malam ya sama aja.
Sunday, July 30, 2006
Reuni SMA
2 minggu lalu aku baru sempat pulang ke rumah orangtuaku setelah lebih dari 1 bulan tidak sempat menengok mereka. Aku lihat di tumpukan surat-surat untukku ada formulir untuk reuni SMA. Sayangnya sudah kadaluarsa, karena kegiatannya sendiri diadakan minggu sebelumnya. Ada rasa menyesal karena baru beberapa minggu sebelumnya aku mengatakan ingin sesekali bertemu dengan teman-teman SMA-ku. Seperti apa mereka saat ini, berapa orang anak mereka, dengan siapa mereka menikah dan lainnya.
Ada juga rasa penasaran untuk melihat kembali orang yang aku sukai dulu kala. Saat itu aku tidak berani mengatakan bahwa aku suka dengan dia. Jika aku ditolak, tidak ada lagi keberanianku untuk bertemu muka dengan dia. Tapi juga tidak akan ada kepenasaran seperti saat ini.
Masa remaja hanya sekali akan dialami orang lain dan tidak akan terulang lagi. Klise banget ya kata-katanya. Tapi itulah yang kurasakan saat ini.
Ada juga rasa penasaran untuk melihat kembali orang yang aku sukai dulu kala. Saat itu aku tidak berani mengatakan bahwa aku suka dengan dia. Jika aku ditolak, tidak ada lagi keberanianku untuk bertemu muka dengan dia. Tapi juga tidak akan ada kepenasaran seperti saat ini.
Masa remaja hanya sekali akan dialami orang lain dan tidak akan terulang lagi. Klise banget ya kata-katanya. Tapi itulah yang kurasakan saat ini.
Subscribe to:
Posts (Atom)



