Sunday, November 26, 2006

JakJazz 2006

Jakjazz datang lagi, lumayan nih ada hiburan yang ok. Apalagi temenku nawarin tiket yang murah. Sebelumnya aku cuma baca aja tentang reportase JakJazz dan belum sempat nonton. Kebetulan ada kesempatan dan ada sedikit uang, mengapa tidak. Tiket untuk entrancenya sendiri sangat mahal, dan yang bagus-bagusnya dipasang malam sekali. Sampai ngantuk-ngantuk aku dengerinnya.

Ternyata klo mau nonton yang kalibernya Phil Perry mesti bayar tambahan. Payah banget sih. Kenapa ga bikin konser Phil Perry aja kayaknya ga seperti ketipu. Yah, mungkin entrance fee nya memang untuk menyaring pengunjung. Soalnya kalau ga disaring, takut ngebludak kali... tetapi sayang sekali performance sebagian band yang masih mudanya sangat standar. Sehingga ga meninggalkan kesan di hati. Dan sayangnya sebagian performance yang sempat aku liat adalah beraliran ke fussion, ga ada yg blues dll.

Sebenarnya sih aku lebih suka yang swing, blues. It's about the rythm, right? And the rythm will swayed your soul. So if your ear can't catch the rythm, what you called it?

Friday, November 24, 2006

HP CDMA

Akhirnya dengan kehebatan tekhnologi aku bisa ngewarnet di mana saja. Cukup bermodal laptop dan telp CDMA... muaahhhh... I love my CDMA HP, because this gadget really help me much. hanya bermodal dikit di kamar kos ku yang sempit dan pengap ini aku sekarang bisa puas berseluncur di dunia maya. Lama juga sih memutuskan apakah aku akan membeli HP CDMA atau PDA. Tetapi rasanya lebih puas jika dengan HP CDMA ini.

Happy..happy sekali, senang rasanya!

Thursday, November 23, 2006

Ivanhoe


Ivanhoe, tokoh ksatria baju zirah yang pertama aku kenal. Jaman itu sepertinya adalah jaman yang romantis. Laki-laki berperang mempertahankan puri dan putri di dalamnya. Ada knight templar yang melakukan perang salib, atau the desperado macam ivanhoe. Waktu pertama kali membaca buku itu sempat bingung juga ksatria templar ini baik apa jahat sih. Tetapi dengan adanya the davinci code barulah paham tentang adanya polemik pro-kontra tentang ksatria templar. Ga ngaruhlah.

Walaupun yang kasihan sebenarnya Rebecca, hanya karena dia keturunan Jewish akhirnya keberadaan dia tidak berani diakui di public. Walaupun mungkin kenyataan inilah yang ingin ditonjolkan oleh sir Walter Scott bahwa ksatria terbaik seperti Ivanhoe sendiri tetap mempunyai sisi munafik, tidak bisa menunjukkan dimana cinta sebenarnya berada karena tuntutan masyarakat dan gengsi yang dimilikinya. Jadi masih adakah stock laki-laki yang bisa mencintai perempuannya dengan tulus dan tanpa mempedulikan pandangan sekitarnya? Tuhanku, bolehkah aku memintanya satu saja?

PACAR MERAH

Pacar Merah a.k.a The Scarlett Pimpernell adalah salah satu favoritku. Pertamanya bingung terhadap arti Pacar Merah, kukira pacar adalah boyfriend, padahal merujuk ke tanaman Pacar Merah. Kenapa mesti diterjemahkan Pacar Merah, karena Scarlett Pimpernel adalah bunga dari tumbuhan rumpun yang banyak terdapat di Inggris dan US. Jadi kalaupun ada pohon pacar tentunya bukan berarti scarlett pimpernell.

Pertama kali aku membacanya waktu SD dulu, adalah terjemahan dari versi yang sudah disingkat. Waktu itu Gramedia sengaja menterjemahkan banyak karya klasik dunia dalam versi singkat, ada di bawah brand seri Kancil (untuk anak-anak) dan seri Elang (untuk remaja). Dan waktu SMP aku menemukan versi aslinya di perpustakaan sekolah, dan dengan bersusah payah membaca versi bahasa Inggrisnya sampai tamat. Walaupun banyak kata-kata yang tidak aku mengerti. Buku ini sangat menarik karena bersetting revolusi perancis (salah satu masa dalam sejarah yang paling menarik bagiku karena merupakan dasar untuk demokrasi). Ceritanya sebenarnya ada sedikit kurang adil bagi perempuan, karena suaminya langsung menjudge marguerite bersalah tanpa mendengar cerita sebenarnya. Tapi, jaman itu kan perempuan di eropa pun masih subordinan. Apa daya.

Sampai saat ini aku masih belum berhasil mendapatkan buku aslinya, walaupun sudah hunting di berbagai toko di Indonesia. Dan tetap belum beruntung saat melakukan kunjungan singkat ke negaranya Percy Blakeney itu.

Thursday, November 16, 2006

PULANG

Harus pulang minggu ini, karena setumpuk surat dari bank yang tidak diketahui apa isinya sudah menanti di rumah. Technically aku sengaja memakai alamat ortuku menjadi alamat tetap, soalnya sampai detik ini belum kepikiran untuk mencari rumah untukku sendiri. Tetapi perkembangan akhir-akhir ini, mau tidak mau aku sudah harus memikirkan tempat untuk diriku. Tetapi keuangan belum memungkinkan. Heuu!

Lebih dari 2 minggu aku tidak menengok orangtuaku. Keegoisanku yang dulu kini hadir kembali. Aku tidak ingin merasa terikat dengan kewajiban kembali, dan sekarang adik-adikku sudah mulai merintis jalan mereka untuk mandiri menjadi manusia-manusia dewasa yang bertanggung jawab, rasanya aku seperti mendapatkan sayapku kembali yang dulu pernah patah.

Atau mungkin kakiku kini tumbuh sayap lagi. Seperti saat aku baru lulus sekolah dulu. Percaya ga percaya dengan primbon. Sejak dulu di kakiku ada tahi lalat kecil dan hitam. Nenekku bilang bahwa aku akan berjalan jauh dari rumah, harapanku nyaris musnah karena dari kecil sampai kuliah aku tetap berada di kota kelahiranku. Tetapi setelah kuliah dan WKS ternyata terbukti, karena sejak hari itu aku terbang jauh dari rumahku. Naik pesawat sudah tak terhitung kali, sebagian wilayah Indonesia sudah pernah kudatangi. Dan tidak pernah aku kerja di kota kelahiranku. Keadaan yang membuatku harus sering-sering menengok orangtuaku sungguh-sungguh menyekapku dalam kolam yang kecil, ajaibnya, tahilalat itupun mulai memudar warnanya. Sering aku menatapnya dan bertanya-tanya apakah akhirnya aku akan menetap dan tinggal di kota kelahiranku? Saat ini tahi lalat itu mulai berwarna lebih gelap lagi sejalan dengan kelegaan hatiku dengan kemandirian adikku. Langkahku menjadi ringan lagi, aku bisa kembali mengambil pekerjaan nun jauh disana. Maaf kalau ternyata kakiku selalu gatal dan tidak ingin beristirahat terlalu lama di suatu tempat, biarpun begitu aku pasti masih akan pulang walaupun tidak sering.

Monday, November 13, 2006

Sebelah kanan, please



Kita dijajah belanda selama 360 tahun tetapi untuk lalulintas malah mengadopsi sistem Inggris. Membuat aku sedikit nyaman kalau naik kendaraan di sana. Tadinya aku berpikir bahwa di London tidak akan ada kesemrawutan di jalan, tetapi sungguh lebih enak pakai underground dibandingkan ada di jalan raya. Pengalaman naik bis merah, udah lambat, diputer-puter lagi... huaduhhh! Mati gw. Naik underground memang cepet, kekurangannya hanya karena kita kudu naik tangga pada saat keluar/masuk. Ga masalah sih klo ga bawa barang, tapi dengan menggandeng koper yang beratnya ampun-ampunan lumayan juga sih. Tetapi orang di London ternyata jauh lebih bertoleransi sama orang lain, setiap kali liat kita ugal ugil dengan koper di tangga, suka ada yang nawarin bantuan. Coba di Indonesia, cuek aja tuh, toleransi gotong royong emang udah jadi lip service di Indo. Rasanya kita harus belajar banyak dari orang lain untuk sopan santun.

Satu hal lagi, di setiap escalator selalu ada tulisan, yang ga mau jalan tolong berderet di sebelah kanan dan berikan ruang lowong untuk orang yang mau cepat. otomatis kita jadi berdiri di kanan dan ga di tengah jalan jadinya... Kapan ya di kita bisa begitu?