Monday, October 22, 2007

Satu sudut cantik Indonesia




Sulawesi Utara sudah terkenal dengan Tinutuan, Bunaken dan klapertartnya. Aku belum pernah datang ke wilayah ini, karena letaknya yang di utara indonesia memerlukan waktu dan budget khusus untuk pergi kesana. Tidak dinyana dan tak diduga, rapat internal dilakukan di Bunaken tepatnya di Hotel Santika. Hotel ini benar-benar nyempil di tengah perkampungan yang sekarang sudah banyak rumahnya berubah menjadi Guest House. Lumayan juga untuk mereka yang dananya pas2an, lebih baik tinggal di guest house.

4 hari menginap di hotel Santika, dengan sebagian besar waktu yang terpakai untuk meeting, hanya memberikan kesempatan untuk berenang malam, dan jalan2 ke pantai di pagi hari sebelum sarapan. Untunglah masih sempat juga untuk mengunjungi Bunaken dengan waktu yang superketat, artinya hanya bisa memakai perahu yang berkaca dan tidak ada kesempatan untuk belajar snorkeling. Ah, gayanya, berenang di laut aja ga berani, kok mau pakai snorkeling.

Acara berenang malam kali ini memberikan sensasi tersendiri, berenang dibawah bintang-bintang dan ditimpali nyanyian cengkerik malam. Ah indahnya... serasa ada di taman paradiso, menyibak air yang hangat, di kolam yang seolah milik pribadi, kelap kelip bintang di langit yang biru gelap seolah turut bernyanyi dengan cengkerik malam. 3 malam yang tak terlupakan, dan membuat ketagihan. Mungkin kalau ada waktu libur yang terbatas aku akan menghabiskan waktu disini saja, dekat dan indah.

Bunaken juga sangat indah, ikan-ikan berkejaran di sela-sela karang yang menjadi dinding dengan laut dalam, bermacam-macam jenis dan warnanya. Ingin kutangkap keindahannya dengan kamera, tetapi kamera digital ku yang tak ber-zoom tak sanggup untuk mengabadikannya. kenangannya hanya akan tergambar di benakku saja. Ikan napoleon, penyu dan ikan lainnya berenang dengan santainya di terumbu karang yang masih hidup ini.

Tak terasa rapat internal sudah berakhir dan aku serta 2 temanku memutuskan untuk menghabiskan weekend di menado saja dan baru pulang hari senin pagi. Kali ini kami mengexplore bagian gunungnya. Danau Tondano yang luas dan kebun sayurnya dan berakhir di danau Linou di Tomohon. Kami tidak sempat datang ke pasar tomohon yang katanya menjual semua daging kecuali daging manusia (atau diam-diam ada juga kah yang menjual daging ini? ^-^'... syereeemmm). Yang sangat aku kagumi adalah salah satu sudut danau yang ada sumber air panasnya... danau linau... indahnya....

Perjalanan pun berakhir, kami kembali dengan kenangan yang indah di dalam benak masing-masing. Indonesia Jambrut Katulistiwa? Definitely YES!

Tuesday, October 16, 2007

Masalah Kesehatan bukan masalah medis

Aku tidak suka dengan rumah sakit, tempatnya seperti house oof sorrow, penuh dengan penderitaan. Bukan itu saja, aku juga tidak punya panggilan jiwa untuk praktek bawaannya malas aja. Tetapi aku sangat cinta dengan masalah kesehatan, apalagi masalah public health. Kena kutuk PH kayaknya, karena waktu kuliah dulu aku sering meledek puskesmas. Tetapi PH bisa menjebakku untuk jatuh cinta lebih dari sekedar kuliah di kedokteran dulu. Memang banyak sih orang yang menyesalkan ilmuku karena aku tidak praktek. Banyak yang menganggap kuliahku dulu sia-sia karena tidak praktek. Memang jarang yang bisa mengerti kecintaanku pada masalah kesehatan dan bukan pada masalah medis.

Medis terasa sangat menjemukan dan tidak banyak yang bisa dilakukan. Kadang-kadang membawa frustasi karena kita tidak bisa lengkap mengobati seseorang, maklumlah fasilitas dan prasarana negri ini memang masih jeblok. Tetapi dalam masalah kesehatan sungguh dinamis dan banyak variasi maupun kreatifitas, yang membuat hari-hari kita terasa sangat menyenangkan dan tidak membosankan. Begitulah. Mengerti??

Saturday, October 13, 2007

Pelukis Impresionis

Hari ini ga biasanya Metro TV tayangin feature tentang collector seni dari Inggris Coultre kalo ga salah namanya. Yang dikoleksi oleh bapak satu ini kebanyakan lukisan impressionis yang top punya: Manet, Cezanne, Renoir, Van Gogh dll. Dan semua koleksinya adalah masterpiece. Seneng banget deh, sering2 nape puter feature kayak gini.

Diantara semua aliran lukisan aku memang paling senang dengan impressionis. Favoritku adalah Sunflowernya Van Gogh dan satunya lagi water liliesnya Monet. Tapi sebenarnya aku senang semua lukisan impressionis itu. Waktu mengunjungi Tatler – Modern Gallery, yang memajang karya seniman post mod, lumayan kaget juga waktu ketemu dengan water liliesnya Monet, dan beda dengan bayanganku, lukisannya panjang banget. Pertama kali melihatnya aku serasa dalam mimpi, ga kebayang akhirnya bisa melihat lukisan aslinya. Wuih, sensasinya beda banget. Sedang di National Gallery, aku puas-puasin deh liat karyanya Van Gogh, Monet, Renoir, Desgas dan kebetulan ada pameran khusus Cezanne. Puas banget, biasanya aku kan hanya beli bukunya saja. Gimana lagi, mo beli lukisannya pasti ga tercapai dengan kantungku yang cekak. Paling banter beli repronya...hahahaha... dasar orang miskin.

Tapi pelukis impressionis itu memikat perhatian karena tehniknya sangat hebat, tidak ada garis yang tegas, semuanya permainan warna yang membentuk image tumbuhan, manusia dll. Pada intinya mereka berusaha menangkap cahaya, dan hasilnya... wow sangat indah. Impressionis, sampai kapanpun adalah aliran the best buatku.

Thursday, October 11, 2007

Tempat berlindung di hari tua....

Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Tetap dipuja-puja bangsa
Di sana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Sampai akhir menutup mata

Kusendandungkan lagu itu di tengah kesepian kamar kos-ku. Tiada TV dan jika ingin sekedar berjalan-jalan di kota ini, ruang gerakku terasa sangat sempit, karena kota yang hanya berupa pulau ini tidak menawarkan mall atau toko buku, sungguh beda dengan kota yang telah membesarkan aku sejak lahir di pulau jawa nun jauh di sana. Walaupun hampir semua pelosok nusantara ini sudah kujalani, ini kali pertama aku hidup di daerah kepulauan, tepatnya Maluku Utara. Ternate, sang ibu kota adalah pulau dimana gunung Gamalama menjulang. Aku menjadi sedikit claustrophobic di sini. Keluasan wilayah yang biasa kutempati sungguh kontras dengan pulau yang sekarang kutempati.Timor Barat,Teluk Bintuni di Papua yang luas, Jakarta, Pandeglang, Jogja, Bandung, Sukabumi,Jambi dan Payakumbuh lebih merupakan benua bagiku saat itu.

Tetapi aku bersyukur bisa tinggal dan hidup di daerah ini. Tempat sejarah panjang terbentang. Sebagai orang Indonesia, kesultanan Ternate-Tidore yang pernah menguasai bagian Timur Indonesia sampai daerah kepala burung papua yang sampai sekarang tetap menjadi basis muslim papua, telah kukenal dari pelajaran sejarah Indonesia sejak aku masih di SD. Dan kekayaan pengetahuanku sekarang bertambah bahwa kesultanan di Maluku ternyata bukan sekedar Ternate-Tidore tetapi juga mencakup kesultanan di Jailolo, Bacan dan Sulu, yang bisa dipastikan masih kurang dikenal oleh sebagian besar bangsa Indonesia. Dan masih pula bersambung dengan Banda Neira di Maluku, maupun kepulauan Kei. Tidak begitu heran kenapa ada klan Alkatiri di Timor Leste, karena kesultanan tadi itu juga sempat sampai ke kepulauan nusa tenggara timur.

Seandainya aku hanya mengenal Jakarta dan pulau Jawa, bisa dipastikan sekarang aku sudah sangat desperado untuk bisa mengganti kewarganegaraanku dengan permanent residence di negara lain. Seandainya hanya Jakarta yang aku kenal aku sudah pasti akan sangat membenci negri ini, tidak akan pernah kusenandungkan Indonesia Pusaka dengan nada sayang. Tak kan pernah kutahu betapa indahnya negri ini dan betapa kubersyukur dilahirkan di negri ini. Membela ibu pertiwi tidak boleh diterjemahkan sekedar dari ancaman luar, tetapi justru dari ancaman di dalam. Negri ini sudah dikenal dengan penyakit korupsinya yang sungguh kronis dan pada stadium yang sangat parah. Cukup membuat beberapa persen warganya yang pernah memegang kewarganegaraan ini menjadi sangat malu disebut sebagai orang Indonesia dan menjadi sangat membenci Indonesia.

Di masa aku masih remaja dulu, aku juga pernah membenci negri ini, untunglah pekerjaanku membawaku ke seluruh pelosok negri sehingga bisa mengenali ibu pertiwi yang cantik jelita dan jatuh cinta padanya. Kini aku sungguh mencintai ibu, walaupun jangan pernah berharap aku untuk mau ikut upacara bendera selama negri ini masih dipimpin oleh orang-orang yang masih memafaatkan kekayaan negri ini hanya untuk kepentingan diri dan kelompoknya. Maaf saja, kalau aku harus mengikuti kegiatan yang sungguh munafik itu. Tidak adanya menghormati bendera secara fisik saja, yang terpenting bagiku adalah menghormati dari lubuk hati dengan membuatnya sembuh dari penyakit kronisnya. Aku tahu pandanganku ini juga bukan pandangan yang 100% benar, tapi aku tidak punya cara lain untuk mencintai tanpa mengorbankan idealismeku.

Pernah kujelajahi hutan tropisnya, dimana pohon-pohon besar menaungiku dan siamang bersahut-sahutan dan burung rangkong berkepak kencang persis seperti bunyi helikopter, dan mandi di sungai jernihnya ditemani udang dan suara burung bersahutan. Pernah kunikmati daerah hutan bakau perawannya yang kaya dengan kekayaan lautnya, memandangi hutan sagu dan burung-burungnya yang berbeda dengan di wilayah barat Indonesia, atau dinginnya daerah pegunungan dengan danau prahistorisnya terbentang luas. Pernah juga kujelajahi daerah sabana dengan anginnya yang kencang dan pegunungan karangnya, dimana pohon-pohon lontar berdiri berjajar seperti tentara berbaris. Daerah pantai selatan dan pantai utara Jawa pun kukenal hampir ke sudut-sudutnya, dibeberapa tempat masih menyisakan pemandangan yang belum tercemar polusinya, menikmati sunset di atas karang yang menghadap ke lautan luas, lautan Indonesia, dan malam-malam gelap dimana bulan mati, aku dan beberapa rekan menunggu dan mengintip penyu besar bertelur di pantai Ujung genteng. Dan sekarang aku menikmati akuarium besar kapanpun aku mau di tanah ternate dan tidore. Kalau aku sampai tidak mencintai negri ini sungguh memalukan.

........................
Tempat berlindung di hari tua
Sampai akhir menutup mata