Tuesday, April 17, 2007

Sepertinya Dia Ada Bersamaku


Sepertinya dia ada bersamaku
Tapi, sepertinya juga tidak.
Dia selalu melakukan perjalanan seorang diri
Dan entah kapan, tahu tahu sudah pulang kembali ke hadapanku
Tapi, begitu juga sudah bagus
Selama dia tidak hilang dari pandanganku

(Nodame Cantabile #15,Elex, suara hati Sinichi Chiaki)

Wow, cowok kayak gini nih yang layak untuk diperjuangkan. Romantis abizzzz…! Memberikan kebebasan tapi sekaligus memiliki. Inilah cinta yang tulus. Bwahahahaha…*jadi geli sendiri* kadang-kadang aku menemukan kata-kata dan filosofi yang indah (menurutku tentu saja… ehm ato tepatnya yang cocok untuk karakterku) pada komik. Kenapa bisa tidak kutemukan in reality? Mungkin karena cowok yang kuharapkan memang hanya ada dalam impian atau hanya hidup di ras lain dan tidak dimiliki cowok Indonesia…

Hey..hey… neng…! bakalan banyak cowok indo yang merasa tersinggung dan disepelekan lho….

Bodo! Cowok2 indo itu terlalu dimanjakan oleh nyokap-nyokapnya dan menjadikan mereka seolah king of the world. Bisa menuntut mendapat cewek yang sempurna, sesempurnanya tapi sekaligus tidak memperbaiki dirinya.

Wakakakakakaka… kayaknya banyak pengalaman pahit nih? *nyengir mode*

Tahu ga, gw pernah berniat pengen punya anak 10 orang semuanya cowok, yang akan aku didik untuk bisa mencintai perempuan dengan tulus… ini salah satu misi muliaku di dunia…wakakakaka… sayang aku tidak berhasil menipu satu laki-laki pun untuk menjadi ayah anak-anakku….

Soalnya tidak banyak cowok-cowok yang layak untuk ditipu…


whaaaaaaaaaat???

Udah ga ada lagi sih stock cowok prince charming di sekitarku sekarang

XX#$%grmblsxyzzzzzzzzgrrhajnkjdajkdjiauidsha@#$M! -alias mentok ga bisa komentar lagi…-

xixixixixixiixiixixiiiiiiiiiiiii

Friday, April 13, 2007

Doki-doki!

Duduk dan connect internet akhirnya menjadi salah satu kegiatan rutin yang tidak bisa kulepaskan lagi. Di cafe internet yang remang-remang tetapi cukup nyaman karena semua orang terpaku pada PC atau laptopnya masing-masing, aku menelusuri site demi site di internet. Tiba-tiba mataku tertarik ke satu arah, ada klien baru di cafe ini. Hormonku mulai bergemuruh. Orang yang menarik hatiku adalah laki-laki cool berambut panjang sebahu, dengan wajah mirip-mirip James F Sundah dan memakai kemeja santai.Doki-doki...doki-doki... alias duk-duk-duk tabuhan jantung di dadaku. Mendadak laki-laki itu menatapku dan tersenyum, aku tertangkap basah menatapnya, sialan, dan aku panik...kupalingkan arah pandangku, dan akhirnya dia tidak lagi menatapku. Aahhhhhhhh.... hormon-hormonku yang selalu tahu dimana ada laki-laki yang menarik, tapi sifat panikku selalu membuat reaksi yang tidak menarik...! *Sobs*

Saturday, April 07, 2007

PANTURA

2 minggu yang melelahkan. Berpindah dari satu kota ke kota pantura lainnya. Meminta dengan baik-baik, merayu, memelas atau menggunakan gaya-gaya preman malak dilakukan untuk mendapatkan data dari berbagai dinas instansi. Ada yang berhasil, tapi tidak kurang yang gagal. Tujuannya untuk mendapatkan potret yang lengkap tentang kemiskinan di jalur pantura.

Jalur Pantura selama ini hanya aku kenal dari berita-berita saja dan tidak ada satupun yang pernah aku kunjungi di alam nyata. Kenyataannya melebihi perkiraan, pergulatan masyarakat melawan sistem untuk mendapatkan perbaikan taraf hidup sungguh mengenaskan. Bukan hanya ketidakpedulian dari pamongpraja setempat, tetapi juga dari anggota masyarakat lainnya yang turut memangsa kaum sendiri. Homo homini lupus, itu istilahnya kalau aku tidak salah ingat.

Kaum tengkulak benar-benar memeras buruh tani bahkan sampai ke tahi-nya *maaf, tidak ada lagi istilah sopan yang bisa dipakai*. Dan mucikari hanya menganggap kaum perempuan sebagai ternak berkaki 2 untuk dijual kepada laki-laki hidung belang. Tidak tahu lagi dimana yang benar mana yang salah. Di beberapa tempat beberapa suara minor dari LSM pembela masyarakat yang termarjinalkan, hilang digerus ombak pantai utara atau deru truk-truk besar yang berderap tak kenal waktu.

Aku hanya mampu terpekur, mensyukuri keadaanku yang masih terjamin, dan menangisi ketidakmampuanku memperbaiki keadaan. Demo2 kaum agama atau lawannya seperti papernas, perdebatan perlu tidaknya pembelian laptop terasa hambar dibandingkan dengan kenyataan pahit yang terbentang dihadapanku. Mobil-mobil mewah Jaguar, Mercedes Benz, BMW yang memenuhi jakarta terasa sangat menyayat melihat kekumuhan yang terbentang di hadapanku. Sungguhkah mereka menyadari betapa banyaknya masyarakat yang tidak beruntung di negara ini?