Aku membuka mataku, hmmm...hoaaahhhhmmm, menguap lagi, hari ini rasanya badanku masih belum pulih dari defisiensi tidur. Kulihat jam tanganku.. uuh baru jam 9 malam, tidak ada alasan untuk tidak mandi, mana badan lengket-lengket lagi. Kuseretlah kakiku ke kamar mandi.
Hmm, enyak..enyak..enyak, habis mandi memang enyak. Hmm, ada yang telp ga ya? Kutarik HP dari persembunyiannya di dalam ransel... OMG, banyak sekali yang telp! Klo seperti ini harus ditelp balik nih.
Aku: "Hai..hai, ada apa nih telp?"
Temenku: "Nggak, cuma pengen ngobrol aja."
bla..bla..bla dan terbongkarlah masalah yang dihadapinya. Temanku yang sedang kalut karena tiketnya belum di tangan. Padahal dia sudah akan berangkat sekitar 3 minggu lagi, dan belum bikin Visa lagi. setelah bla..bla..bla...
" Ya sudah, non, cek lagi besok ok? telpon aja orangnya atau kita tanya sama orang-orang yang lebih berwenang."
Hari ini masuk kantor aku kaget, karena tiketku yang notabene belum lengkap syaratnya sudah bisa dibook konfirm... hmmm, mungkin karena aku tidak mengharapkannya makanya tiketku jadi terasa cepat.
Mungkin tidak ada salahnya untuk bersabar dan memberi waktu pada staf untuk usaha, dibanding kita mengejar-ngejarnya dengan berbagai tuntutan sesegera mungkin. Tapi juga ada baiknya untuk selalu mengupdate perkembangan, dibandingkan aku yang selalu malas update... hah! manusia memang tidak sempurna. Tapi bisa jadi juga karena dia memang sedang dikerjain sama staf... mudah-mudahan tidak.
Tuesday, September 26, 2006
Monday, September 25, 2006
Aku kan Boss
Suatu posisi, jabatan, orang terdekat dengan seseorang di dalam pekerjaan dan organisasi kadang-kadang dijadikan alasan untuk memperlihatkan kekuasaan pribadi. Hal-hal kecil dan remeh temeh seperti penggunaan line telpon dan lain-lain bisa menjadi satu hal yang diperebutkan. Menyebalkan!
Yang lebih keterlaluan lagi manakala pertimbangan kemanusiaan sudah hilang dari pemikiran tersebut karena seseorang merasa dekat dengan atasannya yang otoriter. Seperti yang baru-baru ini terjadi seorang bawahan yang menjadi kepercayaan atasan yang ekspatriat, tega menolak permintaan koleganya yang ingin meminjam mobil untuk kebutuhan kolega lain yang mendadak sakit. Yang orang sakit diminta untuk naik taksi sedangkan yang merasa menjadi atasan ingin langsung diantarkan pulang ke rumahnya. Seandainya atasan tersebut bijak atau bawahan itu welas asih kepada yang sakit aku yakin mereka akan mendapat pandangan lebih positif dari lingkungan yang banyak sudah tidak menyukai mereka. Apa salahnya sih pulang terlambat 10-15 menit tetapi bisa membantu orang sakit, daripada pulang tepat waktu tapi diiringi caci maki.
Catatan hati yang pegal melihat kelakuan pengikut ekspat yang tidak bijak.
Yang lebih keterlaluan lagi manakala pertimbangan kemanusiaan sudah hilang dari pemikiran tersebut karena seseorang merasa dekat dengan atasannya yang otoriter. Seperti yang baru-baru ini terjadi seorang bawahan yang menjadi kepercayaan atasan yang ekspatriat, tega menolak permintaan koleganya yang ingin meminjam mobil untuk kebutuhan kolega lain yang mendadak sakit. Yang orang sakit diminta untuk naik taksi sedangkan yang merasa menjadi atasan ingin langsung diantarkan pulang ke rumahnya. Seandainya atasan tersebut bijak atau bawahan itu welas asih kepada yang sakit aku yakin mereka akan mendapat pandangan lebih positif dari lingkungan yang banyak sudah tidak menyukai mereka. Apa salahnya sih pulang terlambat 10-15 menit tetapi bisa membantu orang sakit, daripada pulang tepat waktu tapi diiringi caci maki.
Catatan hati yang pegal melihat kelakuan pengikut ekspat yang tidak bijak.
Sunday, September 17, 2006
PATAH ARANG
Malam datang menjelang, angin bertiup dingin, dan bulan mati. Tiada lampu dan penerang jalan, dikelilingi oleh hutan. Saat kulihat jam tanganku waktu masih menunjukkan jam 9 malam, tetapi seakan-akan sudah ada ditengah malam. Kendaraan lain hanya muncul sekali-sekali. Pemandangan yang lumayan membuat miris saat melakukan perjalanan malam dari Kefa ke Kupang.
Kalau sudah begini siapa yang berani mengklaim bahwa keadilan dan kesejahteraan sudah merata di Indonesia. Padahal saat ini sudah hampir 8 th dari kejatuhan presiden kedua kita. Masyarakat dan aparat di Indonesia memang sudah jauh berjalan dari memikirkan sesamanya. Bolehkah aku mengatakan memyesal dilahirkan sebagai orang Indonesia, dan sudah kehilangan kebanggaan sebagai orang Indonesia.
Aku memang bukan patriot, atau chauvinistis yang mencintai negaranya membabi buta.
Kalau sudah begini siapa yang berani mengklaim bahwa keadilan dan kesejahteraan sudah merata di Indonesia. Padahal saat ini sudah hampir 8 th dari kejatuhan presiden kedua kita. Masyarakat dan aparat di Indonesia memang sudah jauh berjalan dari memikirkan sesamanya. Bolehkah aku mengatakan memyesal dilahirkan sebagai orang Indonesia, dan sudah kehilangan kebanggaan sebagai orang Indonesia.
Aku memang bukan patriot, atau chauvinistis yang mencintai negaranya membabi buta.
Wednesday, September 13, 2006
WI FI
Kalau memikirkan tentang kemajuan IT di Indonesia suka sedih sendiri. Notebook, PC dan accecories internet lain sangat mudah didapatkan di Indonesia, mulai yang type standar sampai yang advance pasti ada. Demikian juga dengan softwarenya, yang asli maupun yang bajakan berseliweran di indonesia (baca= pulau jawa). Tetapi sangat disayangkan bahwa hal itu hanya bisa dinikmati oleh sekelompok orang saja. Karena dasar dari semua teknologi itu harus terdukung dengan support sistem telekomunikasi. Padahal line telpon sangat mahal di Indonesia ini dan tidak di semua kota ada. Apalagi di luar jawa.
Tetapi di salah satu propinsi yang dikatakan miskin, tertinggal(dan istilah lain-lain yang kurang sedap didengar) yaitu NTT dengan ibukotanya Kupang, justru punya pikiran yang sangat maju. Di komplex Bapeda mereka telah memasang saluran internet wi fi. Sehingga jika kita ada di kompleks tersebut akan bisa browsing internet 24 jam, walaupun kecepatannya tidak terlalu cepat. Tetapi tetap bisa dipakai browsing dan download berbagai situs yang diperlukan untuk membuat referensi. Seandainnya bisa dimanfaatkan dengan maksimal, aku yakin propinsi ini akan mendapatkan kemajuan yang luar biasa dengan pemikirannya yang maju itu. Who know, just wait and see...
Psst... admin di Bapeda prop NTT ini membiarkan koneksi bebas, sehingga kita bisa browsing gratis... huehehehe... jarang-jarang bisa menikmati sarana pemerintah dengan gratis... Anggap amal sama masyarakat aja ya pak Kepala dan pak Gub!!!!
Tetapi di salah satu propinsi yang dikatakan miskin, tertinggal(dan istilah lain-lain yang kurang sedap didengar) yaitu NTT dengan ibukotanya Kupang, justru punya pikiran yang sangat maju. Di komplex Bapeda mereka telah memasang saluran internet wi fi. Sehingga jika kita ada di kompleks tersebut akan bisa browsing internet 24 jam, walaupun kecepatannya tidak terlalu cepat. Tetapi tetap bisa dipakai browsing dan download berbagai situs yang diperlukan untuk membuat referensi. Seandainnya bisa dimanfaatkan dengan maksimal, aku yakin propinsi ini akan mendapatkan kemajuan yang luar biasa dengan pemikirannya yang maju itu. Who know, just wait and see...
Psst... admin di Bapeda prop NTT ini membiarkan koneksi bebas, sehingga kita bisa browsing gratis... huehehehe... jarang-jarang bisa menikmati sarana pemerintah dengan gratis... Anggap amal sama masyarakat aja ya pak Kepala dan pak Gub!!!!
Sunday, September 03, 2006
Friday, September 01, 2006
CALVIN and HOBBES
Calvin is a very active boy. With his imagination the words and world seem to be a very interesting place. His imaginary friend called Hobbes is a cute tiger. The conversation between the two never failed making me laugh. Also help me to forget my worries. It seems that their comical way is created to cheers the world.
I love Calvin and Hobbes. His naughty and miscommunication with his parent is so brilliant. But then everything have price and Calvin always ended with a failed. Nobody will think a mother as a monster but Calvin did. And his father always frightened Calvin with a horrible hillarious tought.
Calvin’s idea always entertaint me and make me forget the misery. So I didn’t regret buy the book although the price is expensive enough.
I love Calvin and Hobbes. His naughty and miscommunication with his parent is so brilliant. But then everything have price and Calvin always ended with a failed. Nobody will think a mother as a monster but Calvin did. And his father always frightened Calvin with a horrible hillarious tought.
Calvin’s idea always entertaint me and make me forget the misery. So I didn’t regret buy the book although the price is expensive enough.
Subscribe to:
Posts (Atom)



