1. The nice men are ugly.
2. The handsome men are not nice.
3. The handsome & nice men are gay.
4. The handsome, nice & heterosexualmen are married.
5. The men who are not so handsome, butare nice men , have no money.
6. The men who are not so handsome, butare nice men with money think we areonly after their money
Pepatah diatas bukan aku penciptanya, tapi nemu di salah satu thread kafe gaul. Berhubung lucu jadinya aku posting disini. Nah termasuk laki-laki manakah suami/pacar anda? (^_^)
Tuesday, December 25, 2007
Friday, December 07, 2007
Dapat Forward file Yang bagus
Kemarin aku dapat forward file yang bagus.
File ppt Van Gogh yang diiringi oleh lagu starry,stary night.
File yang bagus banget.
Waktu aku forward ke teman lain.
Mereka juga suka.
File ppt Van Gogh yang diiringi oleh lagu starry,stary night.
File yang bagus banget.
Waktu aku forward ke teman lain.
Mereka juga suka.
Tuesday, November 20, 2007
Monday, October 22, 2007
Satu sudut cantik Indonesia
Sulawesi Utara sudah terkenal dengan Tinutuan, Bunaken dan klapertartnya. Aku belum pernah datang ke wilayah ini, karena letaknya yang di utara indonesia memerlukan waktu dan budget khusus untuk pergi kesana. Tidak dinyana dan tak diduga, rapat internal dilakukan di Bunaken tepatnya di Hotel Santika. Hotel ini benar-benar nyempil di tengah perkampungan yang sekarang sudah banyak rumahnya berubah menjadi Guest House. Lumayan juga untuk mereka yang dananya pas2an, lebih baik tinggal di guest house.
4 hari menginap di hotel Santika, dengan sebagian besar waktu yang terpakai untuk meeting, hanya memberikan kesempatan untuk berenang malam, dan jalan2 ke pantai di pagi hari sebelum sarapan. Untunglah masih sempat juga untuk mengunjungi Bunaken dengan waktu yang superketat, artinya hanya bisa memakai perahu yang berkaca dan tidak ada kesempatan untuk belajar snorkeling. Ah, gayanya, berenang di laut aja ga berani, kok mau pakai snorkeling.
Acara berenang malam kali ini memberikan sensasi tersendiri, berenang dibawah bintang-bintang dan ditimpali nyanyian cengkerik malam. Ah indahnya... serasa ada di taman paradiso, menyibak air yang hangat, di kolam yang seolah milik pribadi, kelap kelip bintang di langit yang biru gelap seolah turut bernyanyi dengan cengkerik malam. 3 malam yang tak terlupakan, dan membuat ketagihan. Mungkin kalau ada waktu libur yang terbatas aku akan menghabiskan waktu disini saja, dekat dan indah.
Bunaken juga sangat indah, ikan-ikan berkejaran di sela-sela karang yang menjadi dinding dengan laut dalam, bermacam-macam jenis dan warnanya. Ingin kutangkap keindahannya dengan kamera, tetapi kamera digital ku yang tak ber-zoom tak sanggup untuk mengabadikannya. kenangannya hanya akan tergambar di benakku saja. Ikan napoleon, penyu dan ikan lainnya berenang dengan santainya di terumbu karang yang masih hidup ini.
Tak terasa rapat internal sudah berakhir dan aku serta 2 temanku memutuskan untuk menghabiskan weekend di menado saja dan baru pulang hari senin pagi. Kali ini kami mengexplore bagian gunungnya. Danau Tondano yang luas dan kebun sayurnya dan berakhir di danau Linou di Tomohon. Kami tidak sempat datang ke pasar tomohon yang katanya menjual semua daging kecuali daging manusia (atau diam-diam ada juga kah yang menjual daging ini? ^-^'... syereeemmm). Yang sangat aku kagumi adalah salah satu sudut danau yang ada sumber air panasnya... danau linau... indahnya....
Perjalanan pun berakhir, kami kembali dengan kenangan yang indah di dalam benak masing-masing. Indonesia Jambrut Katulistiwa? Definitely YES!
4 hari menginap di hotel Santika, dengan sebagian besar waktu yang terpakai untuk meeting, hanya memberikan kesempatan untuk berenang malam, dan jalan2 ke pantai di pagi hari sebelum sarapan. Untunglah masih sempat juga untuk mengunjungi Bunaken dengan waktu yang superketat, artinya hanya bisa memakai perahu yang berkaca dan tidak ada kesempatan untuk belajar snorkeling. Ah, gayanya, berenang di laut aja ga berani, kok mau pakai snorkeling.
Acara berenang malam kali ini memberikan sensasi tersendiri, berenang dibawah bintang-bintang dan ditimpali nyanyian cengkerik malam. Ah indahnya... serasa ada di taman paradiso, menyibak air yang hangat, di kolam yang seolah milik pribadi, kelap kelip bintang di langit yang biru gelap seolah turut bernyanyi dengan cengkerik malam. 3 malam yang tak terlupakan, dan membuat ketagihan. Mungkin kalau ada waktu libur yang terbatas aku akan menghabiskan waktu disini saja, dekat dan indah.
Bunaken juga sangat indah, ikan-ikan berkejaran di sela-sela karang yang menjadi dinding dengan laut dalam, bermacam-macam jenis dan warnanya. Ingin kutangkap keindahannya dengan kamera, tetapi kamera digital ku yang tak ber-zoom tak sanggup untuk mengabadikannya. kenangannya hanya akan tergambar di benakku saja. Ikan napoleon, penyu dan ikan lainnya berenang dengan santainya di terumbu karang yang masih hidup ini.
Tak terasa rapat internal sudah berakhir dan aku serta 2 temanku memutuskan untuk menghabiskan weekend di menado saja dan baru pulang hari senin pagi. Kali ini kami mengexplore bagian gunungnya. Danau Tondano yang luas dan kebun sayurnya dan berakhir di danau Linou di Tomohon. Kami tidak sempat datang ke pasar tomohon yang katanya menjual semua daging kecuali daging manusia (atau diam-diam ada juga kah yang menjual daging ini? ^-^'... syereeemmm). Yang sangat aku kagumi adalah salah satu sudut danau yang ada sumber air panasnya... danau linau... indahnya....
Perjalanan pun berakhir, kami kembali dengan kenangan yang indah di dalam benak masing-masing. Indonesia Jambrut Katulistiwa? Definitely YES!
Tuesday, October 16, 2007
Masalah Kesehatan bukan masalah medis
Aku tidak suka dengan rumah sakit, tempatnya seperti house oof sorrow, penuh dengan penderitaan. Bukan itu saja, aku juga tidak punya panggilan jiwa untuk praktek bawaannya malas aja. Tetapi aku sangat cinta dengan masalah kesehatan, apalagi masalah public health. Kena kutuk PH kayaknya, karena waktu kuliah dulu aku sering meledek puskesmas. Tetapi PH bisa menjebakku untuk jatuh cinta lebih dari sekedar kuliah di kedokteran dulu. Memang banyak sih orang yang menyesalkan ilmuku karena aku tidak praktek. Banyak yang menganggap kuliahku dulu sia-sia karena tidak praktek. Memang jarang yang bisa mengerti kecintaanku pada masalah kesehatan dan bukan pada masalah medis.
Medis terasa sangat menjemukan dan tidak banyak yang bisa dilakukan. Kadang-kadang membawa frustasi karena kita tidak bisa lengkap mengobati seseorang, maklumlah fasilitas dan prasarana negri ini memang masih jeblok. Tetapi dalam masalah kesehatan sungguh dinamis dan banyak variasi maupun kreatifitas, yang membuat hari-hari kita terasa sangat menyenangkan dan tidak membosankan. Begitulah. Mengerti??
Medis terasa sangat menjemukan dan tidak banyak yang bisa dilakukan. Kadang-kadang membawa frustasi karena kita tidak bisa lengkap mengobati seseorang, maklumlah fasilitas dan prasarana negri ini memang masih jeblok. Tetapi dalam masalah kesehatan sungguh dinamis dan banyak variasi maupun kreatifitas, yang membuat hari-hari kita terasa sangat menyenangkan dan tidak membosankan. Begitulah. Mengerti??
Saturday, October 13, 2007
Pelukis Impresionis
Hari ini ga biasanya Metro TV tayangin feature tentang collector seni dari Inggris Coultre kalo ga salah namanya. Yang dikoleksi oleh bapak satu ini kebanyakan lukisan impressionis yang top punya: Manet, Cezanne, Renoir, Van Gogh dll. Dan semua koleksinya adalah masterpiece. Seneng banget deh, sering2 nape puter feature kayak gini.
Diantara semua aliran lukisan aku memang paling senang dengan impressionis. Favoritku adalah Sunflowernya Van Gogh dan satunya lagi water liliesnya Monet. Tapi sebenarnya aku senang semua lukisan impressionis itu. Waktu mengunjungi Tatler – Modern Gallery, yang memajang karya seniman post mod, lumayan kaget juga waktu ketemu dengan water liliesnya Monet, dan beda dengan bayanganku, lukisannya panjang banget. Pertama kali melihatnya aku serasa dalam mimpi, ga kebayang akhirnya bisa melihat lukisan aslinya. Wuih, sensasinya beda banget. Sedang di National Gallery, aku puas-puasin deh liat karyanya Van Gogh, Monet, Renoir, Desgas dan kebetulan ada pameran khusus Cezanne. Puas banget, biasanya aku kan hanya beli bukunya saja. Gimana lagi, mo beli lukisannya pasti ga tercapai dengan kantungku yang cekak. Paling banter beli repronya...hahahaha... dasar orang miskin.
Tapi pelukis impressionis itu memikat perhatian karena tehniknya sangat hebat, tidak ada garis yang tegas, semuanya permainan warna yang membentuk image tumbuhan, manusia dll. Pada intinya mereka berusaha menangkap cahaya, dan hasilnya... wow sangat indah. Impressionis, sampai kapanpun adalah aliran the best buatku.
Diantara semua aliran lukisan aku memang paling senang dengan impressionis. Favoritku adalah Sunflowernya Van Gogh dan satunya lagi water liliesnya Monet. Tapi sebenarnya aku senang semua lukisan impressionis itu. Waktu mengunjungi Tatler – Modern Gallery, yang memajang karya seniman post mod, lumayan kaget juga waktu ketemu dengan water liliesnya Monet, dan beda dengan bayanganku, lukisannya panjang banget. Pertama kali melihatnya aku serasa dalam mimpi, ga kebayang akhirnya bisa melihat lukisan aslinya. Wuih, sensasinya beda banget. Sedang di National Gallery, aku puas-puasin deh liat karyanya Van Gogh, Monet, Renoir, Desgas dan kebetulan ada pameran khusus Cezanne. Puas banget, biasanya aku kan hanya beli bukunya saja. Gimana lagi, mo beli lukisannya pasti ga tercapai dengan kantungku yang cekak. Paling banter beli repronya...hahahaha... dasar orang miskin.
Tapi pelukis impressionis itu memikat perhatian karena tehniknya sangat hebat, tidak ada garis yang tegas, semuanya permainan warna yang membentuk image tumbuhan, manusia dll. Pada intinya mereka berusaha menangkap cahaya, dan hasilnya... wow sangat indah. Impressionis, sampai kapanpun adalah aliran the best buatku.
Thursday, October 11, 2007
Tempat berlindung di hari tua....
Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Tetap dipuja-puja bangsa
Di sana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Sampai akhir menutup mata
Kusendandungkan lagu itu di tengah kesepian kamar kos-ku. Tiada TV dan jika ingin sekedar berjalan-jalan di kota ini, ruang gerakku terasa sangat sempit, karena kota yang hanya berupa pulau ini tidak menawarkan mall atau toko buku, sungguh beda dengan kota yang telah membesarkan aku sejak lahir di pulau jawa nun jauh di sana. Walaupun hampir semua pelosok nusantara ini sudah kujalani, ini kali pertama aku hidup di daerah kepulauan, tepatnya Maluku Utara. Ternate, sang ibu kota adalah pulau dimana gunung Gamalama menjulang. Aku menjadi sedikit claustrophobic di sini. Keluasan wilayah yang biasa kutempati sungguh kontras dengan pulau yang sekarang kutempati.Timor Barat,Teluk Bintuni di Papua yang luas, Jakarta, Pandeglang, Jogja, Bandung, Sukabumi,Jambi dan Payakumbuh lebih merupakan benua bagiku saat itu.
Tetapi aku bersyukur bisa tinggal dan hidup di daerah ini. Tempat sejarah panjang terbentang. Sebagai orang Indonesia, kesultanan Ternate-Tidore yang pernah menguasai bagian Timur Indonesia sampai daerah kepala burung papua yang sampai sekarang tetap menjadi basis muslim papua, telah kukenal dari pelajaran sejarah Indonesia sejak aku masih di SD. Dan kekayaan pengetahuanku sekarang bertambah bahwa kesultanan di Maluku ternyata bukan sekedar Ternate-Tidore tetapi juga mencakup kesultanan di Jailolo, Bacan dan Sulu, yang bisa dipastikan masih kurang dikenal oleh sebagian besar bangsa Indonesia. Dan masih pula bersambung dengan Banda Neira di Maluku, maupun kepulauan Kei. Tidak begitu heran kenapa ada klan Alkatiri di Timor Leste, karena kesultanan tadi itu juga sempat sampai ke kepulauan nusa tenggara timur.
Seandainya aku hanya mengenal Jakarta dan pulau Jawa, bisa dipastikan sekarang aku sudah sangat desperado untuk bisa mengganti kewarganegaraanku dengan permanent residence di negara lain. Seandainya hanya Jakarta yang aku kenal aku sudah pasti akan sangat membenci negri ini, tidak akan pernah kusenandungkan Indonesia Pusaka dengan nada sayang. Tak kan pernah kutahu betapa indahnya negri ini dan betapa kubersyukur dilahirkan di negri ini. Membela ibu pertiwi tidak boleh diterjemahkan sekedar dari ancaman luar, tetapi justru dari ancaman di dalam. Negri ini sudah dikenal dengan penyakit korupsinya yang sungguh kronis dan pada stadium yang sangat parah. Cukup membuat beberapa persen warganya yang pernah memegang kewarganegaraan ini menjadi sangat malu disebut sebagai orang Indonesia dan menjadi sangat membenci Indonesia.
Di masa aku masih remaja dulu, aku juga pernah membenci negri ini, untunglah pekerjaanku membawaku ke seluruh pelosok negri sehingga bisa mengenali ibu pertiwi yang cantik jelita dan jatuh cinta padanya. Kini aku sungguh mencintai ibu, walaupun jangan pernah berharap aku untuk mau ikut upacara bendera selama negri ini masih dipimpin oleh orang-orang yang masih memafaatkan kekayaan negri ini hanya untuk kepentingan diri dan kelompoknya. Maaf saja, kalau aku harus mengikuti kegiatan yang sungguh munafik itu. Tidak adanya menghormati bendera secara fisik saja, yang terpenting bagiku adalah menghormati dari lubuk hati dengan membuatnya sembuh dari penyakit kronisnya. Aku tahu pandanganku ini juga bukan pandangan yang 100% benar, tapi aku tidak punya cara lain untuk mencintai tanpa mengorbankan idealismeku.
Pernah kujelajahi hutan tropisnya, dimana pohon-pohon besar menaungiku dan siamang bersahut-sahutan dan burung rangkong berkepak kencang persis seperti bunyi helikopter, dan mandi di sungai jernihnya ditemani udang dan suara burung bersahutan. Pernah kunikmati daerah hutan bakau perawannya yang kaya dengan kekayaan lautnya, memandangi hutan sagu dan burung-burungnya yang berbeda dengan di wilayah barat Indonesia, atau dinginnya daerah pegunungan dengan danau prahistorisnya terbentang luas. Pernah juga kujelajahi daerah sabana dengan anginnya yang kencang dan pegunungan karangnya, dimana pohon-pohon lontar berdiri berjajar seperti tentara berbaris. Daerah pantai selatan dan pantai utara Jawa pun kukenal hampir ke sudut-sudutnya, dibeberapa tempat masih menyisakan pemandangan yang belum tercemar polusinya, menikmati sunset di atas karang yang menghadap ke lautan luas, lautan Indonesia, dan malam-malam gelap dimana bulan mati, aku dan beberapa rekan menunggu dan mengintip penyu besar bertelur di pantai Ujung genteng. Dan sekarang aku menikmati akuarium besar kapanpun aku mau di tanah ternate dan tidore. Kalau aku sampai tidak mencintai negri ini sungguh memalukan.
........................
Tempat berlindung di hari tua
Sampai akhir menutup mata
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Tetap dipuja-puja bangsa
Di sana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Sampai akhir menutup mata
Kusendandungkan lagu itu di tengah kesepian kamar kos-ku. Tiada TV dan jika ingin sekedar berjalan-jalan di kota ini, ruang gerakku terasa sangat sempit, karena kota yang hanya berupa pulau ini tidak menawarkan mall atau toko buku, sungguh beda dengan kota yang telah membesarkan aku sejak lahir di pulau jawa nun jauh di sana. Walaupun hampir semua pelosok nusantara ini sudah kujalani, ini kali pertama aku hidup di daerah kepulauan, tepatnya Maluku Utara. Ternate, sang ibu kota adalah pulau dimana gunung Gamalama menjulang. Aku menjadi sedikit claustrophobic di sini. Keluasan wilayah yang biasa kutempati sungguh kontras dengan pulau yang sekarang kutempati.Timor Barat,Teluk Bintuni di Papua yang luas, Jakarta, Pandeglang, Jogja, Bandung, Sukabumi,Jambi dan Payakumbuh lebih merupakan benua bagiku saat itu.
Tetapi aku bersyukur bisa tinggal dan hidup di daerah ini. Tempat sejarah panjang terbentang. Sebagai orang Indonesia, kesultanan Ternate-Tidore yang pernah menguasai bagian Timur Indonesia sampai daerah kepala burung papua yang sampai sekarang tetap menjadi basis muslim papua, telah kukenal dari pelajaran sejarah Indonesia sejak aku masih di SD. Dan kekayaan pengetahuanku sekarang bertambah bahwa kesultanan di Maluku ternyata bukan sekedar Ternate-Tidore tetapi juga mencakup kesultanan di Jailolo, Bacan dan Sulu, yang bisa dipastikan masih kurang dikenal oleh sebagian besar bangsa Indonesia. Dan masih pula bersambung dengan Banda Neira di Maluku, maupun kepulauan Kei. Tidak begitu heran kenapa ada klan Alkatiri di Timor Leste, karena kesultanan tadi itu juga sempat sampai ke kepulauan nusa tenggara timur.
Seandainya aku hanya mengenal Jakarta dan pulau Jawa, bisa dipastikan sekarang aku sudah sangat desperado untuk bisa mengganti kewarganegaraanku dengan permanent residence di negara lain. Seandainya hanya Jakarta yang aku kenal aku sudah pasti akan sangat membenci negri ini, tidak akan pernah kusenandungkan Indonesia Pusaka dengan nada sayang. Tak kan pernah kutahu betapa indahnya negri ini dan betapa kubersyukur dilahirkan di negri ini. Membela ibu pertiwi tidak boleh diterjemahkan sekedar dari ancaman luar, tetapi justru dari ancaman di dalam. Negri ini sudah dikenal dengan penyakit korupsinya yang sungguh kronis dan pada stadium yang sangat parah. Cukup membuat beberapa persen warganya yang pernah memegang kewarganegaraan ini menjadi sangat malu disebut sebagai orang Indonesia dan menjadi sangat membenci Indonesia.
Di masa aku masih remaja dulu, aku juga pernah membenci negri ini, untunglah pekerjaanku membawaku ke seluruh pelosok negri sehingga bisa mengenali ibu pertiwi yang cantik jelita dan jatuh cinta padanya. Kini aku sungguh mencintai ibu, walaupun jangan pernah berharap aku untuk mau ikut upacara bendera selama negri ini masih dipimpin oleh orang-orang yang masih memafaatkan kekayaan negri ini hanya untuk kepentingan diri dan kelompoknya. Maaf saja, kalau aku harus mengikuti kegiatan yang sungguh munafik itu. Tidak adanya menghormati bendera secara fisik saja, yang terpenting bagiku adalah menghormati dari lubuk hati dengan membuatnya sembuh dari penyakit kronisnya. Aku tahu pandanganku ini juga bukan pandangan yang 100% benar, tapi aku tidak punya cara lain untuk mencintai tanpa mengorbankan idealismeku.
Pernah kujelajahi hutan tropisnya, dimana pohon-pohon besar menaungiku dan siamang bersahut-sahutan dan burung rangkong berkepak kencang persis seperti bunyi helikopter, dan mandi di sungai jernihnya ditemani udang dan suara burung bersahutan. Pernah kunikmati daerah hutan bakau perawannya yang kaya dengan kekayaan lautnya, memandangi hutan sagu dan burung-burungnya yang berbeda dengan di wilayah barat Indonesia, atau dinginnya daerah pegunungan dengan danau prahistorisnya terbentang luas. Pernah juga kujelajahi daerah sabana dengan anginnya yang kencang dan pegunungan karangnya, dimana pohon-pohon lontar berdiri berjajar seperti tentara berbaris. Daerah pantai selatan dan pantai utara Jawa pun kukenal hampir ke sudut-sudutnya, dibeberapa tempat masih menyisakan pemandangan yang belum tercemar polusinya, menikmati sunset di atas karang yang menghadap ke lautan luas, lautan Indonesia, dan malam-malam gelap dimana bulan mati, aku dan beberapa rekan menunggu dan mengintip penyu besar bertelur di pantai Ujung genteng. Dan sekarang aku menikmati akuarium besar kapanpun aku mau di tanah ternate dan tidore. Kalau aku sampai tidak mencintai negri ini sungguh memalukan.
........................
Tempat berlindung di hari tua
Sampai akhir menutup mata
Wednesday, September 05, 2007
Ramadhan cepet datang!!!
Bulan puasa sebentar lagi tiba, persiapannya, jreng..jreng..jreng.. :
1. Siap-siap nahan lapar ….. check
2. siap-siap nahan haus …. Check
3. Mukena….. check
4. Qur’an … check
5. pemanas makanan … check
6. Buka mata waktu sahur….eee…kemana ya mata gw, aduh bantal..aduh guling… aduh emak….
Tantangan terbesarnya adalah bangun untuk makan sahur. Dasar tumor alias tukang molor. Mana sendirian... godaan untuk tidak sahur biasanya lebih kenceng klo sendirian dibanding klo barengan orang lain. Huahahaha....dasar pemalas.... yah, mudah2an kadar malasku berkurang tahun ini.
Ramadhan... cepet daatannggggg
1. Siap-siap nahan lapar ….. check
2. siap-siap nahan haus …. Check
3. Mukena….. check
4. Qur’an … check
5. pemanas makanan … check
6. Buka mata waktu sahur….eee…kemana ya mata gw, aduh bantal..aduh guling… aduh emak….
Tantangan terbesarnya adalah bangun untuk makan sahur. Dasar tumor alias tukang molor. Mana sendirian... godaan untuk tidak sahur biasanya lebih kenceng klo sendirian dibanding klo barengan orang lain. Huahahaha....dasar pemalas.... yah, mudah2an kadar malasku berkurang tahun ini.
Ramadhan... cepet daatannggggg
Sunday, August 26, 2007
Basa Sunda yeuh
Kongkorongok hayam melung
Ngalilirkeun pangimpian
Hate tambih kaduhung
Abdi lilir, ceurik balilihan
Kapungkur mah, anjeunna panutan abdi
Ayeuna mah parantos direbut deungeun
Malihan mah tos paheut rek direndengkeun
Pileuleuyan, aduh engkang, pileuleuyan.
Ieu teh lagu ti jaman lawas, ti kawit abdi masih alit pisan. Duka kunaon tara hilap dugi ka ayeuna. Muhun sim kuring mah ti tatar sunda, pasundan panginten kasebatna. Ti borojol tina patuangan pun biang dugi ka lulusna paguron luhur teh aya di Bandung. Tos kitu aya we kana opat taunna gaduh damel di bogor sareng sukabumi. Eta lagu nu di luhur dugi ka apalna, panginten kulantaran ampir unggal dinten dipasang ku pun bapa, dugi ka ageung ge teras wae aya na emutan. Duh, ku endah eta lagu, lagu patah hati, tapi teu sapertos lagu2 jaman ayeuna nu pikasebeleun, sapertos laguna neng Desi ”Tenda Biru”.
Kunaon nya aya kuhoyong nyerat blog dina basa sunda. Emutan teh bakalan lucu we. Sanaos sok rada pabaliut, kumargi tos lami langka nyarios na basa sunda teh. Maklum lah padamelan teh langkung seueur di luar p jawa. Saleresna mah sering tepang sareng urang sunda, mung belegugna teh arang langka nyarios na basa sunda, sok basa Indonesia we. Eta ge aya rerencangan nu tos lami sakola di bandung, sok ngajakan nyarios basa sunda. Tapi yey, sok ararateul cepil lah da maranehanana mah teu terang kana undak usuk basa. Nya kuring ge teu patos sae nerapkeunana, tapi pami ngupingkeun basa anu kasar mah sok teu tegel we. Tungtungna mah diajakan we nyarios na basa indonesia atanapi basa-basa sejen.
Aya oge jinis lain, urang sunda nu ngangken teu tiasa deui nyarios sunda. Nu kieu tah nu pikaresepeun... maksadna pikaresepen peureup, hag siah, sok masihan yeuh hiji peureupna. Naha maranehna teh teu ”bangga” – ieu mah bangga basa indonesia nya, sanes basa sunda – kituh janten urang sunda? Padahal pami pendak sareng sambel tarasi, peuteuy jengkol mah aya ku segut... hihihi, na janten nyarioskeun batur nya? Tos ah sakieu heula. Sugan jeung sugan gaduh ilham deui kangge nulis blog na basa sunda... sampurasun.
Tembang sejen
Hayu batur, hayu batur
Urang kumpul sarerea
Hayu batur, hayu batur
Urang sosonoan heula
Pileuleuyan, pileuleuyan,
Sapu nyere pegat simpai
Pileuleuyan, pileuleuyan
Paturay patepang deui
Amit mundur, amit mundur
Amit ka jalma nu rea
Amit mundur, amit mundur
Da kuring arek ngumbara
Panutupan
(Seja nyaba ngalalana, ngitung lembur ngajajah milangan kori, henteu puguh nu dijugjug, balikan paman sadaya, na kunaon tiluan semu rarusuh, lurah begal ngawalonan, aing ngaran Jayapati)
Ngalilirkeun pangimpian
Hate tambih kaduhung
Abdi lilir, ceurik balilihan
Kapungkur mah, anjeunna panutan abdi
Ayeuna mah parantos direbut deungeun
Malihan mah tos paheut rek direndengkeun
Pileuleuyan, aduh engkang, pileuleuyan.
Ieu teh lagu ti jaman lawas, ti kawit abdi masih alit pisan. Duka kunaon tara hilap dugi ka ayeuna. Muhun sim kuring mah ti tatar sunda, pasundan panginten kasebatna. Ti borojol tina patuangan pun biang dugi ka lulusna paguron luhur teh aya di Bandung. Tos kitu aya we kana opat taunna gaduh damel di bogor sareng sukabumi. Eta lagu nu di luhur dugi ka apalna, panginten kulantaran ampir unggal dinten dipasang ku pun bapa, dugi ka ageung ge teras wae aya na emutan. Duh, ku endah eta lagu, lagu patah hati, tapi teu sapertos lagu2 jaman ayeuna nu pikasebeleun, sapertos laguna neng Desi ”Tenda Biru”.
Kunaon nya aya kuhoyong nyerat blog dina basa sunda. Emutan teh bakalan lucu we. Sanaos sok rada pabaliut, kumargi tos lami langka nyarios na basa sunda teh. Maklum lah padamelan teh langkung seueur di luar p jawa. Saleresna mah sering tepang sareng urang sunda, mung belegugna teh arang langka nyarios na basa sunda, sok basa Indonesia we. Eta ge aya rerencangan nu tos lami sakola di bandung, sok ngajakan nyarios basa sunda. Tapi yey, sok ararateul cepil lah da maranehanana mah teu terang kana undak usuk basa. Nya kuring ge teu patos sae nerapkeunana, tapi pami ngupingkeun basa anu kasar mah sok teu tegel we. Tungtungna mah diajakan we nyarios na basa indonesia atanapi basa-basa sejen.
Aya oge jinis lain, urang sunda nu ngangken teu tiasa deui nyarios sunda. Nu kieu tah nu pikaresepeun... maksadna pikaresepen peureup, hag siah, sok masihan yeuh hiji peureupna. Naha maranehna teh teu ”bangga” – ieu mah bangga basa indonesia nya, sanes basa sunda – kituh janten urang sunda? Padahal pami pendak sareng sambel tarasi, peuteuy jengkol mah aya ku segut... hihihi, na janten nyarioskeun batur nya? Tos ah sakieu heula. Sugan jeung sugan gaduh ilham deui kangge nulis blog na basa sunda... sampurasun.
Tembang sejen
Hayu batur, hayu batur
Urang kumpul sarerea
Hayu batur, hayu batur
Urang sosonoan heula
Pileuleuyan, pileuleuyan,
Sapu nyere pegat simpai
Pileuleuyan, pileuleuyan
Paturay patepang deui
Amit mundur, amit mundur
Amit ka jalma nu rea
Amit mundur, amit mundur
Da kuring arek ngumbara
Panutupan
(Seja nyaba ngalalana, ngitung lembur ngajajah milangan kori, henteu puguh nu dijugjug, balikan paman sadaya, na kunaon tiluan semu rarusuh, lurah begal ngawalonan, aing ngaran Jayapati)
Thursday, August 16, 2007
Negri Di Awan

Angkot itu mulai merayap saat mulai menaiki jalan menuju ke desa Gurabunga di Tidore. Kemiringan jalan sepertinya di atas 30 derajat, membuatku merasa ada di dalam roket yang akan berangkat ke bulan - kayak yg udah pernah aja naik roket yak? Aku merasa sedikit cemas dengan posisiku di belakang dan beratku lumayan membebani angkot ini.
Temanku di belakang mulai mewawancarai penumpang di sebelahnya mencari informasi tentang desa gurabunga dan alat transportasi baliknya. Aku lebih senang diam, ini salah satu petualangan, untuk tersesat di sebuah desa di gunung yang ada di P Tidore... Resiko terbesar adalah pulangnya harus jalan kaki, tp dengan sepatu ketsku rasanya ga ada masalah dengan itu.
Excursion ini ternyata tidak sia-sia, karena aku menemukan satu desa yang indah di jaman ini. Aku menyebutnya desa paradiso, yang hanya ada di dalam lagu2nya Ismail Marzuki, tenang, indah dan damai. Tapi tiba2 nada dering hapeku berbunyi, ahhh, ternyata aku masih ada di abad 21.... suara ibuku membuatku tertarik kembali kemasa kini.
Ngalalana
Ngalalana a.k.a berkelana adalah cita-cita masa kecilku, bukan menjadi petualang lho. Otakku yang sangat penuh perhitungan tidak bersedia menanggung resiko yang harus dihadapi para petualang. Tapi sayap di kakikulah yang selalu mengompori otakku untuk menapaki semua sudut di bumi ini. Walaupun belum kesampaian untuk berkelana ke negara-negara lain, tetapi sudut-sudut Indonesia telah banyak ditapaki kaki mungilku... Mungil jika dibandingkan dengan kakinya Hagrid si raksasa itu, tetapi jangan dibandingkan dengan kaki nona2 Tiongkok di jaman Ming yang selalu mengikat kakinya agar tetap mungil.
Pengelanaanku membawaku ke kepulauan rempah-rempah di timur Indonesia. Kutapaki seinci demi seinci bumi Maluku Utara yang masih asri ini, entahlah akan berapa lama aku disini, belum bisa kupastikan. Tapi jam terbang pengelanaanku bertambah lagi mileages nya. Sayangnya tidak bisa ditukar dengan tiket gratis yak?
Friday, August 03, 2007
Enaknya menjadi orang indonesia
Dalam satu komunitas dunia maya di bawah sebuah koran online, seringkali orang menghujat betapa tidak enaknya menjadi hidup di Indonesia. Akupun pernah punya pemikiran yang sama, tetapi sekarang berubah, karena menjadi orang Indonesia itu sungguh enak. Mulai dari iklim yang ramah, biaya hidup yang relatif murah, gaya hidup yang lengkap dan tinggal pilih kita inginnya seperti apa. Jadi aku tidak punya alasan untuk tidak mensyukuri karuniaNya dengan dilahirkan dan hidup di negri ini.
Walaupun mungkin listnya akan panjang, aku akan membuatnya supaya diriku bisa tetap mengingat dan mensyukuri karunia ini:
1. Iklim: Iklim tropis Indonesia dengan kelembaban tinggi membuat kulitku sehat, tidak bersisik (ga butuh body lotion banyak2) dan licin tanpa harus melakukan wax untuk mencabut bulu-bulunya, tan dan bersih (cukup dengan luluran semua daki terhapus sudah)
2. Hanya 2 musim: perbedaan suhu antar musim hujan dan musim panas tidak ekstrim, kalau beli baju tidak perlu mikir, satu jenis untuk semua musim, bisa tampil modis (bayangkan di negri2 dengan salju, dimusim dingin semua orang kayak beruang karena harus pakai jaket berlapis2, walaupun jaketnya dibuat semodis mungkin)
3. Murah: kalau dibandingin dengan biaya hidup di negara-negara maju sangat murah, dengan gajiku saja aku masih mampu membeli barang-barang branded, dan bisa makan di resto2 terkenal yang enak. Sedangkan klo di LN makan di resto mungkin hanya bisa dinikmati oleh mereka yang benar2 kaya, atau pada kesempatan tertentu saja.
4. Gaya hidup: mau bergaya urban atau rural bisa saja. Aku sering mentertawakan teman2ku yang terbengong-bengong dengan minimnya mal di kota2 besar negara Eropa. Lha, kalo cuma mau ke mal mah jangan ke Europa atuh, siapa juga yg mau bikin mal banyak2 wong penduduknya dikit gitu. Kalo di Indonesia mall pasti laku. Di Europa klo mo belanja branded ya ke boutique sekalian, yg bener2 tak terjangkau kantongku, ya dak?
5. Natural: Selama ini sukar menemukan negara dengan keindahan alam seperti Indonesia, swear, belum ada yang bisa ngalahin deh pamandangan alam Indonesia, makanya ga heran klo Porto n Belanda betah banget waktu bisa menjajah di sini. Apalagi dengan rantaian gunung berapinya yang ada hampir di semua wilayah, kecuali kalimantan kali? Keindahan lautnya, ga tertahankan......!! Mana ada negara yang bisa menandingi kekayaan laut Indonesia, Malaysia aja bela2in banget berusaha merebut beberapa pulaunya. I hate malay for their greedy.
6. Sebagai orang Indo kalau bisa jalan ke LN bakalan sangat menikmati 4 musimnya, bakalan bisa sangat senang klo ketemu salju dan juga sangat menikmati museumnya....
7. etc, etc....masih banyakkkkkkkk banget lainnya
Walaupun mungkin listnya akan panjang, aku akan membuatnya supaya diriku bisa tetap mengingat dan mensyukuri karunia ini:
1. Iklim: Iklim tropis Indonesia dengan kelembaban tinggi membuat kulitku sehat, tidak bersisik (ga butuh body lotion banyak2) dan licin tanpa harus melakukan wax untuk mencabut bulu-bulunya, tan dan bersih (cukup dengan luluran semua daki terhapus sudah)
2. Hanya 2 musim: perbedaan suhu antar musim hujan dan musim panas tidak ekstrim, kalau beli baju tidak perlu mikir, satu jenis untuk semua musim, bisa tampil modis (bayangkan di negri2 dengan salju, dimusim dingin semua orang kayak beruang karena harus pakai jaket berlapis2, walaupun jaketnya dibuat semodis mungkin)
3. Murah: kalau dibandingin dengan biaya hidup di negara-negara maju sangat murah, dengan gajiku saja aku masih mampu membeli barang-barang branded, dan bisa makan di resto2 terkenal yang enak. Sedangkan klo di LN makan di resto mungkin hanya bisa dinikmati oleh mereka yang benar2 kaya, atau pada kesempatan tertentu saja.
4. Gaya hidup: mau bergaya urban atau rural bisa saja. Aku sering mentertawakan teman2ku yang terbengong-bengong dengan minimnya mal di kota2 besar negara Eropa. Lha, kalo cuma mau ke mal mah jangan ke Europa atuh, siapa juga yg mau bikin mal banyak2 wong penduduknya dikit gitu. Kalo di Indonesia mall pasti laku. Di Europa klo mo belanja branded ya ke boutique sekalian, yg bener2 tak terjangkau kantongku, ya dak?
5. Natural: Selama ini sukar menemukan negara dengan keindahan alam seperti Indonesia, swear, belum ada yang bisa ngalahin deh pamandangan alam Indonesia, makanya ga heran klo Porto n Belanda betah banget waktu bisa menjajah di sini. Apalagi dengan rantaian gunung berapinya yang ada hampir di semua wilayah, kecuali kalimantan kali? Keindahan lautnya, ga tertahankan......!! Mana ada negara yang bisa menandingi kekayaan laut Indonesia, Malaysia aja bela2in banget berusaha merebut beberapa pulaunya. I hate malay for their greedy.
6. Sebagai orang Indo kalau bisa jalan ke LN bakalan sangat menikmati 4 musimnya, bakalan bisa sangat senang klo ketemu salju dan juga sangat menikmati museumnya....
7. etc, etc....masih banyakkkkkkkk banget lainnya
Monday, July 23, 2007
Harry Potter #7
Karena kepindahanku ke lokasi yang tidak ada toko bukunya, aku harap-harap cemas apakah akan sempat membeli bukunya saat terbit. Ternyata keberuntungan masih di pihakku aku bisa membelinya sebelum memasuki base baru pekerjaanku.
Tanggal 21 Juli 2007, kunanti dengan hati cemas. Malamnya aku langsung ke toko buku dan menanyakan apakah Harry Potter terbaru sudah terbit? Ternyata... gubrak, stafnya bilang kalau di tokonya belum, memang di jakarta sudah keluar. Aku tanyakan kapan terbitnya.... mak, dia bilang tidak tahu, sedihnya....! 2 hari kemudian aku mendatangi toko yang sama dengan tujuan membeli beberapa peralatan kantor. Ternyata Harry Potternya baru datang dan baru dipajang.... uh, terpaksalah aku membelinya dengan kartu kredit. Dan kuhabiskan malam dengan membacanya, sayang aku harus bekerja terpaksa kutunda menamatkannya, kalau tidak ingin masuk kantor sambil mata belekan.
JK Rowling memang cerdik, dia benar-benar menutup peluang ada yang menghidupkan lagi Harry Potter dalam serial lain. Walaupun bukan berarti Harry dimatikan, tapi justru ditutup dengan Harry 19 tahun kemudian, dan diceritakan secara ekplisit bahwa Harry hidup tenang setelah pertempuran terakhirnya dengan Voldemort. Karena itu ceritanya betul-betul tamat, finish, finito.
Aku rasa pertempuran nyata maupun pergolakan jiwa Harry bisa diangkat JK Rowling dengan sukses, benang merah yang dirangkai dari awal tidak ada yang terputus atau dibuat-buat. Dan penggambaran adegannya betul-betul menyeramkan dan tegang. Aku rasa tidak rugi membeli buku aslinya dan bukan terjemahannya, walaupun aku tetap harus membeli terjemahannya agar ibuku juga bisa turut membacanya. Benar, Harry Potter memang bukan buku anak-anak, seperti juga Lord of the Ring, aku rasa batasan umur minimal adalah remaja, karena beberapa pergolakan batin dan teror voldemort akan sangat menganggu ketentraman jiwa anak-anak. Ada sedikit penyesalan karena tidak ada lagi yang perlu ditunggu, tapi tidak apa, ini kesempatan untuk munculnya ide baru lain.
Tanggal 21 Juli 2007, kunanti dengan hati cemas. Malamnya aku langsung ke toko buku dan menanyakan apakah Harry Potter terbaru sudah terbit? Ternyata... gubrak, stafnya bilang kalau di tokonya belum, memang di jakarta sudah keluar. Aku tanyakan kapan terbitnya.... mak, dia bilang tidak tahu, sedihnya....! 2 hari kemudian aku mendatangi toko yang sama dengan tujuan membeli beberapa peralatan kantor. Ternyata Harry Potternya baru datang dan baru dipajang.... uh, terpaksalah aku membelinya dengan kartu kredit. Dan kuhabiskan malam dengan membacanya, sayang aku harus bekerja terpaksa kutunda menamatkannya, kalau tidak ingin masuk kantor sambil mata belekan.
JK Rowling memang cerdik, dia benar-benar menutup peluang ada yang menghidupkan lagi Harry Potter dalam serial lain. Walaupun bukan berarti Harry dimatikan, tapi justru ditutup dengan Harry 19 tahun kemudian, dan diceritakan secara ekplisit bahwa Harry hidup tenang setelah pertempuran terakhirnya dengan Voldemort. Karena itu ceritanya betul-betul tamat, finish, finito.
Aku rasa pertempuran nyata maupun pergolakan jiwa Harry bisa diangkat JK Rowling dengan sukses, benang merah yang dirangkai dari awal tidak ada yang terputus atau dibuat-buat. Dan penggambaran adegannya betul-betul menyeramkan dan tegang. Aku rasa tidak rugi membeli buku aslinya dan bukan terjemahannya, walaupun aku tetap harus membeli terjemahannya agar ibuku juga bisa turut membacanya. Benar, Harry Potter memang bukan buku anak-anak, seperti juga Lord of the Ring, aku rasa batasan umur minimal adalah remaja, karena beberapa pergolakan batin dan teror voldemort akan sangat menganggu ketentraman jiwa anak-anak. Ada sedikit penyesalan karena tidak ada lagi yang perlu ditunggu, tapi tidak apa, ini kesempatan untuk munculnya ide baru lain.
Wednesday, July 11, 2007
ALIVE, miracle in Andes
Tragedi ini secara garis besar sudah kuketahui saat SMP dulu, dari majalah HAI. Tentang kecelakaan pesawat di Andes, yang membuat para survivornya bisa selamat dengan mengkonsumsi mayat teman-temannya. Duapuluh tahun kemudian baru diterbitkan terjemahannya dalam bahasa Indonesia, padahal aslinya terbit tahun 1973. Bersamaan dengan terbitnya terjemahan memoir salah satu penumpangnya yaitu Nando Parrado. Di toko buku aku bingung, tetapi akhirnya aku membeli kedua buku itu, dengan pemikiran biasanya satu topik yang luar biasa memerlukan beberapa sumber yang berlainan untuk bisa paham isinya. Ingatan yang tidak lengkap dari artikel yang disarikan dari buku Alive, membuat aku membalik lembar demi lembar penuh antusias. Huh, tetap tak terbayangkan seperti apa rasanya pengalaman seperti itu. Pengalaman yang memaksa manusia melewati limit batasnya untuk menerjang norma-norma yang berlaku tanpa membuat mereka terkena dampak psikologisnya. Ini memang kisah yang hebat, apapun yang terjadi manusia memang tidak pantas untuk berputus asa. Tuhan sudah memberi kehidupan, bukan hak kita untuk mencabutnya. Malaikat maut tidak pernah diketahui kedatangannya, dekat tetapi juga jauh, akrab tetapi juga asing. Suatu pengalaman spiritual yang tidak akan mudah dilupakan oleh siapapun yang mengalaminya.
Monday, July 02, 2007
Lieur euy
Bikin proposal kalo materinya sudah dikuasai gampang banget. Maksudku untuk keahlianku, aku bisa ngecap dengan mudah. Tapi kalau materinya lain, mana harus ngedevelop tools nya, bener-bener bikin otak berasap. Terus sifat perfectionisku jadi hambatan, dan ga adanya sparring partner. Malas sih ngerjainnya tapi kok kayak menemukan tantangan trus ga bikin usaha sama sekali. Tooloooooooong....!
Sunday, June 24, 2007
COMRO dan kawan-kawan
Comro singkatan dari oncom di jero alias oncom di dalam. Penganan ini adalah favoritku untuk camilan dibandingkan dengan pisang goreng, tahu goreng atau gorengan lain. Rasanya asin dengan isian oseng oncom yang pedas. Sebenarnya comro tidak sah kalau makannya tidak sampai tersedak kepedasan sampai keluar air mata, hihihi.
Yang paling enak jika isinya tebuat dari oncom asli, bukan ampas tahu yang diragikan. Tentu saja dari segi kesehatan oncom cukup berbahaya untuk hati karena dicurigai sebagai penyebab kanker hati. Oncom asli biasanya terbuat dari kacang tanah yang diragikan seperti membuat tempe. Aslinya akan ada rasa sedikit pahit pada oncom itu.
Berbeda dengan di jakarta yang kulitnya dibuat renyah tetapi lunak, favoritku tetap comro di bandung yang kulitnya dari parutan singkong dengan bumbu ketumbar dan bawang daun, sedangkan isiannya selain dimasukan cabe rawit dan daun kemangi bumbu kencur yang banyak. Kerenyahan yang aku anggap pas untuk mulutku harus disertai kulitnya yang agak kenyal untuk dikunyah jika sudah dingin, pokoknya gusi bisa berdarah deh kalau ngunyah comro, hihihi, pasti seleraku dianggap aneh. Tapi itulah comro sejati, rasa yang kunikmati saat aku di SD dulu. Ada tantangan tersendiri jika kita jajan comro, tapi juga rasanya yang enak membuat makanan ini jadi favoritku. Bahkan di keluargaku rata-rata tidak suka dengan pedasnya yang ga kepalang.
Favorit kedua adalah serabi telur dengan kuah gula. Asli, susah banget bikinnya, belum sekalipun aku sukses bikin adonannya. Padahal buku resep sudah terbentang di hadapanku sebagai referensi. Akhirnya aku lebih senang searching toko kue saja untuk mencarinya. Kadang kutambah dengan membeli putu mayang yang berkuah gula juga. Hmmm, wangi pandan bercampur santan dan gula yang legit manis itu, tak terkatakan deh nikmatnya.
Camilan lainnya adalah ketan bakar berbumbu. Sambalnya ada 3 macam yaitu serundeng, sambal oncom atau sambal kacang biasa. Paling enak kalau ketiga sambal ini disatukan sebagai cocolan ketan bakar, apalagi kalau bakarnya sampai agak-agak gosong, terus dibungkus dengan daun pisang. Jangan langsung dimakan lho, selain masih sangat panas juga nunggu sampai daun pisangnya layu dan akan memberikan harum tersendiri. Ketan bakar ini sangat susah ditemukan di luar wilayah Bandung dan puncak.
Selain camilan makanan favoritku adalah semua yang mengandung lontong atau ketupat. Di cianjur dulu ada ketupat sayur yang enak banget, ajib deh. Sayangnya sekarang tidak bisa ditelusuri lagi keberadaannya karena pasar tradisionalnya juga sudah berubah banyak. Kalau di Bandung aku suka lontong kari, sama juga sudah tidak mungkin aku makan lagi di tempat masa kecilku dulu karena tempat jualannya sudah dibongkar bahkan jauh sebelum aku dewasa. Tetapi masih ada harapan untuk lontong kari ini, karena menurut komunitas jalan sutra, di kebun karet ada yang menjual lontong kari yang enak. Perlu dihunting nih. Selain lontong kari, nasi soto bandung yang bening dan hanya berisi daging, lobak dan kacang kedelai di sebuah warung saat pasar baru masih belum dirombak juga asyik banget, kalau aku dan nenekku mampir di warung itu pasti aku hanya mau makan nasi soto dan es shanghainya saja. Ga ada menu lain yang akan aku cicipi. Yup, itu semua makanan kenangan masa kecilku, masih ada yang bisa aku nikmati, tetapi sebagian besar sudah tidak bisa aku rasakan lagi. Seperti es shanghai, sudah ga ada lagi yang membuatnya seperti dulu. Padahal kalau tetap dilestarikan walaupun harganya mahal pasti banyak yang akan membelinya, gw yakin banget.
Kalau diingat-ingat semua makanan yang jadi favoritku adalah makanan yang biasa aku beli bersama Ene, alias nenekku, orang yang selalu ada disisiku sampai aku remaja, feminis pertama di dunia ini yang aku kenal, tempat aku bermanja dan sekaligus aku takuti.
Yang paling enak jika isinya tebuat dari oncom asli, bukan ampas tahu yang diragikan. Tentu saja dari segi kesehatan oncom cukup berbahaya untuk hati karena dicurigai sebagai penyebab kanker hati. Oncom asli biasanya terbuat dari kacang tanah yang diragikan seperti membuat tempe. Aslinya akan ada rasa sedikit pahit pada oncom itu.
Berbeda dengan di jakarta yang kulitnya dibuat renyah tetapi lunak, favoritku tetap comro di bandung yang kulitnya dari parutan singkong dengan bumbu ketumbar dan bawang daun, sedangkan isiannya selain dimasukan cabe rawit dan daun kemangi bumbu kencur yang banyak. Kerenyahan yang aku anggap pas untuk mulutku harus disertai kulitnya yang agak kenyal untuk dikunyah jika sudah dingin, pokoknya gusi bisa berdarah deh kalau ngunyah comro, hihihi, pasti seleraku dianggap aneh. Tapi itulah comro sejati, rasa yang kunikmati saat aku di SD dulu. Ada tantangan tersendiri jika kita jajan comro, tapi juga rasanya yang enak membuat makanan ini jadi favoritku. Bahkan di keluargaku rata-rata tidak suka dengan pedasnya yang ga kepalang.
Favorit kedua adalah serabi telur dengan kuah gula. Asli, susah banget bikinnya, belum sekalipun aku sukses bikin adonannya. Padahal buku resep sudah terbentang di hadapanku sebagai referensi. Akhirnya aku lebih senang searching toko kue saja untuk mencarinya. Kadang kutambah dengan membeli putu mayang yang berkuah gula juga. Hmmm, wangi pandan bercampur santan dan gula yang legit manis itu, tak terkatakan deh nikmatnya.
Camilan lainnya adalah ketan bakar berbumbu. Sambalnya ada 3 macam yaitu serundeng, sambal oncom atau sambal kacang biasa. Paling enak kalau ketiga sambal ini disatukan sebagai cocolan ketan bakar, apalagi kalau bakarnya sampai agak-agak gosong, terus dibungkus dengan daun pisang. Jangan langsung dimakan lho, selain masih sangat panas juga nunggu sampai daun pisangnya layu dan akan memberikan harum tersendiri. Ketan bakar ini sangat susah ditemukan di luar wilayah Bandung dan puncak.
Selain camilan makanan favoritku adalah semua yang mengandung lontong atau ketupat. Di cianjur dulu ada ketupat sayur yang enak banget, ajib deh. Sayangnya sekarang tidak bisa ditelusuri lagi keberadaannya karena pasar tradisionalnya juga sudah berubah banyak. Kalau di Bandung aku suka lontong kari, sama juga sudah tidak mungkin aku makan lagi di tempat masa kecilku dulu karena tempat jualannya sudah dibongkar bahkan jauh sebelum aku dewasa. Tetapi masih ada harapan untuk lontong kari ini, karena menurut komunitas jalan sutra, di kebun karet ada yang menjual lontong kari yang enak. Perlu dihunting nih. Selain lontong kari, nasi soto bandung yang bening dan hanya berisi daging, lobak dan kacang kedelai di sebuah warung saat pasar baru masih belum dirombak juga asyik banget, kalau aku dan nenekku mampir di warung itu pasti aku hanya mau makan nasi soto dan es shanghainya saja. Ga ada menu lain yang akan aku cicipi. Yup, itu semua makanan kenangan masa kecilku, masih ada yang bisa aku nikmati, tetapi sebagian besar sudah tidak bisa aku rasakan lagi. Seperti es shanghai, sudah ga ada lagi yang membuatnya seperti dulu. Padahal kalau tetap dilestarikan walaupun harganya mahal pasti banyak yang akan membelinya, gw yakin banget.
Kalau diingat-ingat semua makanan yang jadi favoritku adalah makanan yang biasa aku beli bersama Ene, alias nenekku, orang yang selalu ada disisiku sampai aku remaja, feminis pertama di dunia ini yang aku kenal, tempat aku bermanja dan sekaligus aku takuti.
Wednesday, June 20, 2007
DVD Bajakan
Untuk film, mungkin Indonesia adalah surganya mendapatkan DVD atau VCD terbaru yang bajakan. Lucunya banyak juga bule yang berkunjung ke Negara ini dan pulang dengan membawa oleh-oleh keeping disk haram itu. Padahal Negara mereka lah yang paling sewot dan menggembar-gemborkan hak intelektual untuk film bajakan. Tentu saja aku juga sering membeli barang bajakan itu. Terutama untuk serial-serial TV yang jarang ditampilkan di layar kaca kita.
Kenapa orang senang membeli barang bajakan ini padahal tidak sedikit yang tahu bahwa hal ini merugikan produsennya, istilahnya”sepanyol” atau separo nyolong? Mungkin karena harganya dan kelangkaan di pasar. Kalau dibandingkan harga cakram originalnya bisa sampai 15000 per keping, sedangkan bajakan bisa 6000 – 7000 perbuah. Walaupun mahal, bagiku untuk film-film favorit tidak keberatan juga untuk membeli originalnya. Harus diakui untuk masalah kualitas barang bajakan tidak tahan lama, jarang yang bisa diputar ulang berkali-kali tanpa merusak playernya.
Sebenarnya untuk film hollywood maupun film india, tidak begitu sulit untuk menemukan film originalnya. Tetapi ada beberapa tipe film yang sedikit penggemarnya di Indonesia ini seperti penggemar film Jepang, Korea dan Taiwan. Film maupun serial Jepang yang paling sulit didapatkan originalnya di Indonesia. Untungnya ada komunitas fansubber di dunia maya yang bisa membantu mendapatkan copynya. Kalau film Taiwan dan Korea masih lumayan bisa didapatkan originalnya di Indonesia, tetapi biasanya sudah kadaluarsa, sehingga tidak ada pilihan lain kecuali bajakan. Yeee... ngeles deh.
Aku hanya bisa berharap jika lebih banyak penggemarnya, mungkin satu saat film originalnya akan lebih banyak yang release di Indonesia. Yang paling pusing dari film oriental ini adalah tulisannya yang pakai kanji, sangat menyulitkan untuk membeli edisi aslinya dari Yess Asia ataupun toko-toko maya lainnya. Kalau sudah disub bahasa inggris atau bahasa indonesia barulah bisa dinikmati. Ya sudah terpaksa dinikmati bajakannya saja.
Kenapa orang senang membeli barang bajakan ini padahal tidak sedikit yang tahu bahwa hal ini merugikan produsennya, istilahnya”sepanyol” atau separo nyolong? Mungkin karena harganya dan kelangkaan di pasar. Kalau dibandingkan harga cakram originalnya bisa sampai 15000 per keping, sedangkan bajakan bisa 6000 – 7000 perbuah. Walaupun mahal, bagiku untuk film-film favorit tidak keberatan juga untuk membeli originalnya. Harus diakui untuk masalah kualitas barang bajakan tidak tahan lama, jarang yang bisa diputar ulang berkali-kali tanpa merusak playernya.
Sebenarnya untuk film hollywood maupun film india, tidak begitu sulit untuk menemukan film originalnya. Tetapi ada beberapa tipe film yang sedikit penggemarnya di Indonesia ini seperti penggemar film Jepang, Korea dan Taiwan. Film maupun serial Jepang yang paling sulit didapatkan originalnya di Indonesia. Untungnya ada komunitas fansubber di dunia maya yang bisa membantu mendapatkan copynya. Kalau film Taiwan dan Korea masih lumayan bisa didapatkan originalnya di Indonesia, tetapi biasanya sudah kadaluarsa, sehingga tidak ada pilihan lain kecuali bajakan. Yeee... ngeles deh.
Aku hanya bisa berharap jika lebih banyak penggemarnya, mungkin satu saat film originalnya akan lebih banyak yang release di Indonesia. Yang paling pusing dari film oriental ini adalah tulisannya yang pakai kanji, sangat menyulitkan untuk membeli edisi aslinya dari Yess Asia ataupun toko-toko maya lainnya. Kalau sudah disub bahasa inggris atau bahasa indonesia barulah bisa dinikmati. Ya sudah terpaksa dinikmati bajakannya saja.
Monday, June 18, 2007
ALIEN
Setelah ngobrol beberapa saat akhirnya orang itu menyebutku bukan aktivis. Aku tersenyum, memang bukan kalau yang dimaksud dengan aktivis adalah mereka yang melakukan demo kepada pemerintah dan berteriak-teriak meminta perubahan. Atau bersuara lantang terhadap hal-hal yang dianggap tidak sesuai dengan anggapan ideal kita. Tetapi apa yang sebenarnya sedang diperjuangkan oleh kita-kita yang mengaku bergerak di bidang humanis?
Yang aku ingin lakukan dan akan terus aku lakukan adalah membuat perubahan nyata pada keadaan yang aku anggap tidak ideal. Dan aku tidak perduli dengan besarannya. Aku hanya ingin membuat perubahan yang dirasakan manfaatnya bukan hanya oleh diriku tapi juga oleh orang lain.
Ibuku menanyakan kepadaku kenapa aku tetap ingin bekerja di NGO? dan dari mana gajiku berasal? Kenapa ada yang ingin memberikan dana kepada pekerjaan seperti aku? Pertanyaan-pertanyaan yang menuntut jawaban jujur dan mempertaruhkan kredibilitasku. Bagi ibuku tampaknya lebih jujur jika anak-anaknya bekerja di bidang profit yang memberikan kekayaan kepada pemilik perusahaan atau bekerja menjadi pegawai negri yang mengabdi pada negara. Dibandingkan dengan aku yang bekerja atas nama kemanusiaan dengan budget yang didanai oleh LN. Bagi ibuku aku lebih tampak sebagai pengkhianat negara yang bekerja untuk kepentingan asing.
Saat ini tampaknya xenophobia mulai merasuk di kalangan menengah yang berpendidikan perguruan tinggi. Semangat philantropis tampaknya sangat asing di Indonesia, walaupun sejak jaman dahulu kala selalu menggembar-gemborkan tentang budaya gotong royong. Hal yang sangat aneh, karena gotong royong dimaknai lebih kepada donasi tenaga dibandingkan dengan donasi finansial. Padahal seandainya zakat dikelola dengan baik aku rasa akan sangat bisa membantu perekonomian makro negara ini daripada sistem pajak yang mencekik masyarakatnya.
Pada akhirnya aku menjadi sangat terasing di lingkunganku, karena yang aku lakukan semuanya menghancurkan nilai-nilai yang berharga bagi sebagian besar bangsa Indonesia. Karena sebagai profesional aku tidak ingin bekerja dengan menjual jasaku, tetapi lebih senang kalau bisa meningkatkan kapasitas seseorang, sedangkan untuk pertanyaan ibuku, aku merasa lebih berharga memfokuskan semua kemampuanku untuk proyek yang didanai dana asing tetapi digunakan untuk membantu cukup banyak anggota masyarakat yang miskin, daripada banting tulang untuk pemilik perusaan tertentu di bidang profit. Maaf kalau aku idealis. Bagiku uang bukanlah tujuan utama dalam melakukan suatu pekerjaan, nama besar juga bukan, bagiku yag sangat berarti jika bisa mengubah kondisi seseorang ke keadaan lebih baik tanpa banyak omong dan banyak cincong. Walhasil, biarlah aku tetap menjadi alien di bumi nusantara ini, mudah-mudahan karya-karyaku berikutnya akan bisa mengubah kondisi lebih banyak lagi manusia ke keadaan lebih baik.
Yang aku ingin lakukan dan akan terus aku lakukan adalah membuat perubahan nyata pada keadaan yang aku anggap tidak ideal. Dan aku tidak perduli dengan besarannya. Aku hanya ingin membuat perubahan yang dirasakan manfaatnya bukan hanya oleh diriku tapi juga oleh orang lain.
Ibuku menanyakan kepadaku kenapa aku tetap ingin bekerja di NGO? dan dari mana gajiku berasal? Kenapa ada yang ingin memberikan dana kepada pekerjaan seperti aku? Pertanyaan-pertanyaan yang menuntut jawaban jujur dan mempertaruhkan kredibilitasku. Bagi ibuku tampaknya lebih jujur jika anak-anaknya bekerja di bidang profit yang memberikan kekayaan kepada pemilik perusahaan atau bekerja menjadi pegawai negri yang mengabdi pada negara. Dibandingkan dengan aku yang bekerja atas nama kemanusiaan dengan budget yang didanai oleh LN. Bagi ibuku aku lebih tampak sebagai pengkhianat negara yang bekerja untuk kepentingan asing.
Saat ini tampaknya xenophobia mulai merasuk di kalangan menengah yang berpendidikan perguruan tinggi. Semangat philantropis tampaknya sangat asing di Indonesia, walaupun sejak jaman dahulu kala selalu menggembar-gemborkan tentang budaya gotong royong. Hal yang sangat aneh, karena gotong royong dimaknai lebih kepada donasi tenaga dibandingkan dengan donasi finansial. Padahal seandainya zakat dikelola dengan baik aku rasa akan sangat bisa membantu perekonomian makro negara ini daripada sistem pajak yang mencekik masyarakatnya.
Pada akhirnya aku menjadi sangat terasing di lingkunganku, karena yang aku lakukan semuanya menghancurkan nilai-nilai yang berharga bagi sebagian besar bangsa Indonesia. Karena sebagai profesional aku tidak ingin bekerja dengan menjual jasaku, tetapi lebih senang kalau bisa meningkatkan kapasitas seseorang, sedangkan untuk pertanyaan ibuku, aku merasa lebih berharga memfokuskan semua kemampuanku untuk proyek yang didanai dana asing tetapi digunakan untuk membantu cukup banyak anggota masyarakat yang miskin, daripada banting tulang untuk pemilik perusaan tertentu di bidang profit. Maaf kalau aku idealis. Bagiku uang bukanlah tujuan utama dalam melakukan suatu pekerjaan, nama besar juga bukan, bagiku yag sangat berarti jika bisa mengubah kondisi seseorang ke keadaan lebih baik tanpa banyak omong dan banyak cincong. Walhasil, biarlah aku tetap menjadi alien di bumi nusantara ini, mudah-mudahan karya-karyaku berikutnya akan bisa mengubah kondisi lebih banyak lagi manusia ke keadaan lebih baik.
ORIGINALITAS
Originalitas menurutku kunci utama kesuksesan. Karya original biasanya dihasilkan oleh manusia kelompok inovator. Kelompok yang sangat kecil sekali jumlahnya di muka bumi ini karena berada di puncak piramid. Lack of originality bahkan lebih kepada pengikut jika sudah menjadi pengetahuan umum menjadi karakter sebagian besar insan seni di Indonesia. Aku hampir tidak bisa menikmati acara-acara yang dikemas oleh pelaku-pelaku seni populer di Indonesia. Contoh paling mudah adalah pembuat film. Hanya segelintir sutradara dan produser film Indonesia yang bisa aku nikmati, seperti Nagabonar jadi 2 atau Arisan. Kedua film ini sama-sama memiliki originalitas yang kuat. Persaingan dalam dunia hiburan tentunya tidak mudah. Banyak faktor berperan di sana. Terus kenapa drama-drama korea, taiwan dan jepang menyenangkan untuk dilihat. Padahal budaya mereka, bahasa mereka sangat tidak aku mengerti. Tetapi mereka selalu konsisten memberikan gambaran budaya keseharian mereka ke dalam filmnya, walhasil membuat film mereka menyenangkan untuk dilihat.
Berbeda dengan karya sineas Indonesia. Sejak awal mereka membuat film selalu dengan pertimbangan agar jualannya laku keras. Dan sikap itu membuat mereka meramu berbagai resep yang ide-idenya dicomot dari film hollywood sampai bolliwood. Jadilah film yang dihiasi dengan sumpah serapah negri paman sam, kegiatan dugem dan rumah-rumah ala pondok indah. Akibatnya tidak ada yang original di sana, yang terlihat hanyalah operasi plastik tambal sulam dari berbagai cerita dan adegan film. Mau nonton yang seperti itu? Kalau aku lebih baik membeli buku dari pada menghabiskan uang menonton film-film yang tidak ada lucu2nya itu.
Berbeda dengan karya sineas Indonesia. Sejak awal mereka membuat film selalu dengan pertimbangan agar jualannya laku keras. Dan sikap itu membuat mereka meramu berbagai resep yang ide-idenya dicomot dari film hollywood sampai bolliwood. Jadilah film yang dihiasi dengan sumpah serapah negri paman sam, kegiatan dugem dan rumah-rumah ala pondok indah. Akibatnya tidak ada yang original di sana, yang terlihat hanyalah operasi plastik tambal sulam dari berbagai cerita dan adegan film. Mau nonton yang seperti itu? Kalau aku lebih baik membeli buku dari pada menghabiskan uang menonton film-film yang tidak ada lucu2nya itu.
Tuesday, May 15, 2007
CANGKINGAN
Indramayu terkenal dengan daerah lampu merahnya. Lokasi favorit untuk LSM HIV/AIDS beroperasi. Cangkingan adalah salah satu lokasi unik di kecamatan Kedokan Bunder, Indramayu. Keunikan wilayah ini adalah sikap hipokrit dari penduduknya dan juga adanya perbedaan norma-norma dari daerah umum lainnya di dunia. Sejak mulai masuk ke wilayah itu bisa dipastikan bahwa daerah ini hamper tidak pernah berhenti beraktivitas walaupun pelakunya lain. Di siang hari adalah aktivitas petani dan keluarganya yang bersekolah dan aktivitas lainnya. Tetapi di malam hari aktivitasnya berubah menjadi jalan kesenangan bagi kaum lelaki. Ini adalah lokasi yang sama dengan novel Wanitanya Paul Wellmann. Mungkin di satu saat akan lahir seorang maharani dari kawasan ini.
Ini adalah daerah prostitusi tetapi keunikannya adalah lampu merah dan hijau. Di saung-saung remang-remang yang ditandai dengan lampu merah atau hijau tampak beberapa perempuan muda yang duduk-duduk. Untuk lampu merah berarti bahwa anda hanya akan mendapat pelayanan ditemani minum oleh beberapa gadis cantik dan belia, but no sex yo! Tetapi saung yang ditandai dengan lampu hijau berarti bahwa mereka akan menservis apapun yang diinginkan oleh klien. Rumah-rumah tampak sepi karena ini malam jum’at, tetapi sapaan dan panggilan seperti “Yaaaaaaang!”, “Cinta!” dan “Mampir mas” masih kerap menyapa. Situasi gelap rupanya menyamarkan wajahku sehingga tidak ketahuan bahwa ada perempuan yang ikut di belakang mobil. Beberapa lelaki juga tampak disana, membuatku sedikit ketakutan dan menurunkan semangat petualanganku. Aku memang tidak terlalu tertarik untuk mewawancarai mereka. Pasti dibutuhkan waktu lama sebelum mendapatkan kepercayaan mereka, yang kulakukan hanyalah memotret situasi saja dulu. Jika kelak ada pendampingan maka aku rasa boleh dimulai program capacity building bagi masyarakat yang ada di sini.
Jika dilihat dari hasil panen, dan upah yang diterima oleh buruh tani memang hanya sedikit. Tetapi aku merasa bukan masalah punya pekerjaan tetap disini tetapi norma bahwa mendapatkan uang yang banyak dengan cara mudah tampaknya tampaknya turut mengubah norma moral masyarakat sekitar. Ditambah lagi dengan penegakan yang dualisme, di satu sisi aparat akan merazia daerah seperti ini. Tetapi di sisi lainnya tidak sedikit aparat yang menerima setoran dari para taukenya supaya usahanya tidak diganggu. Dan beberapa aparat yang malah berusaha menutupi keadaan karena keadaan ini dianggapnya sebagai aib yang mencoreng mukanya. Sungguh disayangkan karena mereka hanya berpikir untuk dirinya sendiri. Padahal seorang aparat seharusnya melindungi masyarakatnya dari kegiatan-kegiatan berisiko tinggi. Pertama prostitusi hanya akan menghancurkan perekonomian karena tampak sekali ada penghisapan dari manusia tertentu kepada manusia lain. Kedua anak-anak sejak lahir sama sekali tidak mendapatkan pendidikan budi pekerti dan bagaimana mereka berpikir tentang betapa berharganya dirinya. Tapi ini hanyalah opini pribadi yang belum terbukti kebenarannya.
Ini adalah daerah prostitusi tetapi keunikannya adalah lampu merah dan hijau. Di saung-saung remang-remang yang ditandai dengan lampu merah atau hijau tampak beberapa perempuan muda yang duduk-duduk. Untuk lampu merah berarti bahwa anda hanya akan mendapat pelayanan ditemani minum oleh beberapa gadis cantik dan belia, but no sex yo! Tetapi saung yang ditandai dengan lampu hijau berarti bahwa mereka akan menservis apapun yang diinginkan oleh klien. Rumah-rumah tampak sepi karena ini malam jum’at, tetapi sapaan dan panggilan seperti “Yaaaaaaang!”, “Cinta!” dan “Mampir mas” masih kerap menyapa. Situasi gelap rupanya menyamarkan wajahku sehingga tidak ketahuan bahwa ada perempuan yang ikut di belakang mobil. Beberapa lelaki juga tampak disana, membuatku sedikit ketakutan dan menurunkan semangat petualanganku. Aku memang tidak terlalu tertarik untuk mewawancarai mereka. Pasti dibutuhkan waktu lama sebelum mendapatkan kepercayaan mereka, yang kulakukan hanyalah memotret situasi saja dulu. Jika kelak ada pendampingan maka aku rasa boleh dimulai program capacity building bagi masyarakat yang ada di sini.
Jika dilihat dari hasil panen, dan upah yang diterima oleh buruh tani memang hanya sedikit. Tetapi aku merasa bukan masalah punya pekerjaan tetap disini tetapi norma bahwa mendapatkan uang yang banyak dengan cara mudah tampaknya tampaknya turut mengubah norma moral masyarakat sekitar. Ditambah lagi dengan penegakan yang dualisme, di satu sisi aparat akan merazia daerah seperti ini. Tetapi di sisi lainnya tidak sedikit aparat yang menerima setoran dari para taukenya supaya usahanya tidak diganggu. Dan beberapa aparat yang malah berusaha menutupi keadaan karena keadaan ini dianggapnya sebagai aib yang mencoreng mukanya. Sungguh disayangkan karena mereka hanya berpikir untuk dirinya sendiri. Padahal seorang aparat seharusnya melindungi masyarakatnya dari kegiatan-kegiatan berisiko tinggi. Pertama prostitusi hanya akan menghancurkan perekonomian karena tampak sekali ada penghisapan dari manusia tertentu kepada manusia lain. Kedua anak-anak sejak lahir sama sekali tidak mendapatkan pendidikan budi pekerti dan bagaimana mereka berpikir tentang betapa berharganya dirinya. Tapi ini hanyalah opini pribadi yang belum terbukti kebenarannya.
Thursday, May 10, 2007
Happy Birthday
Happy birthday, my dad, my bro and my mom! May always a birthday month for me. Most of my family member birth at May. Somehow this situation make me feel like an alien to them. But otherwise, I hope for their happiness at least for next year if can't be forever. So... Happy Birthday dear family!
Tuesday, April 17, 2007
Sepertinya Dia Ada Bersamaku

Sepertinya dia ada bersamaku
Tapi, sepertinya juga tidak.
Dia selalu melakukan perjalanan seorang diri
Dan entah kapan, tahu tahu sudah pulang kembali ke hadapanku
Tapi, begitu juga sudah bagus
Selama dia tidak hilang dari pandanganku
(Nodame Cantabile #15,Elex, suara hati Sinichi Chiaki)
Wow, cowok kayak gini nih yang layak untuk diperjuangkan. Romantis abizzzz…! Memberikan kebebasan tapi sekaligus memiliki. Inilah cinta yang tulus. Bwahahahaha…*jadi geli sendiri* kadang-kadang aku menemukan kata-kata dan filosofi yang indah (menurutku tentu saja… ehm ato tepatnya yang cocok untuk karakterku) pada komik. Kenapa bisa tidak kutemukan in reality? Mungkin karena cowok yang kuharapkan memang hanya ada dalam impian atau hanya hidup di ras lain dan tidak dimiliki cowok Indonesia…
Hey..hey… neng…! bakalan banyak cowok indo yang merasa tersinggung dan disepelekan lho….
Bodo! Cowok2 indo itu terlalu dimanjakan oleh nyokap-nyokapnya dan menjadikan mereka seolah king of the world. Bisa menuntut mendapat cewek yang sempurna, sesempurnanya tapi sekaligus tidak memperbaiki dirinya.
Wakakakakakaka… kayaknya banyak pengalaman pahit nih? *nyengir mode*
Tahu ga, gw pernah berniat pengen punya anak 10 orang semuanya cowok, yang akan aku didik untuk bisa mencintai perempuan dengan tulus… ini salah satu misi muliaku di dunia…wakakakaka… sayang aku tidak berhasil menipu satu laki-laki pun untuk menjadi ayah anak-anakku….
Soalnya tidak banyak cowok-cowok yang layak untuk ditipu…
whaaaaaaaaaat???
Udah ga ada lagi sih stock cowok prince charming di sekitarku sekarang
XX#$%grmblsxyzzzzzzzzgrrhajnkjdajkdjiauidsha@#$M! -alias mentok ga bisa komentar lagi…-
xixixixixixiixiixixiiiiiiiiiiiii
Tapi, sepertinya juga tidak.
Dia selalu melakukan perjalanan seorang diri
Dan entah kapan, tahu tahu sudah pulang kembali ke hadapanku
Tapi, begitu juga sudah bagus
Selama dia tidak hilang dari pandanganku
(Nodame Cantabile #15,Elex, suara hati Sinichi Chiaki)
Wow, cowok kayak gini nih yang layak untuk diperjuangkan. Romantis abizzzz…! Memberikan kebebasan tapi sekaligus memiliki. Inilah cinta yang tulus. Bwahahahaha…*jadi geli sendiri* kadang-kadang aku menemukan kata-kata dan filosofi yang indah (menurutku tentu saja… ehm ato tepatnya yang cocok untuk karakterku) pada komik. Kenapa bisa tidak kutemukan in reality? Mungkin karena cowok yang kuharapkan memang hanya ada dalam impian atau hanya hidup di ras lain dan tidak dimiliki cowok Indonesia…
Hey..hey… neng…! bakalan banyak cowok indo yang merasa tersinggung dan disepelekan lho….
Bodo! Cowok2 indo itu terlalu dimanjakan oleh nyokap-nyokapnya dan menjadikan mereka seolah king of the world. Bisa menuntut mendapat cewek yang sempurna, sesempurnanya tapi sekaligus tidak memperbaiki dirinya.
Wakakakakakaka… kayaknya banyak pengalaman pahit nih? *nyengir mode*
Tahu ga, gw pernah berniat pengen punya anak 10 orang semuanya cowok, yang akan aku didik untuk bisa mencintai perempuan dengan tulus… ini salah satu misi muliaku di dunia…wakakakaka… sayang aku tidak berhasil menipu satu laki-laki pun untuk menjadi ayah anak-anakku….
Soalnya tidak banyak cowok-cowok yang layak untuk ditipu…
whaaaaaaaaaat???
Udah ga ada lagi sih stock cowok prince charming di sekitarku sekarang
XX#$%grmblsxyzzzzzzzzgrrhajnkjdajkdjiauidsha@#$M! -alias mentok ga bisa komentar lagi…-
xixixixixixiixiixixiiiiiiiiiiiii
Friday, April 13, 2007
Doki-doki!
Duduk dan connect internet akhirnya menjadi salah satu kegiatan rutin yang tidak bisa kulepaskan lagi. Di cafe internet yang remang-remang tetapi cukup nyaman karena semua orang terpaku pada PC atau laptopnya masing-masing, aku menelusuri site demi site di internet. Tiba-tiba mataku tertarik ke satu arah, ada klien baru di cafe ini. Hormonku mulai bergemuruh. Orang yang menarik hatiku adalah laki-laki cool berambut panjang sebahu, dengan wajah mirip-mirip James F Sundah dan memakai kemeja santai.Doki-doki...doki-doki... alias duk-duk-duk tabuhan jantung di dadaku. Mendadak laki-laki itu menatapku dan tersenyum, aku tertangkap basah menatapnya, sialan, dan aku panik...kupalingkan arah pandangku, dan akhirnya dia tidak lagi menatapku. Aahhhhhhhh.... hormon-hormonku yang selalu tahu dimana ada laki-laki yang menarik, tapi sifat panikku selalu membuat reaksi yang tidak menarik...! *Sobs*
Saturday, April 07, 2007
PANTURA
2 minggu yang melelahkan. Berpindah dari satu kota ke kota pantura lainnya. Meminta dengan baik-baik, merayu, memelas atau menggunakan gaya-gaya preman malak dilakukan untuk mendapatkan data dari berbagai dinas instansi. Ada yang berhasil, tapi tidak kurang yang gagal. Tujuannya untuk mendapatkan potret yang lengkap tentang kemiskinan di jalur pantura.
Jalur Pantura selama ini hanya aku kenal dari berita-berita saja dan tidak ada satupun yang pernah aku kunjungi di alam nyata. Kenyataannya melebihi perkiraan, pergulatan masyarakat melawan sistem untuk mendapatkan perbaikan taraf hidup sungguh mengenaskan. Bukan hanya ketidakpedulian dari pamongpraja setempat, tetapi juga dari anggota masyarakat lainnya yang turut memangsa kaum sendiri. Homo homini lupus, itu istilahnya kalau aku tidak salah ingat.
Kaum tengkulak benar-benar memeras buruh tani bahkan sampai ke tahi-nya *maaf, tidak ada lagi istilah sopan yang bisa dipakai*. Dan mucikari hanya menganggap kaum perempuan sebagai ternak berkaki 2 untuk dijual kepada laki-laki hidung belang. Tidak tahu lagi dimana yang benar mana yang salah. Di beberapa tempat beberapa suara minor dari LSM pembela masyarakat yang termarjinalkan, hilang digerus ombak pantai utara atau deru truk-truk besar yang berderap tak kenal waktu.
Aku hanya mampu terpekur, mensyukuri keadaanku yang masih terjamin, dan menangisi ketidakmampuanku memperbaiki keadaan. Demo2 kaum agama atau lawannya seperti papernas, perdebatan perlu tidaknya pembelian laptop terasa hambar dibandingkan dengan kenyataan pahit yang terbentang dihadapanku. Mobil-mobil mewah Jaguar, Mercedes Benz, BMW yang memenuhi jakarta terasa sangat menyayat melihat kekumuhan yang terbentang di hadapanku. Sungguhkah mereka menyadari betapa banyaknya masyarakat yang tidak beruntung di negara ini?
Jalur Pantura selama ini hanya aku kenal dari berita-berita saja dan tidak ada satupun yang pernah aku kunjungi di alam nyata. Kenyataannya melebihi perkiraan, pergulatan masyarakat melawan sistem untuk mendapatkan perbaikan taraf hidup sungguh mengenaskan. Bukan hanya ketidakpedulian dari pamongpraja setempat, tetapi juga dari anggota masyarakat lainnya yang turut memangsa kaum sendiri. Homo homini lupus, itu istilahnya kalau aku tidak salah ingat.
Kaum tengkulak benar-benar memeras buruh tani bahkan sampai ke tahi-nya *maaf, tidak ada lagi istilah sopan yang bisa dipakai*. Dan mucikari hanya menganggap kaum perempuan sebagai ternak berkaki 2 untuk dijual kepada laki-laki hidung belang. Tidak tahu lagi dimana yang benar mana yang salah. Di beberapa tempat beberapa suara minor dari LSM pembela masyarakat yang termarjinalkan, hilang digerus ombak pantai utara atau deru truk-truk besar yang berderap tak kenal waktu.
Aku hanya mampu terpekur, mensyukuri keadaanku yang masih terjamin, dan menangisi ketidakmampuanku memperbaiki keadaan. Demo2 kaum agama atau lawannya seperti papernas, perdebatan perlu tidaknya pembelian laptop terasa hambar dibandingkan dengan kenyataan pahit yang terbentang dihadapanku. Mobil-mobil mewah Jaguar, Mercedes Benz, BMW yang memenuhi jakarta terasa sangat menyayat melihat kekumuhan yang terbentang di hadapanku. Sungguhkah mereka menyadari betapa banyaknya masyarakat yang tidak beruntung di negara ini?
Sunday, March 18, 2007
Gadget , a gap generation
Sekarang ini notebook sudah tidak mahal lagi, banyak yang bisa dibeli dengan harga dibawah 10 juta rp. Pada beberapa kelompok profesi, notebook adalah sebuah kebutuhan. Selain itu ada MP3 player, kamera digital dan HP, maka lengkaplah peralatan cyber generation. Aku yang sejak kecil tertarik dengan benda-benada elektronik dengan mudahnya terserang demam gadget ini. Mulai dengan PC yang paling canggih dahulu, hanya memerlukan waktu 3 tahun sampai aku merelakan tabunganku untuk membeli sebuah laptop yang berharga setara dengan sebuah sepeda motor. Bagiku dibandingkan dengan kendaraan bermotor atau kepemilikan rumah, aku dengan mudah membelanjakan uangku untuk gadget. Walhasil, saat ini kehidupanku dilengkapi dengan sejumlah gadget. Masih belum terlalu advance karena belum mampu membelinya, cukup yang kemampuan menengah saja, tetapi masih bisa memenuhi kebutuhanku.
Ternyata gadget ini menjadi gap antara generasi senior dan generasi dibawahnya. Kemarin aku ngobrol dengan kenalanku yang cukup berumur dan sudah punya anak remaja. Bapak P bilang, "dasar anak muda sekarang, cuma minta dibelikan satu barang saja, laptop" Trus beliau tanya, "anda juga kan? Apa saja yang punya, saya lihat ada external hard disk?" Hahaha, aku bilang sama bapak P bahwa external harddisk menghemat tempat dan bawaanku jadi ga terlalu berat. Dan aku dimasukkan sama bapak dan Ibu P sebagai generasi muda sekarang. Hahahaha...
Ternyata gadget ini menjadi gap antara generasi senior dan generasi dibawahnya. Kemarin aku ngobrol dengan kenalanku yang cukup berumur dan sudah punya anak remaja. Bapak P bilang, "dasar anak muda sekarang, cuma minta dibelikan satu barang saja, laptop" Trus beliau tanya, "anda juga kan? Apa saja yang punya, saya lihat ada external hard disk?" Hahaha, aku bilang sama bapak P bahwa external harddisk menghemat tempat dan bawaanku jadi ga terlalu berat. Dan aku dimasukkan sama bapak dan Ibu P sebagai generasi muda sekarang. Hahahaha...
Monday, March 05, 2007
THE GOLDEN TICKET
Dalam audisi American Idol yang diincar orang adalah Golden ticket ke Hollywood. Tetapi Golden ticket bukanlah berarti orang itu sudah mendapat jaminan akan piala kemenangan. Golden ticket hanyalah langkah pertama menuju kemenangan yang tadinya kita inginkan. Sangat menarik saat melihat reaksi orang untuk bisa mendapatkan Golden ticket itu dalam audisi. Mulai dari orang yang bermohon-mohon sampai yang memaki-maki jika tidak mendapatkan approval bahwa penampilannya layak.
Dalam kehidupan banyak sekali kita menemukan peristiwa dimana setiap orang berlomba-lomba untuk mendapatkan Golden Ticket. Misalnya pada usia tertentu biasanya perempuan menjadi panik jika masih belum mendapat jodoh dan segala cara dan upaya diusahakan untuk bisa menikah, hanya untuk menghindari dirinya dilabel sebagai tidak laku, jomblo dllsb. Kalau dipikir-pikir maka pernikahan adalah Golden Ticket menuju kebahagiaan. Pernikahan barulah langkah pertama tetapi untuk mencapai kebahagiaan masih jauh dari itu. Cacian dan makian juri, sms penonton dan latihan untuk mencapai performa yang baik harus dilewati sebelum bisa menggapai kemenangan.
Saat ini banyak sekali temanku yang sedang dalam proses bercerai setelah mengupayakan pernikahan apa adanya. Kadang aku berpikir layak atau tidak untuk memperebutkan Golden ticket itu? Tentu saja layak, karena saat orang tidak mengikuti audisi itu maka kesempatan untuk menang tentu saja nol. Tetapi jika mengikuti audisi maka tetap akan ada kemungkinan untuk menang. Sesedikit apapun juga.
Tetapi pemikiran filosofisku kadang-kadang berpikir apakah akan ada artinya menikah hanya untuk menyenangkan orang lain. Tidak bolehkah kita sedikit egois dan benar-benar menunggu waktu yang tepat sampai datang orang yang tepat. Kehidupan itu memang aneh dan semakin aku merasa mengerti semakin aku tidak mengerti arti kehidupan ini. Demikian juga dengan cinta semakin dikejar semakin lari menjauh, tetapi saat kita berusaha realistis dan tidak peduli, maka orang-orang di sekelilingmu selalu mengingatkan untuk tidak putus asa. Apakah mereka benar-benar tidak tahu perbedaan antara putus asa dan realistis?
Dalam kehidupan banyak sekali kita menemukan peristiwa dimana setiap orang berlomba-lomba untuk mendapatkan Golden Ticket. Misalnya pada usia tertentu biasanya perempuan menjadi panik jika masih belum mendapat jodoh dan segala cara dan upaya diusahakan untuk bisa menikah, hanya untuk menghindari dirinya dilabel sebagai tidak laku, jomblo dllsb. Kalau dipikir-pikir maka pernikahan adalah Golden Ticket menuju kebahagiaan. Pernikahan barulah langkah pertama tetapi untuk mencapai kebahagiaan masih jauh dari itu. Cacian dan makian juri, sms penonton dan latihan untuk mencapai performa yang baik harus dilewati sebelum bisa menggapai kemenangan.
Saat ini banyak sekali temanku yang sedang dalam proses bercerai setelah mengupayakan pernikahan apa adanya. Kadang aku berpikir layak atau tidak untuk memperebutkan Golden ticket itu? Tentu saja layak, karena saat orang tidak mengikuti audisi itu maka kesempatan untuk menang tentu saja nol. Tetapi jika mengikuti audisi maka tetap akan ada kemungkinan untuk menang. Sesedikit apapun juga.
Tetapi pemikiran filosofisku kadang-kadang berpikir apakah akan ada artinya menikah hanya untuk menyenangkan orang lain. Tidak bolehkah kita sedikit egois dan benar-benar menunggu waktu yang tepat sampai datang orang yang tepat. Kehidupan itu memang aneh dan semakin aku merasa mengerti semakin aku tidak mengerti arti kehidupan ini. Demikian juga dengan cinta semakin dikejar semakin lari menjauh, tetapi saat kita berusaha realistis dan tidak peduli, maka orang-orang di sekelilingmu selalu mengingatkan untuk tidak putus asa. Apakah mereka benar-benar tidak tahu perbedaan antara putus asa dan realistis?
Thursday, February 22, 2007
Perancis
Siapa sih yang tidak kenal dengan negara di Eropa ini? Selalu dikaitkan sebagai negara yang romantis dimana para prianya adalah perayu-perayu handal dan anggurnya yang memabukkan. Ketertarikanku kepada Perancis dimulai dari buku La Barka - NH Dini. Buku itu sangat memukau untukku yang baru kelas 6 SD. Walaupun banyak hal yang saat itu tidak kupahami tetapi penggambaran daerah Provence sebagai surganya seniman dan hutan cemaranya tercetak erat di dalam otakku.
Dengan ketertarikanku terhadap sejarah dengan Mary Antoinette dan Napoleon dan revolusi yang dimulai dari Bastille, perlahan-lahan aku semakin terjerat di dalam seluk-beluk Perancis. Ditambah lagi dengan lukisan2 Impressionis yang begitu indah dari Monet, Manet, Degas dan Vincent van Gogh (oui... van Gogh memang bukan orang Perancis) menjadikan Perancis sebagai salah satu negara favoritku. Someday I'll visit this country. Sementara ini biarlah aku menikmatinya dari jauh. Jika satu saat mengunjungi negara ini akan kupastikan bahwa aku akan mengunjungi sampai sudut-sudutnya yang terpencil. Pasti!
Dengan ketertarikanku terhadap sejarah dengan Mary Antoinette dan Napoleon dan revolusi yang dimulai dari Bastille, perlahan-lahan aku semakin terjerat di dalam seluk-beluk Perancis. Ditambah lagi dengan lukisan2 Impressionis yang begitu indah dari Monet, Manet, Degas dan Vincent van Gogh (oui... van Gogh memang bukan orang Perancis) menjadikan Perancis sebagai salah satu negara favoritku. Someday I'll visit this country. Sementara ini biarlah aku menikmatinya dari jauh. Jika satu saat mengunjungi negara ini akan kupastikan bahwa aku akan mengunjungi sampai sudut-sudutnya yang terpencil. Pasti!
Thursday, February 15, 2007
Heuuu, ga tahu mo nulis apa
Perasaan memang lagi campur aduk. Pengen nulis, ujung-ujungnya malah ngegame. Gini nih klo orang kurang kerjaan. Maunya nyantai, tapi banyak disodorin posisi. Lamar aja sana, lamar aja sini. Sementara duit di rekening makin menipis dan duit yang diharapkan ga muncul-muncul. Tahu ga punya duit, semangat belanja kok meraja lela. Ga tahu diri banget ya.
Sekarang ini aku sedang euphoria, gara-gara mimpi yang seolah nyata. Ketemu dengan pangeran-ku (hei, wake up, sampai kapan masih mau mengidap cinderella sindrome). But at least Tuhan memberiku perasaan senang. Mungkin memang tidak nyata, tetapi paling nggak perasaannya memang nyata. Aku masih merasakan debarannya, dan juga merasakan kehangatan bibirnya... hahaha...geblek memang. Antara kenyataan dan mimpi tidak bisa dibedakan. Tetapi karena aku memang tidak ada trait utk menjadi schizophrenic makanya mau bukannya menjadi gila, tetapi gila2an aja.
Yeah, inilah hidup, harus dinikmati. Mau nyata atau tidak yang jelas ada terasa sampai di dasar hati. C'est La vie!
Sekarang ini aku sedang euphoria, gara-gara mimpi yang seolah nyata. Ketemu dengan pangeran-ku (hei, wake up, sampai kapan masih mau mengidap cinderella sindrome). But at least Tuhan memberiku perasaan senang. Mungkin memang tidak nyata, tetapi paling nggak perasaannya memang nyata. Aku masih merasakan debarannya, dan juga merasakan kehangatan bibirnya... hahaha...geblek memang. Antara kenyataan dan mimpi tidak bisa dibedakan. Tetapi karena aku memang tidak ada trait utk menjadi schizophrenic makanya mau bukannya menjadi gila, tetapi gila2an aja.
Yeah, inilah hidup, harus dinikmati. Mau nyata atau tidak yang jelas ada terasa sampai di dasar hati. C'est La vie!
Sunday, February 04, 2007
MING DAO the Magician

Kehebatan dari artis satu ini adalah kepiawaiannya dia menyihir hati berjuta wanita tanpa peduli golongan umur. Kesepakatan hampir semuanya tersihir oleh tatapan matanya, walaupun harus disadari senyuman dan wajah tampannya adalah gabungan yang sempurna yang diciptakan Tuhan yang dikaruniakan pada manusia satu ini.
Aku bahkan bisa mempengaruhi salah satu temanku yang berkeras punya favorit aktor muda Indonesia. Waktu aku perlihatkan koleksi foto-foto MD.. hmmm, temanku harus mengakui selera tinggiku dalam menentukan wajah tampan. Dan sepakat bahwa tatapan matanya lah yang merupakan aset utama. Dan kami 2 perempuan dewasa terguling-guling jatuh cinta seperti ABG.
Sayangnya aku tidak pernah berkesempatan untuk bisa melihat secara langsung di beberapa acara live di Indonesia. Sedihnya!!! Belum beruntung sekali. Koleksi DVD dan VCD, bajakan maupun ori, bahkan sampai CD menemani koleksi foto2nya. Walaupun berbeda bintang tetapi aku senang sekali karena kami lahir di bulan yang sama. Hehehe memalukan, bisa2nya aku tergila-gila kayak gini.
Film terakhirnya yang belum sempat aku koleksi tampaknya akan tambah membuat aku terpikat pada MD, karena di dalam film ini dia tidak berperan sebagai tuan muda kaya raya yang memakai baju2 designer. Kabarnya di Angel lover dia memakai bajunya sendiri. Aku rasa akan menyegarkan dibandingkan dengan baju-baju designer, paling tidak memberikan kesan lebih nyata. Wah bahaya nih, jangan2 aku tidak mampu lagi berpaling dari sihirnya.
Monday, January 22, 2007
Soulmate, adakah?

Death, that hath 'd the honey of thy breath,
Hath had no power yet upon thy beauty:
Thou art not conquer'd; beauty's ensign yet
Is crimson in thy lips and in thy cheeks,
And death's pale flag is not advanced there
(Romeo and Juliet, Shakespeare)
Romeo dan Juliet apakah mereka soulmate? Scarlett dan Rhett Butler apakah mereka soulmate? Cinderella dan Prince charming apakah mereka soulmate? Pertanyaan yang tidak mungkin terjawab karena di tokoh pertama berakhir di kematian, tokoh kedua jawabannya sudah melayang di tiup angin sedangkan di tokoh ketiga berakhir dalam pencarian dengan sepatu.
Yang terpenting apakah yang disebut dengan soulmate itu? Benarkah ada teman yang sejiwa? Atau itu hanya merupakan ocehan orang-orang yang mengidap ciderella syndrome? Apakah soulmate adalah hal yang berharga yang dicari orang di seluruh dunia.
Aku merindukan sesuatu, seseorang mungkin, tetapi hingga kini tak kutemukan jawabannya. Wajah yang hanya terlihat didalam mimpi, yang tak pernah mampu kubayangkan di saat aku terjaga. Satu pencarian berakhir untuk dimulai di pencarian baru. Tetapi selama ini tidak pernah kutemukan dia yang kucari. Dunia berputar di sekelilingku dan setiap kawan dan sahabat dengan mudahnya menemukan orang untuk berbagi hidup sampai maut menjemput. Bagiku orang itu masih menjadi misteri besar.
Subscribe to:
Posts (Atom)


