Seorang teman menawarkan satu proyek yg sangat menarik untukku. Otakku langsung berputar keras dan ada beberapa ide yang bergema di benakku. Ingin rasanya kuambil kesempatan itu. Tapi ada hal yang membuatku tidak berani. Seperti biasa ada persyaratan S2 didalamnya dan pengalaman. Buatku yg tidak S2 dan dengan pengalaman yg seuprit di bidang2 itu tentu harus membuktikan diri dulu. Tapi masih bisa diatasi dengan membuat outline yang bagus rasanya. Sayangnya ketidakjelasan kelanjutan kontrak kerja yg sekarang ini yang menghalangiku.
Kenapa sih aku selalu tidak berani bermain di luar aturan? Sedangkan lembagaku juga tidak memikirkan diriku. Mungkin kelihatan seperti orang bego, tapi kok rasanya tidak etis kalau harus menduakan pekerjaan. Sebenarnya kecil kemungkinan akan ketahuan jika aku mendua. Tapi tetap saja aku segan.
Hahhhh... bagaimana ya? Berani ambil ga ya?
Saturday, November 29, 2008
Wednesday, November 26, 2008
Dentingan dawai gitar
Dentingan nada mengalun dari sebuah gitar diiringi sebuah balada akan mampu menenangkan diriku. Suara-suara ritmis dan harmonis mampu membawa emosiku ke tingkat terendah dan konsentrasiku ke tingkat tertinggi. Karenanya lagu koleksi iPodku jadi terlalu banyak bertema tahun 70-an.
Dulu ada sebuah kaset lama yang berisi serenade klasik dimainkan dengan mandolin dan gitar. Bagus sekali, walaupun tidak kuhafal judul2 lagu klasik itu, tapi tidak pernah kulupakan iramanya. Sayang sangat sukar menemukan CD seperti itu di Indonesia. Masyarakat yang lebih menyukai hingar bingar yang memekakan telinga ataupun lagu dangdut atau lagu2 mendayu-dayu lainnya.
Kenapa aku sangat sensitif dengan suara2 bising, akupun tak mengerti. Tapi suara orang yang bicara bersamaan dan bersahut-sahutan sangatlah menggangguku, salah satu suara yang paling kubenci adalah raungan sepeda motor dijalan maupun saat dipanaskan. Aku sungguh membencinya.
Kemarahanku bisa langsung meledak, darahku serasa naik sampai ke ubun-ubun jika mendengarkan suara sepeda motor, sangat berlainan dengan suara kereta api yg ritmis sehingga mampu menenangkan diriku.
Pernah juga aku di protes di kantor karena gemar memakai earphone untuk menyaring suara-suara orang ngobrol yg dalam keadaan tertentu bisa membuatku sangat teriritasi. Sungguh hal itu bukanlah main-main. Kadang aku berpikir diriku seperti banteng yg mengamuk jika melihat kain dilambai-lambaikan di hadapannya jika mendengarkan suara bising. Kenapa bisa begitu ya?
Dan secara insting aku menganggap sangatlah romantis jika seorang laki-laki bisa memainkan gitar akustik. Biasanya mereka tampak terhisap ke suatu dunia dimana hanya ada dirinya dan gitar itu saja, dan berkolaborasi menghasilkan nada-nada indah bersama. Sehingga aku lebih suka Bujana-nya dibandingkan GIGI, juga ngefans pada Tohpati, Eric Clapton, John Denver. Aku berharap lebih banyak lagi artis yang mencipta lagu khusus untuk dibawakan dengan gitar akustiknya. hahaha
Friday, November 21, 2008
Syam Kamaruzaman
Intrik politik itu menarik, semakin misterius semakin bikin penasaran. Aku memang belum lahir saat terjadinya G30S ga pake slash PKI lagi sekarang (udah direvisi sih buku sejarahnya). Tapi terornya bisa diwariskan kepada generasi berikutnya. Apalagi saat mbah Harto masih berkuasa dimana setiap tanggal 30 September pasti akan diputar film G30S itu. Bahkan kunjungan ke Lubang Buaya masih sempat menjadi menu wajib saat dilakukan study tour di SD plus kunjungan ke musium Wangsit Mandalawangi ato musium tentara lain.
Tanpa ada penjelasan yang mencerahkan dan cukup dengan pesan PKI itu organisasi yg berbahaya, laten komunis, haram hidup di Indonesia, Atheis, dllsb yg diberikan oleh nenek dan orangtuaku membuat PKI menjadi salah satu misteri yg harus kubongkar. Nenek dan orang tuaku entah kenapa tidak bisa menceritakan teror yg mereka alami, padahal biasanya mereka suka memberikan penjelasan panjang dan lebar untukku. Menghadapi pertanyaan-pertanyaanku berkaitan dgn PKI, nenek hanya menjawab "kamu akan mengerti sendiri kalau nanti sudah besar". Whua ... malah diberi tantangan, dan aku tidak sabar menunggu sehingga semua hal yg berkaitan dengan PKI aku cari materinya mati2an. Sayang selama Suharto berkuasa tidak ada materi lain selain yg tercatat di buku2 sejarah dan menyisakan banyak pertanyaan. Akhirnya aku menjadi tertari dengan memoir politik Indonesia hanya untuk mencari serpihan2 puzzle dari misteri terbesarku.
Majalah Tempo edisi 17-23 November 2008 ternyata memuat investigasi khusus tentang Syam Kamaruzaman. Ini adalah tokoh teraneh, misterius, dan menjadi kepala biro chusus yg menangani masalah2 intel. Tapi dibandingkan dengan tokoh2 PKI di seantero dunia termasuk yg paling bocor mulutnya. Mungkin PKI bisa dibantai habis oleh Suharto karena Syam ini. Sebelumnya aku juga sudah membaca Cornell Paper-nya Ben Anderson, biografi Suharto, beberapa situs eks Lekra dan memoir eks Lekra, memoir tentang Sukarno yg ditulis oleh anak buahnya dan banyak lagi. Aku jadi lebih percaya dengan teorinya John Rossa ini tentang Syam sebagai biang kerok kegagalan kup PKI di tahun 65. Aneh aja, kalau dilihat sebagian gaya hidup dan arah politik Indonesia saat itu ibaratnya sudah ada dalam genggaman tangan PKI, tapi mereka menghancurkannya dalam sebuah kup yg ga penting. Kebetulan sekali yg mendapat keuntungan adalah Suharto, sosok yg ... you know laa klo mau baca tentang dia.
Yup pada akhirnya aku bisa menerakan label case close dengan investigasi terakhir ini. Yeeah... ga ada lagi nih penasarannya. End. Tutup. Dan tampaknya tokoh2 komunis itu sudah tidak mendapat tempat lagi di masyarakat kita yang sudah sangat materialistis, maruk dan satu fakta lagi para pentolan di jaman itu kalau ga udah meninggal, yg tersisa kan sudah kehabisan tenaga, maklum udah uzur. Seperti juga di China yg tdk lagi punya Mao. Jadi era itu benar2 sudah berakhir sekarang, entah kalau besok2 ada orang yg cukup sinting untuk percaya bahwa ideologi komunis bisa membawa kesejahteraan. Tetap waspada dan pakai akal saja, karena apapun ideologinya tapi kalau ada di tangan yg tidak tepat yg memiliki kekuasaan tidak tepat, akhirnya hanya akan membawa kehancuran saja.
Tanpa ada penjelasan yang mencerahkan dan cukup dengan pesan PKI itu organisasi yg berbahaya, laten komunis, haram hidup di Indonesia, Atheis, dllsb yg diberikan oleh nenek dan orangtuaku membuat PKI menjadi salah satu misteri yg harus kubongkar. Nenek dan orang tuaku entah kenapa tidak bisa menceritakan teror yg mereka alami, padahal biasanya mereka suka memberikan penjelasan panjang dan lebar untukku. Menghadapi pertanyaan-pertanyaanku berkaitan dgn PKI, nenek hanya menjawab "kamu akan mengerti sendiri kalau nanti sudah besar". Whua ... malah diberi tantangan, dan aku tidak sabar menunggu sehingga semua hal yg berkaitan dengan PKI aku cari materinya mati2an. Sayang selama Suharto berkuasa tidak ada materi lain selain yg tercatat di buku2 sejarah dan menyisakan banyak pertanyaan. Akhirnya aku menjadi tertari dengan memoir politik Indonesia hanya untuk mencari serpihan2 puzzle dari misteri terbesarku.
Majalah Tempo edisi 17-23 November 2008 ternyata memuat investigasi khusus tentang Syam Kamaruzaman. Ini adalah tokoh teraneh, misterius, dan menjadi kepala biro chusus yg menangani masalah2 intel. Tapi dibandingkan dengan tokoh2 PKI di seantero dunia termasuk yg paling bocor mulutnya. Mungkin PKI bisa dibantai habis oleh Suharto karena Syam ini. Sebelumnya aku juga sudah membaca Cornell Paper-nya Ben Anderson, biografi Suharto, beberapa situs eks Lekra dan memoir eks Lekra, memoir tentang Sukarno yg ditulis oleh anak buahnya dan banyak lagi. Aku jadi lebih percaya dengan teorinya John Rossa ini tentang Syam sebagai biang kerok kegagalan kup PKI di tahun 65. Aneh aja, kalau dilihat sebagian gaya hidup dan arah politik Indonesia saat itu ibaratnya sudah ada dalam genggaman tangan PKI, tapi mereka menghancurkannya dalam sebuah kup yg ga penting. Kebetulan sekali yg mendapat keuntungan adalah Suharto, sosok yg ... you know laa klo mau baca tentang dia.
Yup pada akhirnya aku bisa menerakan label case close dengan investigasi terakhir ini. Yeeah... ga ada lagi nih penasarannya. End. Tutup. Dan tampaknya tokoh2 komunis itu sudah tidak mendapat tempat lagi di masyarakat kita yang sudah sangat materialistis, maruk dan satu fakta lagi para pentolan di jaman itu kalau ga udah meninggal, yg tersisa kan sudah kehabisan tenaga, maklum udah uzur. Seperti juga di China yg tdk lagi punya Mao. Jadi era itu benar2 sudah berakhir sekarang, entah kalau besok2 ada orang yg cukup sinting untuk percaya bahwa ideologi komunis bisa membawa kesejahteraan. Tetap waspada dan pakai akal saja, karena apapun ideologinya tapi kalau ada di tangan yg tidak tepat yg memiliki kekuasaan tidak tepat, akhirnya hanya akan membawa kehancuran saja.
Friday, November 14, 2008
PLN oh PLN
Seperti apa ya rasanya menjadi pegawai PLN? Sebagai salah satu BUMN negara yang tidak punya KEPEDULIAN terhadap masyarakat yang mereka layani. Berada di balik alasan mesin rusak atau krisis BBM, mereka tak mempedulikan kebutuhan orang banyak tergantung pada mereka.
Aku hanya membayangkan jika kejadian ini terjadi di Jepang misalnya. Mungkin direkturnya sudah tidak akan bisa tidur atau makan dengan tenang. Tapi tidak dengan di Indonesia, direktur PLN tetap akan menikmati semua kehidupannya yg lebih dari cukup, walaupun tahu di satu daerah ada yg mengalami krisis listrik.
Adakah otaknya pernah diperas sekuat tenaga untuk mengupayakan agar rakyat tercukupi kebutuhan listriknya? Aku rasa yg ada hanya bagaimana memperkaya dirinya sendiri, bagaimana agar proyek-proyek tetap berjalan, bagaimana biar bisa jalan-jalan gratis menggunakan uang negara dan uang bayaran listrik dari pengguna.
Menyebalkan, sepertinya tidak ada lagi yang punya target agar masyarakat tidak lagi mengalami pemadaman lampu. Dasar birokrat reseh, norak, ga berotak.
Aku hanya membayangkan jika kejadian ini terjadi di Jepang misalnya. Mungkin direkturnya sudah tidak akan bisa tidur atau makan dengan tenang. Tapi tidak dengan di Indonesia, direktur PLN tetap akan menikmati semua kehidupannya yg lebih dari cukup, walaupun tahu di satu daerah ada yg mengalami krisis listrik.
Adakah otaknya pernah diperas sekuat tenaga untuk mengupayakan agar rakyat tercukupi kebutuhan listriknya? Aku rasa yg ada hanya bagaimana memperkaya dirinya sendiri, bagaimana agar proyek-proyek tetap berjalan, bagaimana biar bisa jalan-jalan gratis menggunakan uang negara dan uang bayaran listrik dari pengguna.
Menyebalkan, sepertinya tidak ada lagi yang punya target agar masyarakat tidak lagi mengalami pemadaman lampu. Dasar birokrat reseh, norak, ga berotak.
Wednesday, November 12, 2008
Mama.... I'm hungry ...
Gini nih kelakuan anak yang dapat ASI eksklusif, liat patung cewek langsung nyosor, huahahahahaha... Good job boy! (kayaknya sih laki ye...).
Ternate, apa itu?
Salah satu kakak ibuku (Uwak,bhs sunda = Pakdhe, bs Jw) pernah bertanya pada ibuku seperti apakah Ternate itu. Maklum deh berita tentang Ternate selalu horor: demo-lah yg sampai pakai barikade kawat duri; bom molotov beberapa kali; berita gempa dll. Komplit deh mulai kerusuhan sampai bencana.
Hmm, terus terang aku sendiri malas menjelaskan seperti apa Ternate itu pada orang2. Karena aku ga tau mau mengklasifikasikan ternate kedalam apa. Kota? Kota Pulau? atau.... Kota Kecamatan? hahahaha. Sementara ini Ternate masih berstatus ibu kota dari propinsi Maluku Utara. Tapi tidak lama lagi ibu kotanya akan dipindahkan dan Ternate tertinggal menjadi kota Ternate saja.
Gunung Gamalama adalah pusat dari Ternate. Penampakannya seperti muncul dari bawah laut dan tidak menyisakan banyak pantai datar luas. Pantai yg sa-uprit itu langsung mendaki ke pusatnya sang Gamalama. Walhasil penduduknya menempati daerah pantai melingkar di kaki gunungnya. Walaupun puncaknya diatas 1000 m dpl tapi udara dingin sama sekali tidak terasa di sini. Tapi lucunya hampir tidak ada kemarau berkepanjangan seperti di pulau jawa. Kepulauan Maluku (termasuk Maluku Utara) diberkahi dengan turunnya hujan sepanjang tahun. Di musim kemarau yang paling panaspun hujan akan turun lebih dari sekali dalam sebulan. Mungkin iklim mikro dari pulau-pulau kecil yang bergunung dengan lautan di sekelilingnya akan membuat siklus iklim yang ramah penduduk. Persis seperti di pelajaran geografi di SMP dulu tentang pembentukan awan dan hujan.
Penduduk yang berjumlah 180 ribuan tidak membuat sesak pulau ini. Transportasi utama adalah angkot (pete2, atau apapun namanya) akan mengantarkan penumpang ke berbagai penjuru pulau, ada armada taksi argo(30-an taksi), taksi gelap, andong dan ojek, sedangkan ke pulau sebelah bisa pakai speedboat atau kapal laut untuk tetangga yang jauhan.
Biarpun kecil ternyata armada ojek di Ternate ini adalah kelompok ojek terbesar di Indonesia (katanya, entah siapa yg bilang, tp aku malas banget mengkonfirmasinya, ga penting sih). Ga heran sih kalau jumlah ojeknya sangat banyak karena orang2 di sini malas untuk jalan kaki. Aku sampai speechless karena ada ibu yang naik angkot untuk jarak 20 meteran saja. Bayangkan! Jalan kaki kayaknya lebih cepat deh. Karena itu setiap kali jalan pasti kita akan diklakson sama oujyek2nya cinlou. Sehingga kalau pada ga punya uang, banyak cowok2 yang alih profesi ke ngojek, lumayan jarak dekat 4000, jarak jauh sih tergantung, misalnya klo ke bandara bayar 30 rb. Walaupun saingannya banyak tapi penumpangnya juga banyak.
Yang menyedihkan di kota ini adalah toko bukunya beneran parah buanget, sejajar deh sama kota2 di pedalaman sumatra sana. Jangan harap bisa dapat novel baru, majalah tempo aja paling cepat didapat 3 hari setelah terbit di Jakarta. Hahaha... menangislah kau...! Toserba ada beberapa buah, yg paling ngetop ada 4-5. Tapi itu juga dengan isi yang ga beda jauh sama kelasnya Alfa-mart atau Indomaret. Jangan kata cari produk yg ajaib, produk yang lazim ada di toserba Menado mungkin ga akan didapat di sini. Aku aja sampai bela2in beli kapas muka di Jakarta beberapa bungkus untuk persediaan, remeh temeh sih, tapi essensial, hahahaha.
Enaknya tinggal di pulau ini adalah bebas dari khawatir copet. Hanya di kota ini kita bisa pakai ransel sewajarnya (di punggung) saat jalan2, kalau di jakarta si ransel harus pindah ke depan, kecuali kita telah mengamankan dompet dan hp di tas kecil lain. Hal lainnya karena ga ada macet, hal ketiga karena langitnya masih biru. Karena tingkat alergiku yang tinggi terhadap debu, maka hidup di daerah yang polusi udaranya rendah ini lumayan membantu.
Sayang alam yang indah ini dikotori warganya yang menganggap laut sebagai tempat sampah besar. Buat mereka lebih mudah melempar sampah ke sungai yang ada di belakang rumah dan bermuara ke laut dibandingkan membuang sampah di tempat yang sudah disediakan. Hal ini berkaitan juga dengan malasnya mereka berjalan kaki. Walhasil beberapa pantai sering terlihat menyebalkan dengan hiasan sampah plastik yang mengapung di permukaannya.
Demikianlah Ternate, yang pernah memiliki kerajaan yang bisa menjajah sampai ke daerah leher burung papua.
Hmm, terus terang aku sendiri malas menjelaskan seperti apa Ternate itu pada orang2. Karena aku ga tau mau mengklasifikasikan ternate kedalam apa. Kota? Kota Pulau? atau.... Kota Kecamatan? hahahaha. Sementara ini Ternate masih berstatus ibu kota dari propinsi Maluku Utara. Tapi tidak lama lagi ibu kotanya akan dipindahkan dan Ternate tertinggal menjadi kota Ternate saja.
Gunung Gamalama adalah pusat dari Ternate. Penampakannya seperti muncul dari bawah laut dan tidak menyisakan banyak pantai datar luas. Pantai yg sa-uprit itu langsung mendaki ke pusatnya sang Gamalama. Walhasil penduduknya menempati daerah pantai melingkar di kaki gunungnya. Walaupun puncaknya diatas 1000 m dpl tapi udara dingin sama sekali tidak terasa di sini. Tapi lucunya hampir tidak ada kemarau berkepanjangan seperti di pulau jawa. Kepulauan Maluku (termasuk Maluku Utara) diberkahi dengan turunnya hujan sepanjang tahun. Di musim kemarau yang paling panaspun hujan akan turun lebih dari sekali dalam sebulan. Mungkin iklim mikro dari pulau-pulau kecil yang bergunung dengan lautan di sekelilingnya akan membuat siklus iklim yang ramah penduduk. Persis seperti di pelajaran geografi di SMP dulu tentang pembentukan awan dan hujan.
Penduduk yang berjumlah 180 ribuan tidak membuat sesak pulau ini. Transportasi utama adalah angkot (pete2, atau apapun namanya) akan mengantarkan penumpang ke berbagai penjuru pulau, ada armada taksi argo(30-an taksi), taksi gelap, andong dan ojek, sedangkan ke pulau sebelah bisa pakai speedboat atau kapal laut untuk tetangga yang jauhan.
Biarpun kecil ternyata armada ojek di Ternate ini adalah kelompok ojek terbesar di Indonesia (katanya, entah siapa yg bilang, tp aku malas banget mengkonfirmasinya, ga penting sih). Ga heran sih kalau jumlah ojeknya sangat banyak karena orang2 di sini malas untuk jalan kaki. Aku sampai speechless karena ada ibu yang naik angkot untuk jarak 20 meteran saja. Bayangkan! Jalan kaki kayaknya lebih cepat deh. Karena itu setiap kali jalan pasti kita akan diklakson sama oujyek2nya cinlou. Sehingga kalau pada ga punya uang, banyak cowok2 yang alih profesi ke ngojek, lumayan jarak dekat 4000, jarak jauh sih tergantung, misalnya klo ke bandara bayar 30 rb. Walaupun saingannya banyak tapi penumpangnya juga banyak.
Yang menyedihkan di kota ini adalah toko bukunya beneran parah buanget, sejajar deh sama kota2 di pedalaman sumatra sana. Jangan harap bisa dapat novel baru, majalah tempo aja paling cepat didapat 3 hari setelah terbit di Jakarta. Hahaha... menangislah kau...! Toserba ada beberapa buah, yg paling ngetop ada 4-5. Tapi itu juga dengan isi yang ga beda jauh sama kelasnya Alfa-mart atau Indomaret. Jangan kata cari produk yg ajaib, produk yang lazim ada di toserba Menado mungkin ga akan didapat di sini. Aku aja sampai bela2in beli kapas muka di Jakarta beberapa bungkus untuk persediaan, remeh temeh sih, tapi essensial, hahahaha.
Enaknya tinggal di pulau ini adalah bebas dari khawatir copet. Hanya di kota ini kita bisa pakai ransel sewajarnya (di punggung) saat jalan2, kalau di jakarta si ransel harus pindah ke depan, kecuali kita telah mengamankan dompet dan hp di tas kecil lain. Hal lainnya karena ga ada macet, hal ketiga karena langitnya masih biru. Karena tingkat alergiku yang tinggi terhadap debu, maka hidup di daerah yang polusi udaranya rendah ini lumayan membantu.
Sayang alam yang indah ini dikotori warganya yang menganggap laut sebagai tempat sampah besar. Buat mereka lebih mudah melempar sampah ke sungai yang ada di belakang rumah dan bermuara ke laut dibandingkan membuang sampah di tempat yang sudah disediakan. Hal ini berkaitan juga dengan malasnya mereka berjalan kaki. Walhasil beberapa pantai sering terlihat menyebalkan dengan hiasan sampah plastik yang mengapung di permukaannya.
Demikianlah Ternate, yang pernah memiliki kerajaan yang bisa menjajah sampai ke daerah leher burung papua.
Monday, November 10, 2008
Perhaps Love
Country Road, Annie's Song, Leaving on a jet plane, dikenal banyak orang di Indonesia sebagai musiknya John Denver. Musisi yang ~seenaknya~ diklasifikasikan sebagai penyanyi country. Padahal kalau dibandingkan sama lagu2nya Reba McIntyre beda banget. Jadi aku lebih senang mengklasifikasikan lagunya ke golongan alternatif.
Dari album the essential of John Denver baru aku tahu bahwa lagu2nya tidak ada nada minor, semuanya mayor. Hal lainnya dia bisa menyanyikan kata cinta dengan elegan dan hangat, bahkan lagu patah hatinya saja jadi sangat indah didengar. Juga sangat kental dengan semangat enviromentalist. Kelebihan lain karena lagu2nya bisa melewati batas generasi dan waktu, kapan saja didengarkan masih bisa uptodate dengan permasalahan masa kini.
Favoritku justru lagu Perhaps Love, For You & Follow me yg tidak begitu dikenal di Indonesia. Lirik2nya ga nahan banget deh. Ada juga saat aku bosan dengan John Denver, tapi selalu kangen lagi ingin mendengarkan. Perhaps love...
Dari album the essential of John Denver baru aku tahu bahwa lagu2nya tidak ada nada minor, semuanya mayor. Hal lainnya dia bisa menyanyikan kata cinta dengan elegan dan hangat, bahkan lagu patah hatinya saja jadi sangat indah didengar. Juga sangat kental dengan semangat enviromentalist. Kelebihan lain karena lagu2nya bisa melewati batas generasi dan waktu, kapan saja didengarkan masih bisa uptodate dengan permasalahan masa kini.
Favoritku justru lagu Perhaps Love, For You & Follow me yg tidak begitu dikenal di Indonesia. Lirik2nya ga nahan banget deh. Ada juga saat aku bosan dengan John Denver, tapi selalu kangen lagi ingin mendengarkan. Perhaps love...
Monday, November 03, 2008
Bom apa kompor mleduk, wahahahaha...
Ternate kembali bergejolak dan memanas suasana politiknya, setelah semalam 3 bom mengguncang pulau mungil ini. Hahaha, hiperbola. Iya semalam aku tidur terganggu, tapi oleh keberisikan tetangga2. Buset deh, malah ga kedengeran sama sekali bunyi bom mleduk itu. Padahal pas jam yg sama aku terbangun untuk ngurusin air yg baru ngocor tengah malam. Bah, sengsaranya.Siangnya memang ada demo sih, preman pasar yg pada jalan. Tapi mereka berdemo di kantor gubernur sih dengan tema utama mengungkit kembali "kekalahan" AGAR melobby SBY. Huahahaha... kocak banget deh. Padahal sebagian besar orang yg hidup disini cuma melirik sebelah mata aja deh. Segitu ga ada kerjaannyakah mereka? Enakan menikmati sore hari di salah satu kafe sambil makan goreng pisang dan kasbi plus kelapa muda. Eeeh, ada pelangi tuh... Indah ya...
Saturday, November 01, 2008
Hectic Week
Dimulai sejak sabtu minggu lalu, jam tidurku kena discount besar-besaran, sale 70% deh. Tiada bukan dan tiada lain karena perlu menyiapkan rakor untuk membuat draft rencana tahunan 2009 di tingkat prop. Dengan mitra pelaksana yang agak payah mutunya, terpaksa bercucuran darah dan air mata untuk membuat kegiatan ini sukses. Halah bahasanya bombastis, rek.
Minggu ini juga diawali dengan hari2 dibawah guyuran hujan hampir 24 jam, sehingga sempat berjibaku melintasi laut yang bergelombang tinggi. Untung jarak pendek saja, kalau jarak panjang ga terbayang betapa stressnya. Baru kali ini aku merasakan gelombang yang cukup tinggi, tiga meterkah.. atau lima meter...? Entahlah, tapi serasa naik kora-kora gratis dah. 10 menit bo, di dufan berapa menit ya? hihihihi. Mana hari sudah magrib, sempat juga kusesali keputusan memaksa pulang, kenapa ga nginep aja ya?
Dilanjutkan dengan mempersiapkan rakor yg surat undangannya terlambat disetorkan panitia pada peserta. Senyumanku sudah lenyap dari wajah setiap kali melihat panitia yg bersantai-santai, Tuhan, memang bangsaku ini ga tahu mana prioritas deh. Terpaksalah kita back-up full, dan hasilnya, mereka juga yg dapat pujian dari bos2 yg datang. Huh... ga tahu aja siapa yg berdarah-darah dibelakang.
Sialnya, di tempat kos mendadak dangdut air kok macet. Huwaaaa... nangis bombay dah gw akhirnya mandi di kantor saja. Bangun tidur ku terus ke kantor tanpa gosok gigi, gosok giginya di kantor aja... jangan diikuti yaa...
Akhirnya, aku merasa layak diriku ini mendapat reward... hahaha... kerja sendiri, ngasih reward sendiri, kayak orang bego aja. Tapi layak dong aku mentreat diriku sebelum mulai lagi 3 hectic weeks in November.... Mudah2an stamina mendukung...
Minggu ini juga diawali dengan hari2 dibawah guyuran hujan hampir 24 jam, sehingga sempat berjibaku melintasi laut yang bergelombang tinggi. Untung jarak pendek saja, kalau jarak panjang ga terbayang betapa stressnya. Baru kali ini aku merasakan gelombang yang cukup tinggi, tiga meterkah.. atau lima meter...? Entahlah, tapi serasa naik kora-kora gratis dah. 10 menit bo, di dufan berapa menit ya? hihihihi. Mana hari sudah magrib, sempat juga kusesali keputusan memaksa pulang, kenapa ga nginep aja ya?
Dilanjutkan dengan mempersiapkan rakor yg surat undangannya terlambat disetorkan panitia pada peserta. Senyumanku sudah lenyap dari wajah setiap kali melihat panitia yg bersantai-santai, Tuhan, memang bangsaku ini ga tahu mana prioritas deh. Terpaksalah kita back-up full, dan hasilnya, mereka juga yg dapat pujian dari bos2 yg datang. Huh... ga tahu aja siapa yg berdarah-darah dibelakang.
Sialnya, di tempat kos mendadak dangdut air kok macet. Huwaaaa... nangis bombay dah gw akhirnya mandi di kantor saja. Bangun tidur ku terus ke kantor tanpa gosok gigi, gosok giginya di kantor aja... jangan diikuti yaa...
Akhirnya, aku merasa layak diriku ini mendapat reward... hahaha... kerja sendiri, ngasih reward sendiri, kayak orang bego aja. Tapi layak dong aku mentreat diriku sebelum mulai lagi 3 hectic weeks in November.... Mudah2an stamina mendukung...
Subscribe to:
Posts (Atom)


