Tuesday, June 23, 2009

Pulang ke kota kelahiran.

Pilpres tinggal 14 hari lagi..., sapa seorang penyiar radio lokal di kota yg saya tempati ini. Seperti diingatkan saja, saya berencana cuti minggu itu dengan alasan mau mengikuti pemilu di kota kelahiran. Alasan yang paling masuk akal karena toh KTP saya masih disana, walaupun sudah lama tidak saya kunjungi.

Hmm, pulang............! Kenangan menyerbu saya, tidak terlalu istimewa dan juga sudah banyak tempat yang berubah. Tapi kali ini saya ingin pulang untuk menyusuri kota di pagi hari dan melihatnya dari balik kamera. Rasanya akan banyak objek-objek menarik untuk diabadikan.

Pulanglah..., ibunda pun turut merayu, senang karena satu anaknya yang keseringan datang ke Jakarta tapi tak pernah menyempatkan diri singgah ke Bandung~kota kelahirannya, berencana mengambil cuti agak panjang. Suasana rumah akan berbeda kalau orang jauh datang, lanjutnya. Phew, saya sudah menjadi orang jauh, padahal belum keluar dari batasan NKRI ini. Jadi di mana semangat persatuan dan wawasan nusantara itu?

Tak usahlah kita diskusi hal yang tidak penting itu. Boleh kan sekedar kembali ke kota tempat dibesarkan dan menggauli sudut-sudutnya lagi dengan akrab. Masihkah kota itu mengingat diri saya?

Monday, June 01, 2009

Berhenti sejenak dan menengok ke belakang

Kalau hidup adalah sebuah perjalanan, kadang kita membutuhkan waktu untuk berhenti sejenak dan menegok ke belakang. Di titik ini terlihat warna-warni kehidupan kita. Saya yang sering lurus dan meninggalkan semua masa lalu, kali ini mencoba berhenti dan merenung.

Tangan sayapun bergerak mengetikkan sejumlah nama di fasilitas jejaring sosial dan menemukan berbagai nama yang akrab di kehidupan saya bertahun-tahun yang lalu. Kehangatan dan keakraban yang dulu pernah ada, saya coba untuk dirangkai kembali. Ternyata sayalah si anak hilang, yang mengembara jauh dari komunitas yang dulu dibangun. Tetapi doa yang dulu pernah saya panjatkan kepadaNya, membawa kembali beberapa sahabat lama saya ke masa kini. Doa yang seperti mesin waktu.

Masa lalu seperti sebuah kotak yang telah lama terlupakan. Sortirlah isinya, mungkin kita akan terkejut mendapatkan beberapa benda berharga didalamnya, seperti ....sahabat sejati. Jarak dan waktu telah tercipta tetapi ada beberapa orang yang telah ditakdirkan menjadi sahabat sejati dan merekalah harta tak ternilai itu.

Thursday, May 14, 2009

Piama kok dipakai belanja?

Pertanyaan yang bikin garuk2 kepala diajukan oleh anak internship yang baru pertama kali datang ke Indonesia adalah "Saya heran kenapa orang-orang tidak malu pakai piyama di jalan atau belanja?" Mulanya bengong, dimana ada orang pake piyama jalan dan belanja? karena dalam bayangan saya piyama itu baju tidur garis2 doang, padahal kan semua baju di bagian baju dalam yg dipake untuk tidur dengan bahan dari kaus dan gambar2 cute dengan warna pastel juga disebut piyama... Hahahaha... I see. Tapi tetep sulit menjelaskan perbedaan budaya itu.

Saya tidak bisa membayangkan reaksinya seandainya dia tahu bahwa di desa yang belum ada listrik di pelosok Sukabumi (thn 1998-2000), orang beli lemari es untuk menyimpan baju atau memakai pispot (yg bentuknya kayak belanga) untuk menyajikan sayur... huahahaha... aku aja bingung ngeliatnya.

Kalah pemilu kok ngotot?

Yahoo.co.id hari ini menurunkan berita bahwa Amin Rais marah karena SBY cenderung memilih Budiono menjadi cawapresnya sebagai upaya untuk bersikap netral terhadap koalisi partai. Juga dibahas komentar Tifatul Sembiring yang tidak kalah lucunya terhadap pengajuan cawapres ini (liat aja sendiri di news yahoo.co.id hari ini 14 Mei 2009).

Tampaknya partai-partai dengan perolehan suara kecil itu tidak merasa dirinya kalah. Seolah mereka pemenangnya sehingga merasa tersinggung atas upaya SBY dalam merekrut wakilnya dalam pemilu presiden 2009 yang bukan berasal dari partai. Terkesan partai-partai tersebut sangat maruk dengan kekuasaan eksekutif. Ada apa dengan kekuasaan eksekutif itu? Mengapa mereka begitu berminat untuk menjadi cawapres. Kita sama-sama tahulah apa yang diincar oleh partai2 yang kalah itu dalam upaya mendapatkan kekuasaan eksekutif.

SBY bukan orang bodoh yang akan membiarkan dirinya disetir lagi oleh wapres berdasarkan koalisi partai bukan? Itupun seandainya SBY yang terpilih lagi. Yg terbayang nanti saat dilakukan pemilihan mentri cabinet, hal yang sama pasti terulang lagi. Baru jadi cawapres aja udah diributin, kapan sih belajar dewasanya?

Percuma dengan semua status akademik yang mereka sandang yang menunjukkan bahwa mereka adalah orang2 bijak dan pintar di negri ini, tetapi mata mereka sudah tertutupi oleh nafsu memerintah. Dan dengan segala macam retorika mereka saat melakukan kampanye tidak berhasil memukau rakyat untuk memilih calon dari partai mereka. Rakyat berkata lain, 46 juta suara untuk golput menunjukkan kebosanan rakyat akan semua ulah parpol tersebut. Dan kemenangan Demokrat yang walaupun tidak telak tapi menggungguli semua partai lain, menunjukkan Demokratlah sang juara. Tidak dapatkah para begawan yang katanya arif bijaksana, pintar dan penuh wawasan itu mengerem nafsunya untuk mengomentari setiap tindakan SBY yang dinilai tidak menguntungkan partai mereka.

Mengapa mereka tidak puas dengan status mereka yang masih bisa duduk mewakili di DPR/MPR. Bukankah PAN dan PKS pernah menjabat pimpinan MPR/DPR, kenapa selama masa itu mereka tidak bisa menciptakan lembaga legislative yang punya charisma dan wewenang yang bersih. Buktinya semakin kini semakin buruk kinerja lembaga legislative kita, dan rakyat banyak yang tidak percaya lagi dibuktikan dengan 46 juta suara golput.

Jadi tolong, bersikaplah bijak, jangan mengumbar emosi hanya karena anggota parpol anda tidak ada yang dipilih oleh SBY menjadi wapres. Pikirkan bagaimana membuat Negara ini bisa meningkatkan status kesejahteraannya dan bukan sekedar bermain politik mencari kekuasaan saja. In my point of view kalau udah kalah ga perlu ngotot lah untuk memegang tampuk eksekutif, jalankan saja peran legislative sebaik-baiknya, dengan begitu rakyat malah akan bersimpati.

Saturday, April 25, 2009

Jari-jari menari

Salah satu tes kalau mau jadi sekretaris adalah kemampuan mengetik berapa kata/huruf per menit. Apakah sekarang masih menjadi persyaratan ga ya? Kalau diukur mungkin kecepatan mengetik saat ini bisa lebih cepat dari jaman dahulu. Keyboard kompie kan ga seberat tust mesin tik. 

Buat mereka yang pernah merasakan mesin tik pasti mengerti apa yang disebut dengan mengetik 11 (sebelas) jari, dimana kita akan menekan sekuat-kuatnya tust mesin tik itu supaya dia mau "nakol" pita mesin tik dan menciptakan huruf disana, dengan hanya menggunakan kedua jari telunjuk kita saja. Dan yang paling menyebalkan jika sudah salah tik, makanya jaman dulu tip-ex laku keras, kalau sekarang mungkin sudah kurang laku, karena hanya dipakai untuk mengkoreksi tulisan. Mungkin tidak lama lagi tip-ex akan tinggal menjadi barang kenangan saja.

Kalau melihat film-film Holywood yg berlokasi di ruang sidang, biasanya ada notulen yang tangannya bergerak sesuai dengan kecepatan mulut bicara. Dulu saya kagum sekali dengan mereka, kok bisa ya? Makanya di jaman SMP pada pelajaran ketrampilan pernah juga sih diajarkan cara mengetik 10 jari, dimana semua jari kita berfungsi di tempat yang tepat. Jangan tanya bagaimana cara menghafalnya, karena saya hanya bisa mendapat nilai pas saja untuk tidak merah. Masalahnya jari manis dan jari kelingking saya kekuatannya sangat lemah, jadi ga mungkin mampu menekan tust mesin tik itu.

Masalah hilang setelah kompie mulai menjadi sahabat saya. Bahkan sekarang udah bisa lho ngetik tanpa harus melihat keyboardnya lagi. Asal menggunakan laptop atau kompie yg familiar. Walaupun letak huruf QWERTY sama di semua keyboard, tapi jarak antara tust nya kadang berbeda yang membuat perkiraan jarak jari meleset. Apalagi kalau menggunakan laptop EEE, ampun dah, rapat banget... hampir dipastikan akan membuat saya frustasi kalau harus mengetik di tempat gelap. Yang paling ideal adalah keyboard macbook, karena jaraknya lumayan, tapi dia tidak punya fungsi klik kanan seperti di laptop biasa. 

Dan sahabat terbaik jari jemari saya adalah Sebastian, the black cool mac book!


Thursday, April 23, 2009

French Style

Kalau habis pulang dari Jawa saya biasa bawa stock teh Dilmah, Buah-buahan atau Roti. Pengennya sih bawa kopi starbuck, tapi karena jadwal penerbangan kesini selalu tengah malam dan melalui terminal 1 pula, keinginan itu selalu terpendam di dalam hati. Terpaksalah memuaskan diri hanya dengan minum kopi instan nescafe, yg rasanya ga keruan itu.

Setelah tahu dengan French Press, mulai kepikiran untuk beli kopi bubuk dan menikmati kopi enak ala Perancis. Apalagi rumah ortu di Bandung, bego banget kalau ga punya stock kopi enak dengan harga ekonomis KOPI AROMA! Jadilah saat terakhir pulang kampung sengaja jalan ke Banceuy dan beli satu ons kopi (banyak lho) mana harganya hanya 10.500 karena beli yg jenis Robusta. Dan praktek di Ternate sini... Voila, jadilah secangkir kopi enak dan mantap....!

Kenikmatan kopi ini memang tiada duanya. Dan dibutuhkan "pengetahuan tinggi" (hehehe) untuk membawa sedikit kenyamanan ke pulau yang jauh dari kenyamanan yg ditawarkan Jakarta. Dan yang lebih penting lagi karena rasa oke dengan harga hemat. Sekarang tak lagi termimpi-mimpi atau kangen dengan kopi Starbuck, termasuk saat sedang di Jawa... Kopi racikan sendiri ternyata enak juga

Wednesday, April 22, 2009

HP yg bisa disentuh

Di kota/pulau ini, jati diri ditunjukkan dengan hp yg dipakai. Jadi yg dijual sebagian besar adalah HP canggih punya. Biarpun di sini ga ada 3G, tapi Nokia N series bukan barang yg sulit dilihat. Bahkan pernah juga ngeliat tante2 jalan dengan memakai blue tooth dan mengobrol urusan ga penting.

Sore ini aku lebih terkejut lagi, saat seorang ibu kenalanku menelpon, minta tolong disetting Black berrynya - gubraakkkk... perasaan tante satu itu ga punya email deh. 

Gini ngobrolnya:

" Hallo tante, ada apa nih?" saat aku menerima telponnya

" Ada dimana dek?" - and gw boong bilang lagi di luar kota

"....................kenapa memangnya tan?"

"Ini ... saya baru beli black berry bold, itu yg bisa DISENTUH...., nah kata si X (anaknya) suruh tanya adek aja, dan minta bantu disetting supaya bisa SMS sama X..., kLu bisa disetting ke bahasa indonesia aja!" 

Nah lho, BBB yg bisa disentuh katanya, huahahaha... baru ngeh setelah sedikit mikir ooo... screen touch toh? Dan buat dipakai SMS, omg-omg...

"Aduh, tante saya BB saya dulu disettingin sama yang jual, pake provider apa? Minta disetting aja ke providernya..."

"Pake simpati..." aku bengong, karena baru sadar, ternyata BB bisa ya pake simpati - astaga aku ga gaul banget. Selama ini kupikir cuma bisa pake Matrix atau Hallo atau XL yg langganan aja.

Bayangkan, aku beli BB justru untuk supaya bisa tracking email, klo nggak sih ngapain beli hp mahal2. Dibawah 2 juta jg udah lumayan oke buatku. Dan ini Black Berry Bold yg di jakarta aja seharga 8 juta keatas, cuma untuk dipakai telp dan sms-an... sayang banget featurenya banyak yang ga kepakai. Ga kebayang aja klo iphone udah mulai ngetop di Indonesia, mau diganti dengan iPhone? Menurutku daripada beli BBB mending si tante beli Nokia N71 misalnya. Tapi begitulah kenyataanya, yg penting klo dipake nelpon dan orang tanya bisa dijawab dong

"oh ini blekberi bold, yg bisa disentuh layarnya, mahal lho dijakarta aja udah 8 juta"

Dan aku ketawa sambil sirik hihihihihi

Monday, April 20, 2009

Legu Gam

Ada acara tradisional di Ternate yg namanya Legu Gam, artinya ...? Ga ada yg bisa menterjemahkan dengan jelas, mungkin karena yg aku tanya semuanya bukan orang asli sini, tapi pendatang yg sudah lama tinggal di Ternate. Tapi peristiwa ini adalah perayaan ulang tahun Sultan Ternate yg sekarang, Mudaffar Syah. Tahun ini dirayakan 2 minggu katanya, dengan biaya sebagian dari PEMDA, karena sudah dijadikan event lokal.

Sudah direncanakan dari awal minggu mau mantengin acara itu, tapi tahun ini juga masih belum menjadi keberuntunganku, karena mendadak dari pagi hujan turun deras banget. Nyuk, mana mau aku mengorbankan kameraku, jadi kubatalkan pergi nonton. Dan pagi ini di koran aku melihat foto acara pembukaannya. Heh...? Bagaimana bisa, bukannya hari itu hujan turun seharian? Temen sekantorku malah dengan terang-terangan menuduh pawang hujan sengaja meniup awan ke bagian kota tempat kami tinggal. Beuuu... klo tau begini....
mungkin aku bakalan paksakan aja keluar rumah hari itu.

Walaupun tidak sekeramat kesultanan Jogja, tapi mistis memang tetap melingkupi kesultanan Ternate ini. Misalnya ada mahkota raja yang harus dipotong rambutnya setahun sekali dengan upacara tertentu. Hiih... yg kayak gini mah emoh ngeliatnya. Katanya di mahkota itu ada rambutnya dan tetap tumbuh/hidup, sehingga setahun sekali mesti ada upacara potong rambut. Trus mahkota itu juga yg akan menentukan siapa Sultan berikutnya~ hehehe, sedikit mirip topi di sekolahnya Harry Potter deh~ yaitu dia yang pas memakai mahkota itu (ga melorot atau kekecilan-yg ini mirip dengan cinderella dan sepatu kacanya).

Trus Sultannya sendiri diyakini punya kemampuan magis. Bagi masyarakat asli ada kepercayaan bahwa sakit mereka sembuh kalau bisa melihat atau menjabat atau jika minum air yg sudah didoakan sultan. Ga mau comment lah, karena kepercayaan kayak gini bukan hanya menyerang warga ternate, tapi hampir di semua budaya di Indonesia. Kekuatan supra natural sultan inilah yg membuat Sultan Ternate unggul dibandingkan sultan2 lainnya di Maluku Utara. Di wilayah ini masih banyak sultannya lho, kesultanan Tidore, Jailolo dan Sula, and nantinya akan nyambung dengan masyarakat yg ada di wilayah prop Maluku. Tapi tetep yg paling ngetop adalah Sultan Ternate ini, sebelas-duabelaslah dengan Ponari, hehehe Nyuk, apa coba maksudnya?

Tapi mungkin sabtu depan cuaca bagus, dan aku akan coba2 datang ke sana, siapa tahu bisa hunting foto bagus, misalnya lagi ada acara Bambu Gila. Lumayan kan, bisa nyoba2 fungsi Zoom dari kameraku, dengan catatan tidak berada terlalu dekat dengan si Bambu, kecuali bersedia menanggung resiko kena sambit. Mudah-mudahan....