Saturday, April 07, 2007

PANTURA

2 minggu yang melelahkan. Berpindah dari satu kota ke kota pantura lainnya. Meminta dengan baik-baik, merayu, memelas atau menggunakan gaya-gaya preman malak dilakukan untuk mendapatkan data dari berbagai dinas instansi. Ada yang berhasil, tapi tidak kurang yang gagal. Tujuannya untuk mendapatkan potret yang lengkap tentang kemiskinan di jalur pantura.

Jalur Pantura selama ini hanya aku kenal dari berita-berita saja dan tidak ada satupun yang pernah aku kunjungi di alam nyata. Kenyataannya melebihi perkiraan, pergulatan masyarakat melawan sistem untuk mendapatkan perbaikan taraf hidup sungguh mengenaskan. Bukan hanya ketidakpedulian dari pamongpraja setempat, tetapi juga dari anggota masyarakat lainnya yang turut memangsa kaum sendiri. Homo homini lupus, itu istilahnya kalau aku tidak salah ingat.

Kaum tengkulak benar-benar memeras buruh tani bahkan sampai ke tahi-nya *maaf, tidak ada lagi istilah sopan yang bisa dipakai*. Dan mucikari hanya menganggap kaum perempuan sebagai ternak berkaki 2 untuk dijual kepada laki-laki hidung belang. Tidak tahu lagi dimana yang benar mana yang salah. Di beberapa tempat beberapa suara minor dari LSM pembela masyarakat yang termarjinalkan, hilang digerus ombak pantai utara atau deru truk-truk besar yang berderap tak kenal waktu.

Aku hanya mampu terpekur, mensyukuri keadaanku yang masih terjamin, dan menangisi ketidakmampuanku memperbaiki keadaan. Demo2 kaum agama atau lawannya seperti papernas, perdebatan perlu tidaknya pembelian laptop terasa hambar dibandingkan dengan kenyataan pahit yang terbentang dihadapanku. Mobil-mobil mewah Jaguar, Mercedes Benz, BMW yang memenuhi jakarta terasa sangat menyayat melihat kekumuhan yang terbentang di hadapanku. Sungguhkah mereka menyadari betapa banyaknya masyarakat yang tidak beruntung di negara ini?

No comments: