Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Tetap dipuja-puja bangsa
Di sana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Sampai akhir menutup mata
Kusendandungkan lagu itu di tengah kesepian kamar kos-ku. Tiada TV dan jika ingin sekedar berjalan-jalan di kota ini, ruang gerakku terasa sangat sempit, karena kota yang hanya berupa pulau ini tidak menawarkan mall atau toko buku, sungguh beda dengan kota yang telah membesarkan aku sejak lahir di pulau jawa nun jauh di sana. Walaupun hampir semua pelosok nusantara ini sudah kujalani, ini kali pertama aku hidup di daerah kepulauan, tepatnya Maluku Utara. Ternate, sang ibu kota adalah pulau dimana gunung Gamalama menjulang. Aku menjadi sedikit claustrophobic di sini. Keluasan wilayah yang biasa kutempati sungguh kontras dengan pulau yang sekarang kutempati.Timor Barat,Teluk Bintuni di Papua yang luas, Jakarta, Pandeglang, Jogja, Bandung, Sukabumi,Jambi dan Payakumbuh lebih merupakan benua bagiku saat itu.
Tetapi aku bersyukur bisa tinggal dan hidup di daerah ini. Tempat sejarah panjang terbentang. Sebagai orang Indonesia, kesultanan Ternate-Tidore yang pernah menguasai bagian Timur Indonesia sampai daerah kepala burung papua yang sampai sekarang tetap menjadi basis muslim papua, telah kukenal dari pelajaran sejarah Indonesia sejak aku masih di SD. Dan kekayaan pengetahuanku sekarang bertambah bahwa kesultanan di Maluku ternyata bukan sekedar Ternate-Tidore tetapi juga mencakup kesultanan di Jailolo, Bacan dan Sulu, yang bisa dipastikan masih kurang dikenal oleh sebagian besar bangsa Indonesia. Dan masih pula bersambung dengan Banda Neira di Maluku, maupun kepulauan Kei. Tidak begitu heran kenapa ada klan Alkatiri di Timor Leste, karena kesultanan tadi itu juga sempat sampai ke kepulauan nusa tenggara timur.
Seandainya aku hanya mengenal Jakarta dan pulau Jawa, bisa dipastikan sekarang aku sudah sangat desperado untuk bisa mengganti kewarganegaraanku dengan permanent residence di negara lain. Seandainya hanya Jakarta yang aku kenal aku sudah pasti akan sangat membenci negri ini, tidak akan pernah kusenandungkan Indonesia Pusaka dengan nada sayang. Tak kan pernah kutahu betapa indahnya negri ini dan betapa kubersyukur dilahirkan di negri ini. Membela ibu pertiwi tidak boleh diterjemahkan sekedar dari ancaman luar, tetapi justru dari ancaman di dalam. Negri ini sudah dikenal dengan penyakit korupsinya yang sungguh kronis dan pada stadium yang sangat parah. Cukup membuat beberapa persen warganya yang pernah memegang kewarganegaraan ini menjadi sangat malu disebut sebagai orang Indonesia dan menjadi sangat membenci Indonesia.
Di masa aku masih remaja dulu, aku juga pernah membenci negri ini, untunglah pekerjaanku membawaku ke seluruh pelosok negri sehingga bisa mengenali ibu pertiwi yang cantik jelita dan jatuh cinta padanya. Kini aku sungguh mencintai ibu, walaupun jangan pernah berharap aku untuk mau ikut upacara bendera selama negri ini masih dipimpin oleh orang-orang yang masih memafaatkan kekayaan negri ini hanya untuk kepentingan diri dan kelompoknya. Maaf saja, kalau aku harus mengikuti kegiatan yang sungguh munafik itu. Tidak adanya menghormati bendera secara fisik saja, yang terpenting bagiku adalah menghormati dari lubuk hati dengan membuatnya sembuh dari penyakit kronisnya. Aku tahu pandanganku ini juga bukan pandangan yang 100% benar, tapi aku tidak punya cara lain untuk mencintai tanpa mengorbankan idealismeku.
Pernah kujelajahi hutan tropisnya, dimana pohon-pohon besar menaungiku dan siamang bersahut-sahutan dan burung rangkong berkepak kencang persis seperti bunyi helikopter, dan mandi di sungai jernihnya ditemani udang dan suara burung bersahutan. Pernah kunikmati daerah hutan bakau perawannya yang kaya dengan kekayaan lautnya, memandangi hutan sagu dan burung-burungnya yang berbeda dengan di wilayah barat Indonesia, atau dinginnya daerah pegunungan dengan danau prahistorisnya terbentang luas. Pernah juga kujelajahi daerah sabana dengan anginnya yang kencang dan pegunungan karangnya, dimana pohon-pohon lontar berdiri berjajar seperti tentara berbaris. Daerah pantai selatan dan pantai utara Jawa pun kukenal hampir ke sudut-sudutnya, dibeberapa tempat masih menyisakan pemandangan yang belum tercemar polusinya, menikmati sunset di atas karang yang menghadap ke lautan luas, lautan Indonesia, dan malam-malam gelap dimana bulan mati, aku dan beberapa rekan menunggu dan mengintip penyu besar bertelur di pantai Ujung genteng. Dan sekarang aku menikmati akuarium besar kapanpun aku mau di tanah ternate dan tidore. Kalau aku sampai tidak mencintai negri ini sungguh memalukan.
........................
Tempat berlindung di hari tua
Sampai akhir menutup mata
Thursday, October 11, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


No comments:
Post a Comment