2 minggu lalu karena niatnya hanya ke Kinokuniya dan sedikit scanning toko, setelah selesai aku dan temanku nongkrong di Starbuck dan menunggu adik temenku untuk pulang bareng. Berhubung hari Sabtu maka mall pun dipenuhi dengan keluarga-keluarga muda dengan anak bayi dan baby sitternya masing-masing. Ada yang tidak aku mengerti dari ibu-ibu muda di Jakarta ini, mereka amat sangat tidak ingin direpotkan oleh anak2nya sehingga menyewa baby sitter untuk bayinya dibanding mengurus sendiri.
Ada yang lebih mengagetkan lagi, saat membuka FB ada status temanku yg menyatakan senang sudah dapat baby sitter (lebih dikenal dengan istilah si Mbak sekarang ini) tapi cemas takut anaknya akan lebih apet dengan baby sitternya. Dan dibalas oleh temannya yg lain agar tidak perlu cemas karena dia sudah mengalaminya dan bagi anaknya ibunya tetap yg utama.
Okelah jika ibu itu bekerja, aku masih bisa menerimanya, tapi jika hanya ibu rumah tangga saja, apakah sebegitu berat untuk mengasuh anak sendiri. Hal kedua yang bikin mataku sepet adalah pemandangan di mall dimana banyak ibu yang belanja dengan membawa anaknya lengkap dengan baby sitternya. Mungkin pertimbangannya sebagai tanda kemanusiaan untuk baby sitternya supaya bisa jalan2, atau kebersamaan dengan anaknya. Tapi apakah tidak lebih baik untuk membuat waktu itu sebagai waktu private antara ibu dan anak, si mbak biarlah libur dan jalan-jalan sendiri kemana dia suka. Bukankah hal itu jauh lebih manusiawi?
Sanggahan ibu2 pasti karena aku belum punya anak maka belum bisa merasakan. Ahh… usang, itu hanya pembenaran terhadap tindakannya. Ada satu temanku yg bikin aku kagum, pertama dia dengan sukarela memberikan ASI untuk anaknya selama 2 tahun, padahal dia bekerja hanya sebulan setelah melahirkan. Ga ada rasa sungkan pada dirinya untuk memerah ASI di kantor dan menyimpannya ke dalam cool box untuk dibawa pulang. Suaminya juga sangat mendukungnya, dan dari ceritanya kalau malam dia tetap menyusui anaknya langsung. Sempat ketemuan waktu itu dan dia tidak membawa baby sitternya ke pertemuan, dia gendong bayinya sendiri. Dia mampu dan sanggup walaupun dia bekerja.
Jadi apakah si Mbak ini betul-betul dibutuhkan atau hanya kemanjaan semata bagi perempuan di Indonesia saja?
Wednesday, February 25, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


No comments:
Post a Comment