Seperti biasa di perempatan dekat blok m plaza selalu memakan waktu lama menunggu lampu berganti ke warna hijau. Tidak heran kalau para pengamen sangat senang untuk mangkal di sini. Bisa sampai 2 rombongan pengamen masuk dan melakukan performance tanpa metromininya beranjak pergi. Hukum ekonomi berlaku di sini, recehan yang kuberikan semakin sedikit nominalnya karena harus memberikan beberapa kali.
Sabtu sore metromini yang kutumpangi tidak terlalu padat, demikian juga dengan jalannannya. Melalui jendela aku melihat rombongan topeng monyet yang tampaknya bermaksud beristirahat di depan bank di pojokan jalan itu. Walaupun sudah jam 4 sore tapi sinar matahari masih terasa menyengat, tidak heran kalau mereka memilih keteduhan pohon di depan bank untuk duduk sejenak. Salah satu kru topeng monyet tampak memegangi rantai panjang dan sang monyet berjalan di depannya. Aku hitung 5 orang rombongan itu ditambah satu monyet yang menggenapkan jumlahnya menjadi 6.
Jauh di lubuk hatiku terasa tikaman kecil terhadap perlakuan manusia pada hewan. Manusia-manusia yang tidak beruntung dalam masalah rejeki, tapi haruskan memperbudak hewan hanya untuk memenuhi kehidupan mereka. Dalam pikiranku berkilasan bayangan siamang-siamang dan monyet-monyet yang bergelantungan riang dari pohon ke pohon di hutan. Sedangkan monyet itu terampas kebebasannya dan menjadi budak manusia
Bapak yang memegang rantai monyet itu kemudian duduk dan…. Tak diduga-duga melepaskan rantai panjang yang selama ini mengikat monyet. Sang monyet pun ikut duduk beristirahat… si bapak membelai monyetnya seolah ingin mengobati kepegalan monyet itu. Tanpa terasa mulutku tersenyum, karena monyet itu langsung merebahkan dirinya, seperti sangat kecapekan, perutnya digelitiki majikannya dengan penuh sayang. Senyumku makin melebar tak dapat kutahan lagi, syukurlah ternyata monyet itu masih mendapat perlakuan manusiawi. Sayang aku tak membawa kameraku sehingga tidak bisa mengabadikan pemandangan itu dalam foto, tetapi dalam kenanganku akan selalu ada bayangan bahwa manusia di Indonesia ternyata ada yang masih berhati nurani, bahkan pada mahluk yang dia kuasai.
Seperti biasa hal-hal yang menyentuh nurani masih dilakukan oleh masyarakat kecil dan bukan oleh para petinggi. Sayangnya kelompok elit (petinggi atau orang-orang mampu) di republik ini bahkan sudah tidak punya hati nurani kepada sesamanya manusia yang tidak beruntung dalam posisi maupun kekayaan. Apakah ada majikan yang mau memijati pembantunya di malam hari atau pemilik pabrik yang mau memberikan waktu cuti lebih lama kepada buruh pabriknya? Atau majikan kepada orang-orang gajiannya? Atau pejabat-pejabat eselon tinggi yang akan melayani masyarakat dan bukan hanya ingin dilayani saja. Boro-boro, di republik ini manusia yang memangsa manusia lain sudah tak terhitung lagi banyaknya. Kapan mereka akan sadar bahwa dunia pasti akan berakhir dan kekayaan maupun jabatan bisa menjadi beban di hari pengadilan nantinya jika digunakan tidak semestinya.
Sunday, December 10, 2006
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


No comments:
Post a Comment