
Angkot itu mulai merayap saat mulai menaiki jalan menuju ke desa Gurabunga di Tidore. Kemiringan jalan sepertinya di atas 30 derajat, membuatku merasa ada di dalam roket yang akan berangkat ke bulan - kayak yg udah pernah aja naik roket yak? Aku merasa sedikit cemas dengan posisiku di belakang dan beratku lumayan membebani angkot ini.
Temanku di belakang mulai mewawancarai penumpang di sebelahnya mencari informasi tentang desa gurabunga dan alat transportasi baliknya. Aku lebih senang diam, ini salah satu petualangan, untuk tersesat di sebuah desa di gunung yang ada di P Tidore... Resiko terbesar adalah pulangnya harus jalan kaki, tp dengan sepatu ketsku rasanya ga ada masalah dengan itu.
Excursion ini ternyata tidak sia-sia, karena aku menemukan satu desa yang indah di jaman ini. Aku menyebutnya desa paradiso, yang hanya ada di dalam lagu2nya Ismail Marzuki, tenang, indah dan damai. Tapi tiba2 nada dering hapeku berbunyi, ahhh, ternyata aku masih ada di abad 21.... suara ibuku membuatku tertarik kembali kemasa kini.


No comments:
Post a Comment