Rokok dan pria Indonesia seolah-olah tak terpisahkan. Tak kurang banyaknya bapak-bapak dengan mulut terselip batangan rokok meminta surat keringanan untuk biaya berobat. Padahal seandainya dikoleksi uang tersebut untuk satu bulan bisa terkumpul jumlah yang tidak sedikit. Belum lagi sopan-santun para perokok yang merasa menjadi pemilik negara ini, dengan gaya diraja menghembuskan asap rokoknya dimana-mana, bahkan di ruang berAC.
Apa enaknya merokok? Yup, aku bisa bilang merokok tidak ada enaknya karena sudah kucicipi dari yang light sampai full nikotin. Hasilnya tenggorokanku serak dan pita suaraku lumpuh, mataku memerah, jariku berwarna kuning dan badanku dipenuhi bau asap.
Tetapi tentu saja anjuran untuk mengharamkan rokok akan ditentang habis-habisan. Semua dalil akan keluar dan senjata paling efektif adalah "tidak boleh mengharamkan barang yang halal" dan satu argumen yang diajukan oleh asosiasi para perokok di Indonesia "bagaimana nasib para buruh rokok jika pabriknya ditutup?"
Ya, mereka begitu peduli dengan para buruh pabrik rokok. Wow, begitu luhurnya para perokok tersebut. Sementara di lain fakta bahwa banyak balita di Indonesia yang meninggal dunia karena ISPA dan tidak sedikit yang menderita penyakit saluran nafas kronis. Juga sudah ada korelasi antara BBLR dengan ibu yang perokok pasif. Selain itu juga kematian karena emfisema yang diderita oleh para perokok kronis ini juga tidak sedikit.
Ok, fair saja bahwa dalam Islam rokok bukan barang haram. Tetapi promosi besar-besaran rokok di kalangan remaja dan pencitraan rokok sebagai sarana gaul yang gila-gilaan, bukanlah hal yang tepat untuk terus mendapatkan support. Menurutku yang paling tepat adalah mengharamkan promosi rokok di semua ajang yang dihadiri kelompok usia anak, per definisi kurang dari 18 tahun. Juga mengharamkan promosi rokok di semua sarana olahraga dan televisi di semua jam tayang. Gimana jika promosinya yang diharamkan? Apakah MUI bersedia? Secara... sebagian besar ulama di Indonesia juga perokok....
Tuesday, August 26, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


No comments:
Post a Comment