Setelah ngobrol beberapa saat akhirnya orang itu menyebutku bukan aktivis. Aku tersenyum, memang bukan kalau yang dimaksud dengan aktivis adalah mereka yang melakukan demo kepada pemerintah dan berteriak-teriak meminta perubahan. Atau bersuara lantang terhadap hal-hal yang dianggap tidak sesuai dengan anggapan ideal kita. Tetapi apa yang sebenarnya sedang diperjuangkan oleh kita-kita yang mengaku bergerak di bidang humanis?
Yang aku ingin lakukan dan akan terus aku lakukan adalah membuat perubahan nyata pada keadaan yang aku anggap tidak ideal. Dan aku tidak perduli dengan besarannya. Aku hanya ingin membuat perubahan yang dirasakan manfaatnya bukan hanya oleh diriku tapi juga oleh orang lain.
Ibuku menanyakan kepadaku kenapa aku tetap ingin bekerja di NGO? dan dari mana gajiku berasal? Kenapa ada yang ingin memberikan dana kepada pekerjaan seperti aku? Pertanyaan-pertanyaan yang menuntut jawaban jujur dan mempertaruhkan kredibilitasku. Bagi ibuku tampaknya lebih jujur jika anak-anaknya bekerja di bidang profit yang memberikan kekayaan kepada pemilik perusahaan atau bekerja menjadi pegawai negri yang mengabdi pada negara. Dibandingkan dengan aku yang bekerja atas nama kemanusiaan dengan budget yang didanai oleh LN. Bagi ibuku aku lebih tampak sebagai pengkhianat negara yang bekerja untuk kepentingan asing.
Saat ini tampaknya xenophobia mulai merasuk di kalangan menengah yang berpendidikan perguruan tinggi. Semangat philantropis tampaknya sangat asing di Indonesia, walaupun sejak jaman dahulu kala selalu menggembar-gemborkan tentang budaya gotong royong. Hal yang sangat aneh, karena gotong royong dimaknai lebih kepada donasi tenaga dibandingkan dengan donasi finansial. Padahal seandainya zakat dikelola dengan baik aku rasa akan sangat bisa membantu perekonomian makro negara ini daripada sistem pajak yang mencekik masyarakatnya.
Pada akhirnya aku menjadi sangat terasing di lingkunganku, karena yang aku lakukan semuanya menghancurkan nilai-nilai yang berharga bagi sebagian besar bangsa Indonesia. Karena sebagai profesional aku tidak ingin bekerja dengan menjual jasaku, tetapi lebih senang kalau bisa meningkatkan kapasitas seseorang, sedangkan untuk pertanyaan ibuku, aku merasa lebih berharga memfokuskan semua kemampuanku untuk proyek yang didanai dana asing tetapi digunakan untuk membantu cukup banyak anggota masyarakat yang miskin, daripada banting tulang untuk pemilik perusaan tertentu di bidang profit. Maaf kalau aku idealis. Bagiku uang bukanlah tujuan utama dalam melakukan suatu pekerjaan, nama besar juga bukan, bagiku yag sangat berarti jika bisa mengubah kondisi seseorang ke keadaan lebih baik tanpa banyak omong dan banyak cincong. Walhasil, biarlah aku tetap menjadi alien di bumi nusantara ini, mudah-mudahan karya-karyaku berikutnya akan bisa mengubah kondisi lebih banyak lagi manusia ke keadaan lebih baik.
Monday, June 18, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


No comments:
Post a Comment