Sunday, June 24, 2007

COMRO dan kawan-kawan

Comro singkatan dari oncom di jero alias oncom di dalam. Penganan ini adalah favoritku untuk camilan dibandingkan dengan pisang goreng, tahu goreng atau gorengan lain. Rasanya asin dengan isian oseng oncom yang pedas. Sebenarnya comro tidak sah kalau makannya tidak sampai tersedak kepedasan sampai keluar air mata, hihihi.

Yang paling enak jika isinya tebuat dari oncom asli, bukan ampas tahu yang diragikan. Tentu saja dari segi kesehatan oncom cukup berbahaya untuk hati karena dicurigai sebagai penyebab kanker hati. Oncom asli biasanya terbuat dari kacang tanah yang diragikan seperti membuat tempe. Aslinya akan ada rasa sedikit pahit pada oncom itu.

Berbeda dengan di jakarta yang kulitnya dibuat renyah tetapi lunak, favoritku tetap comro di bandung yang kulitnya dari parutan singkong dengan bumbu ketumbar dan bawang daun, sedangkan isiannya selain dimasukan cabe rawit dan daun kemangi bumbu kencur yang banyak. Kerenyahan yang aku anggap pas untuk mulutku harus disertai kulitnya yang agak kenyal untuk dikunyah jika sudah dingin, pokoknya gusi bisa berdarah deh kalau ngunyah comro, hihihi, pasti seleraku dianggap aneh. Tapi itulah comro sejati, rasa yang kunikmati saat aku di SD dulu. Ada tantangan tersendiri jika kita jajan comro, tapi juga rasanya yang enak membuat makanan ini jadi favoritku. Bahkan di keluargaku rata-rata tidak suka dengan pedasnya yang ga kepalang.

Favorit kedua adalah serabi telur dengan kuah gula. Asli, susah banget bikinnya, belum sekalipun aku sukses bikin adonannya. Padahal buku resep sudah terbentang di hadapanku sebagai referensi. Akhirnya aku lebih senang searching toko kue saja untuk mencarinya. Kadang kutambah dengan membeli putu mayang yang berkuah gula juga. Hmmm, wangi pandan bercampur santan dan gula yang legit manis itu, tak terkatakan deh nikmatnya.

Camilan lainnya adalah ketan bakar berbumbu. Sambalnya ada 3 macam yaitu serundeng, sambal oncom atau sambal kacang biasa. Paling enak kalau ketiga sambal ini disatukan sebagai cocolan ketan bakar, apalagi kalau bakarnya sampai agak-agak gosong, terus dibungkus dengan daun pisang. Jangan langsung dimakan lho, selain masih sangat panas juga nunggu sampai daun pisangnya layu dan akan memberikan harum tersendiri. Ketan bakar ini sangat susah ditemukan di luar wilayah Bandung dan puncak.

Selain camilan makanan favoritku adalah semua yang mengandung lontong atau ketupat. Di cianjur dulu ada ketupat sayur yang enak banget, ajib deh. Sayangnya sekarang tidak bisa ditelusuri lagi keberadaannya karena pasar tradisionalnya juga sudah berubah banyak. Kalau di Bandung aku suka lontong kari, sama juga sudah tidak mungkin aku makan lagi di tempat masa kecilku dulu karena tempat jualannya sudah dibongkar bahkan jauh sebelum aku dewasa. Tetapi masih ada harapan untuk lontong kari ini, karena menurut komunitas jalan sutra, di kebun karet ada yang menjual lontong kari yang enak. Perlu dihunting nih. Selain lontong kari, nasi soto bandung yang bening dan hanya berisi daging, lobak dan kacang kedelai di sebuah warung saat pasar baru masih belum dirombak juga asyik banget, kalau aku dan nenekku mampir di warung itu pasti aku hanya mau makan nasi soto dan es shanghainya saja. Ga ada menu lain yang akan aku cicipi. Yup, itu semua makanan kenangan masa kecilku, masih ada yang bisa aku nikmati, tetapi sebagian besar sudah tidak bisa aku rasakan lagi. Seperti es shanghai, sudah ga ada lagi yang membuatnya seperti dulu. Padahal kalau tetap dilestarikan walaupun harganya mahal pasti banyak yang akan membelinya, gw yakin banget.


Kalau diingat-ingat semua makanan yang jadi favoritku adalah makanan yang biasa aku beli bersama Ene, alias nenekku, orang yang selalu ada disisiku sampai aku remaja, feminis pertama di dunia ini yang aku kenal, tempat aku bermanja dan sekaligus aku takuti.

No comments: