Originalitas menurutku kunci utama kesuksesan. Karya original biasanya dihasilkan oleh manusia kelompok inovator. Kelompok yang sangat kecil sekali jumlahnya di muka bumi ini karena berada di puncak piramid. Lack of originality bahkan lebih kepada pengikut jika sudah menjadi pengetahuan umum menjadi karakter sebagian besar insan seni di Indonesia. Aku hampir tidak bisa menikmati acara-acara yang dikemas oleh pelaku-pelaku seni populer di Indonesia. Contoh paling mudah adalah pembuat film. Hanya segelintir sutradara dan produser film Indonesia yang bisa aku nikmati, seperti Nagabonar jadi 2 atau Arisan. Kedua film ini sama-sama memiliki originalitas yang kuat. Persaingan dalam dunia hiburan tentunya tidak mudah. Banyak faktor berperan di sana. Terus kenapa drama-drama korea, taiwan dan jepang menyenangkan untuk dilihat. Padahal budaya mereka, bahasa mereka sangat tidak aku mengerti. Tetapi mereka selalu konsisten memberikan gambaran budaya keseharian mereka ke dalam filmnya, walhasil membuat film mereka menyenangkan untuk dilihat.
Berbeda dengan karya sineas Indonesia. Sejak awal mereka membuat film selalu dengan pertimbangan agar jualannya laku keras. Dan sikap itu membuat mereka meramu berbagai resep yang ide-idenya dicomot dari film hollywood sampai bolliwood. Jadilah film yang dihiasi dengan sumpah serapah negri paman sam, kegiatan dugem dan rumah-rumah ala pondok indah. Akibatnya tidak ada yang original di sana, yang terlihat hanyalah operasi plastik tambal sulam dari berbagai cerita dan adegan film. Mau nonton yang seperti itu? Kalau aku lebih baik membeli buku dari pada menghabiskan uang menonton film-film yang tidak ada lucu2nya itu.
Monday, June 18, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


No comments:
Post a Comment