Friday, June 06, 2008

Katanya sepakat, katanya

Update tentang situasi politik di satu kepulauan yang tidak banyak penduduknya tetapi menyimpan kekayaan alam yang luar biasa. Hampir satu tahun tidak ada penyelesaian pilkada di Maluku Utara. Opiniku tampaknya pemerintah atau siapapun yang berwenang memutuskan hal ini menghadapi jalan buntu ibarat peribahasa "seperti makan buah simalakama, dimakan ibu mati, tidak dimakan ayah mati".

Propinsi ini memang dikaruniai alam dengan potensi bahan tambang yang cukup menggiurkan. Dengan analisa yang superficial terhadap kekayaan daerah ini, yang penduduknya hanya 2 juta orang saja, bahwa ada kepentingan politik bermain dibelakangnya.

Cagub yang menjadi finalis yang satu didukung partainya presiden RI sedangkan cagub lainnya mengusung bendera partai cawapres. Who knows kalau pemilu tahun 2009 apakah pres dan wapres akan tetap berkolaborasi bersama dan mengajukan diri bersama, atau ada yang ingin mengubah situasi. Yang tampak olehku hanyalah keuntungan materi akan didapat dari perusahaan tambang untuk partai pemenang pilkada gub disini. Analisa ini mungkin salah, tapi hanya itu yang bisa aku pikirkan saat melakukan perenungan terhadap konflik pilkada yang tidak bisa diselesaikan oleh yang berwenang. Apakah mereka tidak memahami bahwa tidak ada kekekalan di dunia ini. Kedudukan, harta dll itu semu belaka.

Dilain pihak masyarakat sudah terbelah opininya, sehingga setiap hari ada saja yang demo untuk protes keputusan terakhir. Sedangkan pres sampai saat ini belum ada tanda-tanda akan menerbitkan kepres penunjukkan, apalagi dengan ancaman impeachment, apakah akan ada yang berani mengubah status quo saat ini? Entahlah.

Jadi hari-hari terakhir ini diwarnai dengan demo, biasanya dilakukan di depan kantor gubernur, yang sudah siap untuk upacara pelantikan gub definitif. Sedangkan bagian kota lainnya hanya menikmati lalu lintas yang macet akibat pengalihan lalu-lintas. Yang beruntung dalam keadaan ini tinggal para pengusaha tenda, karena semakin banyak order-an cagub-cagub yang sengaja memasang tenda untuk kenyamanan pendukungnya berkumpul merencanakan demo.

Walaupun belum sangat chaos, tetapi sudah ada aksi anarkhis seperti pelemparan batu dan pembakaran rumah. Yang lebih ngenes lagi karena saat ini banyak pendukung cagub2 itu yang beraksi tengah malam di saat sebagian besar orang terlelap dan lengah di istirahat malam. Apakah hal ini akan bisa teratasi?

No comments: