Intrik politik itu menarik, semakin misterius semakin bikin penasaran. Aku memang belum lahir saat terjadinya G30S ga pake slash PKI lagi sekarang (udah direvisi sih buku sejarahnya). Tapi terornya bisa diwariskan kepada generasi berikutnya. Apalagi saat mbah Harto masih berkuasa dimana setiap tanggal 30 September pasti akan diputar film G30S itu. Bahkan kunjungan ke Lubang Buaya masih sempat menjadi menu wajib saat dilakukan study tour di SD plus kunjungan ke musium Wangsit Mandalawangi ato musium tentara lain.
Tanpa ada penjelasan yang mencerahkan dan cukup dengan pesan PKI itu organisasi yg berbahaya, laten komunis, haram hidup di Indonesia, Atheis, dllsb yg diberikan oleh nenek dan orangtuaku membuat PKI menjadi salah satu misteri yg harus kubongkar. Nenek dan orang tuaku entah kenapa tidak bisa menceritakan teror yg mereka alami, padahal biasanya mereka suka memberikan penjelasan panjang dan lebar untukku. Menghadapi pertanyaan-pertanyaanku berkaitan dgn PKI, nenek hanya menjawab "kamu akan mengerti sendiri kalau nanti sudah besar". Whua ... malah diberi tantangan, dan aku tidak sabar menunggu sehingga semua hal yg berkaitan dengan PKI aku cari materinya mati2an. Sayang selama Suharto berkuasa tidak ada materi lain selain yg tercatat di buku2 sejarah dan menyisakan banyak pertanyaan. Akhirnya aku menjadi tertari dengan memoir politik Indonesia hanya untuk mencari serpihan2 puzzle dari misteri terbesarku.
Majalah Tempo edisi 17-23 November 2008 ternyata memuat investigasi khusus tentang Syam Kamaruzaman. Ini adalah tokoh teraneh, misterius, dan menjadi kepala biro chusus yg menangani masalah2 intel. Tapi dibandingkan dengan tokoh2 PKI di seantero dunia termasuk yg paling bocor mulutnya. Mungkin PKI bisa dibantai habis oleh Suharto karena Syam ini. Sebelumnya aku juga sudah membaca Cornell Paper-nya Ben Anderson, biografi Suharto, beberapa situs eks Lekra dan memoir eks Lekra, memoir tentang Sukarno yg ditulis oleh anak buahnya dan banyak lagi. Aku jadi lebih percaya dengan teorinya John Rossa ini tentang Syam sebagai biang kerok kegagalan kup PKI di tahun 65. Aneh aja, kalau dilihat sebagian gaya hidup dan arah politik Indonesia saat itu ibaratnya sudah ada dalam genggaman tangan PKI, tapi mereka menghancurkannya dalam sebuah kup yg ga penting. Kebetulan sekali yg mendapat keuntungan adalah Suharto, sosok yg ... you know laa klo mau baca tentang dia.
Yup pada akhirnya aku bisa menerakan label case close dengan investigasi terakhir ini. Yeeah... ga ada lagi nih penasarannya. End. Tutup. Dan tampaknya tokoh2 komunis itu sudah tidak mendapat tempat lagi di masyarakat kita yang sudah sangat materialistis, maruk dan satu fakta lagi para pentolan di jaman itu kalau ga udah meninggal, yg tersisa kan sudah kehabisan tenaga, maklum udah uzur. Seperti juga di China yg tdk lagi punya Mao. Jadi era itu benar2 sudah berakhir sekarang, entah kalau besok2 ada orang yg cukup sinting untuk percaya bahwa ideologi komunis bisa membawa kesejahteraan. Tetap waspada dan pakai akal saja, karena apapun ideologinya tapi kalau ada di tangan yg tidak tepat yg memiliki kekuasaan tidak tepat, akhirnya hanya akan membawa kehancuran saja.
Friday, November 21, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


1 comment:
menurut bola kristal saya, jika keadaan bangsa Indonesia 20 tahun yang akan datang tidak berubah secara signifikan dalam artian terus berada dalam situasi gagal ekonomi dan gagal politik, maka tidak dibutuhkan orang yang cukup sinting lagi untuk menghidupkan ideologi komunis sebagai pedoman hidup bangsa, karena komunisme itu akan hadir secara alamiah sebagai suatu kesepakatan bersama mayoritas anak bangsa yang kecewa dengan nasib bangsa dan tanah airnya..
Post a Comment