Salah satu kakak ibuku (Uwak,bhs sunda = Pakdhe, bs Jw) pernah bertanya pada ibuku seperti apakah Ternate itu. Maklum deh berita tentang Ternate selalu horor: demo-lah yg sampai pakai barikade kawat duri; bom molotov beberapa kali; berita gempa dll. Komplit deh mulai kerusuhan sampai bencana.
Hmm, terus terang aku sendiri malas menjelaskan seperti apa Ternate itu pada orang2. Karena aku ga tau mau mengklasifikasikan ternate kedalam apa. Kota? Kota Pulau? atau.... Kota Kecamatan? hahahaha. Sementara ini Ternate masih berstatus ibu kota dari propinsi Maluku Utara. Tapi tidak lama lagi ibu kotanya akan dipindahkan dan Ternate tertinggal menjadi kota Ternate saja.
Gunung Gamalama adalah pusat dari Ternate. Penampakannya seperti muncul dari bawah laut dan tidak menyisakan banyak pantai datar luas. Pantai yg sa-uprit itu langsung mendaki ke pusatnya sang Gamalama. Walhasil penduduknya menempati daerah pantai melingkar di kaki gunungnya. Walaupun puncaknya diatas 1000 m dpl tapi udara dingin sama sekali tidak terasa di sini. Tapi lucunya hampir tidak ada kemarau berkepanjangan seperti di pulau jawa. Kepulauan Maluku (termasuk Maluku Utara) diberkahi dengan turunnya hujan sepanjang tahun. Di musim kemarau yang paling panaspun hujan akan turun lebih dari sekali dalam sebulan. Mungkin iklim mikro dari pulau-pulau kecil yang bergunung dengan lautan di sekelilingnya akan membuat siklus iklim yang ramah penduduk. Persis seperti di pelajaran geografi di SMP dulu tentang pembentukan awan dan hujan.
Penduduk yang berjumlah 180 ribuan tidak membuat sesak pulau ini. Transportasi utama adalah angkot (pete2, atau apapun namanya) akan mengantarkan penumpang ke berbagai penjuru pulau, ada armada taksi argo(30-an taksi), taksi gelap, andong dan ojek, sedangkan ke pulau sebelah bisa pakai speedboat atau kapal laut untuk tetangga yang jauhan.
Biarpun kecil ternyata armada ojek di Ternate ini adalah kelompok ojek terbesar di Indonesia (katanya, entah siapa yg bilang, tp aku malas banget mengkonfirmasinya, ga penting sih). Ga heran sih kalau jumlah ojeknya sangat banyak karena orang2 di sini malas untuk jalan kaki. Aku sampai speechless karena ada ibu yang naik angkot untuk jarak 20 meteran saja. Bayangkan! Jalan kaki kayaknya lebih cepat deh. Karena itu setiap kali jalan pasti kita akan diklakson sama oujyek2nya cinlou. Sehingga kalau pada ga punya uang, banyak cowok2 yang alih profesi ke ngojek, lumayan jarak dekat 4000, jarak jauh sih tergantung, misalnya klo ke bandara bayar 30 rb. Walaupun saingannya banyak tapi penumpangnya juga banyak.
Yang menyedihkan di kota ini adalah toko bukunya beneran parah buanget, sejajar deh sama kota2 di pedalaman sumatra sana. Jangan harap bisa dapat novel baru, majalah tempo aja paling cepat didapat 3 hari setelah terbit di Jakarta. Hahaha... menangislah kau...! Toserba ada beberapa buah, yg paling ngetop ada 4-5. Tapi itu juga dengan isi yang ga beda jauh sama kelasnya Alfa-mart atau Indomaret. Jangan kata cari produk yg ajaib, produk yang lazim ada di toserba Menado mungkin ga akan didapat di sini. Aku aja sampai bela2in beli kapas muka di Jakarta beberapa bungkus untuk persediaan, remeh temeh sih, tapi essensial, hahahaha.
Enaknya tinggal di pulau ini adalah bebas dari khawatir copet. Hanya di kota ini kita bisa pakai ransel sewajarnya (di punggung) saat jalan2, kalau di jakarta si ransel harus pindah ke depan, kecuali kita telah mengamankan dompet dan hp di tas kecil lain. Hal lainnya karena ga ada macet, hal ketiga karena langitnya masih biru. Karena tingkat alergiku yang tinggi terhadap debu, maka hidup di daerah yang polusi udaranya rendah ini lumayan membantu.
Sayang alam yang indah ini dikotori warganya yang menganggap laut sebagai tempat sampah besar. Buat mereka lebih mudah melempar sampah ke sungai yang ada di belakang rumah dan bermuara ke laut dibandingkan membuang sampah di tempat yang sudah disediakan. Hal ini berkaitan juga dengan malasnya mereka berjalan kaki. Walhasil beberapa pantai sering terlihat menyebalkan dengan hiasan sampah plastik yang mengapung di permukaannya.
Demikianlah Ternate, yang pernah memiliki kerajaan yang bisa menjajah sampai ke daerah leher burung papua.
Wednesday, November 12, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


No comments:
Post a Comment